
Sabar menanti kabar
Perasaan yang masih samar.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Anna merasa tertekan, selalu niat baiknya tidak diterima oleh Danial.
"Mas nggak mau berdebat soal ini,"
"Lebih baik Anna istirahat saja, jangan memikirkan hal aneh lagi ya," imbuh Danial, lalu pergi ke kamar.
Secarik kertas tersangkut pada saku jas Danial, Ia duduk lalu membukanya perlahan-lahan, membacanya sambil tersenyum.
"Selamat atas 9 bulan pernikahan kita ya Mas, setiap bangun tidur aku melihat wajahmu di sampingku, pemandangan yang begitu indah, aku tak mau meminta yang lebih cukup kamu selalu mengisi hari-hari ku yang sebelumnya sepi. Dari yang tersayang, Anna Anindira," tulisan dalam kertas tersebut.
Danial melipat surat cinta dari Anna dan menyimpannya di laci.
Arvin datang mengacaukan Danial.
"Aku penasaran dengan apa yang sudah Anna lakukan sehingga buat kamu bisa tersenyum manis seperti ini,"
"Tahu dari mana kamu kalau Anna yang membuatku tersenyum?"
"Lantas siapa lagi, Hanin gitu?"
"Oh iya ngomong-ngomong soal Hanin, kok aku nggak pernah lagi lihat kalian jalan bareng?"
"Entahlah, aku merasa Hanin nggak pernah serius dengan hubungan ini, ia selalu saja menghindar dan hilang tiba-tiba,"
"Pantas selama ini dia sering ambil cuti,"
"Cuti, kamu tahu dia pergi ke mana saat cuti?"
"Kalau aku tahu, sudah pasti aku kasih tahu kamu,"
"Kepala aku terasa pecah kalau memikirkan soal dia, oh iya gimana soal proposal kemarin apa sudah siap?"
"Sudah siap tinggal ditandantangani sama Papa kamu,"
Tirai jendela rumah dibuka, Maira terkejut melihat Fajar sudah ada di depan rumahnya. Ia kembali menutup tirai dan masuk ke kamar.
"Sayang ada apa kok nggak jadi pergi, katanya tadi mau lari pagi," tanya suaminya.
"Mataharinya belum begitu terik, aku buatkan makanan untuk Mas ya,"
Suaminya bertanya-tanya dengan sikap istirnya yang jadi aneh itu.
"Boleh, tapi setelah Mas lari pagi,"
"Jangan, Mas tetap di rumah ya temani aku,"
"Baiklah, Mas temani kamu di rumah,"
Fajar terus memandangi rumah Maira, berharap ia keluar dari rumahnya namun masih saja tertutup rapat.
"Kenapa rumahnya masih tertutup ya, apa dia nggak ada di rumah?"
"Aku telepon dia kali ya untuk memastikannya,"
Melihat handphonenya berdering, ia langsung mematikannya.
__ADS_1
"Telepon dari siapa, kok nggak dijawab?"
"Dari nomor nggak dikenal kok sayang, aku pikir hari ini kamu bisa libur kerja dulu ya Mas,"
"Nggak bisa dong sayang, kita harus bisa mengumpulkan uang untuk biaya persalinan kamu,"
"Aku masih ada tabungan dan kita bisa pakai itu dulu, please Mas temani sehari saja,"
Karena lama menunggu, akhirnya Fajar memutuskan untuk pergi dari sana.
Seorang pria bertubuh standar datang untuk menemui Danial dengan membawa beberapa dokumen ditangannya.
Danial mempersilakan duduk, dan memintanya untuk memulai bicara.
"Perkenalkan Pak, nama saya Erwin dari PT. Karya Mandiri,"
"Saya di sini bertujuan untuk mengajak kerjasama dengan perusahaan Bapak ini,"
"Maaf, kenapa Bapak datang ke saya, padahal pemilik perusahaan ini masih dipegang oleh Bapak Saiful Bahri,"
"Saya kira Bapak pemilik perusahaan ini, karena orang-orang saya bilang kalau Bapak ini sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya,"
Danial tersenyum tipis.
Merasa tersanjung dan bangga.
"Terima kasih Pak, kalau boleh saya tahu kerjasama soal apa ya?"
