
Pintu rumah kayu terbuka lebar, suara isak tangis terdengar nyaring dari dalam sana. di sudut ruang tamu kutemui ibu menggigil ketakutan.
Pyaaaar........
(suara dari perkakas di ruang makan)
"Ibu kenapa?" tanya Anna saat menemui ibunya tengah menangis di pojokan ruang tamu.
"Ibu nggak kenapa-kenapa Anna, kamu kemari bersama danial ya?" tanya Ibu Anna sambil mengusap air mata di pipinya.
"Anna sendirian Bu, karena Mas Danial lagi kerja jadi berangkat lah sendiri,"
"Tadi itu suara apa Bu?" tanya Anna begitu penasaran.
"Biasa ulah kucing tetangga tuh yang selalu jatuhkan barang-barang ibu di dapur,"
"Abang kerja ya Bu?"
"Baru saja dia pergi,"
"Ibu yakin baik-baik saja?" tanya Anna.
Seluruh tubuh Ibunya gemetaran, air keringat terus bercucuran di wajahnya.
"Kalau begitu Anna mau ke kamar dulu ya Bu,"
"Kamu di sini ya Anna, ibu mau ke belakang dulu takutnya nanti nggak ada yang jaga di sini kalau kucing itu datang lagi,"
"Iya bu, nggak apa-apa Anna akan tunggu di sini,"
Ibu Anna pun pergi ke belakang, dengan hati yang gelisah.
"Sepertinya Ibu sedang menyembunyikan sesuatu, dan aku harus cari tahu itu !" ucap Anna lalu menyusul ibunya.
Perkakas di dapur berserakan di mana-mana.
"Apa yang terjadi di sini, kenapa barang-barang ini bisa ada di lantai?" tanya Anna memunguti barang-barang yang berserakan di lantai ruang makan.
Anna pun bergegas menemui ibunya untuk menanyakan hal ini, namun ia kembali dikejutkan dengan ibunya yang duduk menangis di kamarnya dengan memeluk sebuah celengan.
"Astaghfirullah, Ibu apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tolong Bu katakan yang sejujurnya pada Anna !" desak Anna pada ibunya.
"Ibu mau minta maaf sama Anna ya, karena selama ini begitu sering membohongi kamu," ucap Ibu memohon pada Anna.
"Bohong soal apa Bu?"
"Kebohongan tentang Abang mu yang sudah bekerja di perusahaan besar,"
"Lalu apa yang menjadi masalah Bu?"
"Karena Ibu waktu itu ngotot supaya bisa melihat kamu bekerja, cari uang sendiri, mau beli apapun juga mampu,"
"Ibu terpaksa harus berkata bohong sama kamu kalau abang mu itu sudah bekerja, tapi nyatanya dia seorang pengangguran yang kerjanya cuma marah-marah, dan selalu memaksa Ibu untuk memberikannya uang," ucap Ibu Anna menahan air matanya jatuh.
"Astaghfirullah,"
"Apa Abang juga melakukan kekerasan terhadap Ibu?"
"Nggak Anna, Ibu nggak mau dia jadi orang yang ringan tangannya,"
"Bagaimana dengan Bapak, apakah sudah tahu tentang semua ini?"
"Ibu mohon jangan katakan apapun pada Bapakmu ya,"
"Ibu, apakah hati Anna ini tega melihat Ibu disiksa seperti ini?"
"Nggak bu, Anna akan beri tahu Bapak soal kelakuan Abang terhadap ibu,"
__ADS_1
"Anna, kalau kamu masih ingin melihat Ibu tolong jangan katakan apapun pada siapapun itu,"
"Hanya Ibu dan kamu saja yang tahu soal ini ya,"
"Tapi Ibu harus berjanji kalau ada masalah apapun itu, atau Abang berulah lagi kabari Anna ya,"
"Iya Anna, terima kasih sudah mau mengerti Ibu," ucap ibu Anna sambil memeluknya.
"Anna mau beres-beres rumah ya Bu, karena sebentar lagi kan Bapak pulang,"
"Iya, Ibu juga mau beres-beres kamar dulu,"
Di sisi lain, Hanin terus bersikap manja pada Danial. Merengek meminta kasih sayang darinya. Padahal dulu dirinya tak pernah menggubris perasaan Danial.
"Hai Sayang, yuk kita jalan !" ucap Hanin saat menemui Danial yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Maaf ya, hari ini aku absen dulu,"
"Ih malas ah, padahal ini jalan-jalan pertama kita loh !"
"Iya aku tahu itu, tapi sekarang ini aku harus ke Bandung,"
"Ke Bandung untuk apa?"
"Tentu untuk menjemput nyonya Danial lah," ucap Arvin yang tiba-tiba ada diantara mereka.
"Kamu tahu kan Han, Danial ini sudah punya istri jadi nggak bisa seenaknya pergi sama kamu,"
"Oh iya, aku tahu kamu ini sahabat Danial yang paling setia,"
"Tapi kamu malah nggak ada di pihaknya, apa itu yang namanya sahabat?"