"Saya lihat perusahaan ini sudah banyak memberikan manfaat di luar sana, membuka lapangan kerja baru seperti membangun proyek pembangunan di daerah-daerah,"
"Untuk itu saya mau bekerja sama untuk membangun sebuah proyek pembangunan di daerah yang sangat strategis,"
"Bapak bisa menjadi Direktur Utama di perusahaannya sendiri,"
"Maksudnya, saya bisa membangun perusahaan sendiri?"
"Benar sekali, bagaimana apakah Bapak setuju dengan kerjasama ini?"
Tanpa panjang lebar memikirkannya, Danial menyetujui hal itu.
Karena dia pikir ini adalah sesuatu yang sangat menguntungkannya.
Ia juga sadar pasti Papanya suatu hari nanti akan memberikan perusahaannya untuk Elvira.
Setelah berhasil membuat Danial menyetujuinya, laki-laki itu pergi menemui Tulus.
"Bagaimana, apakah berhasil?"
"Tentu saja Pak, dia begitu excited dengan kerjasama itu !"
"Sudah aku duga, Danial nggak akan menolaknya kan?"
"Kamu benar, dia memang orang tamak !" ucap Anggun dengan raut wajah liciknya.
"Pantas saja dia nggak pernah merasa cukup dengan satu wanita,"
Dari pagi sampai malam Anna terus berusaha menghubungi Maira, namun tidak juga dijawab. Ia begitu khawatir, dan meminta izin untuk menemuinya.
"Mas, Anna mau izin pergi sebentar ya,"
"Mau bertemu Maira?"
__ADS_1
Anna terdiam sesaat.
"Iya Mas, karena sedari tadi belum ada jawaban dari Maira dan Anna takut terjadi sesuatu dengannya,"
"Bukankah Mas sudah bilang untuk jangan lagi memikirkan soal ini, tapi kenapa Anna masih saja melakukanya?"
"Mas tolong ya sekali ini saja bantu Anna,"
"Kasihan Maira bila harus menghadapi sikap Bapaknya yang terus memaksanya untuk berpisah dengan suaminya,"
"Bayangkan saja kalau Mas ada di posisinya, pasti rasanya sakit bukan?"
"Ini sudah larut malam Anna, apa kata orang nanti kita diam-diam menyelinap ke rumah orang,"
"Mas mau tidur saja, tapi bukan berarti Mas mengizinkan Anna untuk pergi malam ini !" tegas Danial.
"Sekali ini saja, please Mas !"
Esok paginya, Fajar menemui Bapak Maira. Ia marah-marah dan mengancamnya.
"Ingat ya Pak kalau sampai Maira menolak saya lagi, akan saya pastikan hidup Bapak menderita !"
"Sabar dong, kita hadapi semua dengan tenang ya,"
"Kesabaran saya sudah habis Pak, saya mau Maira menjadi milik saya !"
"Tapi kamu tahu sendiri kan kalau Maira sangat mencintai suaminya dan mereka sulit untuk dipisahkan,"
"Pokoknya saya nggak mau tahu, Bapak harus bertindak cepat untuk memisahkan Maira dengan suaminya !"
Bruk......
(Suara pot bunga terguling di depan rumah)
Mereka segera keluar mengetahui asal suara itu, dan mendapati tanah dari pot bunga yang berserakan.
"Siapa yang melakukan ini, apa ada yang datang ke mari?" tanya Pak Usman.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum banyak orang yang tahu,"
"Baiklah, tapi Bapak harus ingat dengan apa yang sudah saya katakan tadi,"
Pak Usman masuk ke dalam rumahnya mengambil sapu untuk membersihkan tanah yang berserakan di lantai.
"Huh, untung saja aku nggak ketahuan !" ucap Bu Pratiwi sambil mengatur napasnya.
"Maira harus tahu soal ini, supaya dia tahu sifat asli bapaknya !"
Dengan langkah pelan, Anna menghampiri Danial yang tengah duduk di sofa.
"Mas, Anna mau minta maaf soal semalam ya,"
"Bukan bermaksud untuk ikut mencampuri urusan orang lain, Anna cuma ingin membantu Maira,"
"Mas tahu Anna begitu sayang sama Maira, tapi Anna juga harus sayang sama diri sendiri,"
"Jangan terlalu memikirkan orang lain sampai lupa memikirkan diri kita, Mas nggak mau lihat Anna sakit lagi,"
"Mas mau lihat Anna bahagia, bisa tersenyum setiap waktu,"
"Insyaallah Mas, Anna akan berusaha menjaga diri baik-baik,"
__ADS_1