"Dengar ya, aku memang sahabat Danial bahkan kita sudah seperti keluarga, tapi bukan berarti aku selalu mendukungnya di jalan yang salah !"
"Sudahlah, kenapa jadi ribut gini," ucap Danial mulai kesal.
"Waktu itu kamu juga bilang seperti ini, tapi kenyataannya kamu mengingkari,"
"Segitu mudahnya ya kamu mengucap janji," ucap Hanin lalu pergi meninggalkan mereka.
"Hanin tunggu !" ucap Danial semakin kesal.
"Biarkan saja dia merajuk Dan, daripada Anna yang merajuk?" ucap Arvin lalu pergi ke ruangannya.
Setelah beres-beres rumah, Ibunya menanyakan kabar Danial yang tak ikut bersama Anna.
"Danial nanti jemput kamu kan An?" tanya Ibunya sambil mencuci piring.
"Anna juga nggak tahu bu, karena belum ada kabar darinya," ucap Anna dengan khawatir.
"Jangan cemas, dia pasti datang !"
"Apa Mas Danial sedang bersamanya saat ini ya. Batinnya. Setelah ini kita mau masak apa Bu?"
"Terserah kamu saja,"
Malam hari di langit Bandung yang riuh dengan suara klakson mobil, motor.
"Kenapa bisa macet separah ini sih, pasti Anna begitu cemas," ucap Danial saat mengendarai mobilnya.
"Lebih baik aku naik ojek saja, kalau masih di sini saja bisa mati aku !" ucap Danial lalu keluar dari mobilnya dan mencari tukang ojek.
"Mas, ojek ya?" tanya Danial pada seorang laki-laki yang membawa motor.
"Iya Mas, mau naik ojek?"
"Iya, ini alamatnya Mas," ucap Danial sambil menunjukkan alamat rumah Anna di dalam telepon seluler nya.
"Waduh maaf ya Mas, saya nggak bisa nih nganter ke sana,"
__ADS_1
"Kenapa Mas?"
"Tempatnya jauh, ongkosnya bisa dua kali lipat,"
"Nggak masalah Mas, yang penting bisa antar saya ke sana,"
"Siap kalau gitu Mas, mari naik,"
Tengah Malam Danial baru tiba di depan rumah Anna dengan berantakan.
"Akhirnya sampai juga, ini ongkosnya Mas,"
"Alhamdulillah, terima kasih ya Mas,"
"Iya, sama-sama Mas,"
"Untuk yang pertama kalinya aku di sini tanpa kamu Mas," ucap Anna yang hendak menutup pintu rumahnya. Tiba-tiba ada tangan yang menahannya. Anna pun terkejut.
"Anna, ini Mas," ucap Danial.
"Tadi sempat berpikir kalau Mas nggak mau jemput Anna,"
"Mana mungkin Mas setega itu dengan Anna,"
"Dari mana saja Mas, kenapa baru sampai malam gini?"
"Gara-gara kena macet, lalu harus cari Tukang Ojek dulu dan bisa sampai rumah Anna sekarang,"
"Ibu dan Bapak sudah tidur ya?"
"Iya, mereka lelah menunggu Mas yang nggak juga datang,"
"Kenyataannya Mas memang terjebak macet Anna,"
"Iya deh Mas nanti yang tutup pintu rumah ya, Anna ke kamar dulu," ucap Anna meninggalkan Danial seorang diri di depan pintu rumahnya.
"Bukannya dimanja malah dicerca banyak pertanyaan !" Ucap Danial lalu menutup pintu rumah.
"Mas mau dimanja ya?" tanya Anna mengejutkan Danial.
"Sejak kapan Anna di sini, bukannya tadi bilang mau ke kamar?"
"Nggak jadi, karena Anna memilih menunggu Mas,"
Danial tampak begitu lelah, sampai harus memijat bahunya sendiri.
"Kalau ingin dipijat Anna bilang dong Mas !" ucap Anna meraih tangan Danial untuk dipijat.
"Nggak perlu Anna, Mas bisa sendiri kok," ucap Danial sambil menikmati pijatan istrinya itu.
"Ini kan sudah menjadi kewajiban Anna sebagai seorang istri,"
"Iya tahu, tapi Mas nggak mau dipijat sama Anna !*
"Kenapa, pijatan Anna ini kan lebih terasa dan manjur pasti,"
"Kalau Anna nggak berhenti memijat, Mas mau tidur saja !"
"Oke, tidurlah," ucap Anna memperhatikan Danial yang belum juga berbaring di dipan.
"Anna juga tidur ya,"
"Iya nanti dulu karena Anna masih belum mengantuk nih, mas tidur duluan ya," ucap Anna sambil merapikan rambutnya.
"Tumben dia nggak ikut tidur. Batinnya. Anna jangan tidur terlalu malam ya karena itu nggak baik untuk kesehatan," ucap Danial dengan penuh perhatian.
"Mas tidur duluan, selamat malam," ucap Danial sambil menata bantalnya dan memejamkan matanya.
"Iya Mas, selamat malam,"
__ADS_1