
Namamu yang selalu ada dalam barisan doaku
Tak bosan ku sebut setiap ibadahku
Walau Tuhan begitu cemburu
Tapi kini yang terdengar hanya namanya.
°°°°°°°°°°°°°
Danial melepaskan tawanya yang sangat puas membuat Anna kesal pagi itu.
Anna semakin dibuat bingung dengan sikap suaminya.
Belum semenit, Danial berbuah sikap.
"Anna pasti cemburu ya, bukannya Anna bilang itu sudah biasa?"
Anna memalingkan wajahnya, dan berlagak tak tahu apa-apa.
Danial kembali mendekatkan diri ke Anna, dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Andai Anna cemburu, Mas pasti sedih karena kebahagiaan Mas pasti kebahagiaan Anna juga kan?"
Danial pun pergi ke kantor, sedangkan Anna masih berdiri di sana.
Suasana di siang hari yang sangat menyengat membuatnya menjadi mandi keringat.
Anna berteduh di sebuah gazebo, saat asyik bersantai tiba-tiba di sampingnya ada Tulus menatap dan tersenyum padanya.
"Hai, apa kabar?"
"Tulus, kok kamu bisa ada di sini?"
"Hmm pasti ngikutin aku ya?"
"Kok tahu sih kalau aku ngikutin kamu, jangan-jangan kita berjodoh !"
"Mulai lagi kan, kapan kamu ini bisa serius?"
"Hei aku ini bicara serius, kamu saja yang nggak pernah menganggap kasih sayang aku ke kamu ini serius,"
"Maaf Tulus, aku nggak bermaksud untuk menyakiti hati kamu,"
"Aku bahagia sekali menjalani hubungan ini dengan kamu," ucap Anna membuat Tulus diam.
Di satu sisi Hanin terus berupaya untuk membuat Mama Danial membenci Anna.
Dengan segala cara ia lakukan, karena dirinya ingin segera terbalaskan rasa sakit hatinya.
Bu Sarah sudah berada di depan pintu rumah Danial. Ia tak tahan jika harus berdiam diri saja bila melihat putra kesayangannya menderita.
Anna membuka pintu rumahnya, dan terkejut mendapati Ibu mertuanya di sana.
"Mama kenapa nggak bilang sama Anna kalau mau berkunjung ke rumah, supaya Anna bisa buatkan makanan yang enak untuk Mama,"
"Kamu nggak usah berlagak manis seperti ini ya, Mama datang ke sini mau memperingatkan kamu untuk berhenti sakiti Danial !"
"Menyakiti bagaimana Ma, Anna sama sekali nggak melakukan apa-apa terhadap Mas Danial,"
Ibu dan Bapak Anna telah sampai di depan gerbang kompleks tempat tinggal putri dan menantunya.
__ADS_1
Mereka begitu tak sabar ingin segera berjumpa dengan Anna.
"Kamu masih mau menyangkalnya, Mama sudah tahu hubungan kamu dengan Tulus dibelakang Danial !"
"Ya Allah, Mama salah paham saja karena Anna dan Tulus sebatas teman nggak lebih dari itu,"
Mereka menyusuri jalan sambil mengingat-ingat rumahnya, karena ini baru pertama kalinya berkunjung.
"Ibu coba telepon Anna," ucap Suaminya.
"Pasti Anna sibuk Pak, Ibu nggak mau mengganggunya,"
"Gimana kalau kita tanya saja sama satpam di sini, supaya jadi kejutan juga untuk Anna !"
Bu Sarah terus memojokkan menantunya, membuat Anna kembali merasakan sakitnya.
Ia berteriak, dan lari sejauh mungkin meninggalkan ibu mertuanya di rumah.
"Pak, itu bukannya Anna?" tanya Ibunya yang melihat seorang wanita mirip Anna lari begitu cepat.
"Apa benar itu Anna, Bu?"
Anna berlari sambil berteriak di jalanan. Ibunya benar-benar menduga itu adalah suara anaknya.
Mereka pun menyusulnya, dan berteriak memanggil namanya.
"Bapak sekarang hubungi Danial ya, supaya dia datang kemari,"
Danial sedang melangsungkan meeting, saat ia berdiri di dekat meja, matanya melihat ke layar handphone nya yang menunjukkan ada telepon masuk dari Bapak mertuanya.
Ia bingung harus mengangkat atau membiarkannya.
"Danial nggak menjawab telepon dari Bapak, Bu,"
"Kalau begitu Bapak coba telepon Tulus ya, siapa tahu dia bisa kemari,"
Kebetulan Tulus sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia berniat untuk main ke rumah Anna.
"Mau ke rumah anaknya, tapi bapaknya yang telepon," ucap Tulus saat mengetahui ada telepon masuk dari Pak Hamdan.
"Assalamualaikum, iya pak?"
"Anna kabur dari rumah, baiklah Pak saya akan segera ke sana ya,"
Anna berhenti di sebuah jalanan yang sepi. Ia merasa ketakutan walau siang bolong.
Tubuhnya berkeringat dingin, sampai bibirnya membeku.
"Anna !" ucap Tulus di dalam mobil, dan menghampiri Anna yang berdiam diri di tengah jalanan.
"Kamu ngapain di sini, kalau sampai tertabrak bagaimana?"
"Anna, are you oke?"
"Aku antar kamu pulang ya," ucap Tulus membawa Anna pergi bersamanya.
Setelah meeting selesai, Danial mencoba untuk menghubungi balik Bapak mertuanya. Namun tak juga diangkat. Membuatnya semakin khawatir.
"Ada apa Danial, Papa lihat kamu begitu gelisah?" tanya Papanya.
"Bapak mertua Danial menelepon La, Danial takut terjadi apa-apa dengan Anna,"
__ADS_1
"Memang apa yang terjadi dengan Anna?"
"Anna akhir-akhir ini sering jatuh sakit Pa, setiap Danial mengajaknya untuk check up ke rumah sakit selalu menolak,"
"Lebih baik kamu pulang sekarang, supaya hati kamu jadi tenang,"
"Iya Pa, Danial minta maaf ya nggak bisa menemani Papa hari ini,"
"Nggak apa-apa Danial, kesehatan Anna jauh lebih utama,"
Danial pun bergegas menuju ke rumahnya.
Tulus memberikan obat dan segelas air putih untuk Anna yang sedang duduk bersandar di sofa ditemani Bapak dan Ibunya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Anna ini, kenapa tadi lari begitu cepat?" tanya Ibunya.
"Astaghfirullah, Mama sekarang ada di mana Bu?" tanya Anna yang teringat dengan Ibu mertuanya.
"Mama, maksud kamu Mamanya Danial?"
"Iya Bu, tadi pagi Mama datang ke rumah,"
"Apa yang dia katakan sama Anna?"
"Anna jadi lupa Bu dengan apa yang telah Mama katakan,"
"Pak, Bu, mungkin Anna sedang kelelahan jadi kondisinya menurun lagi,"
"Menurun lagi, apa Anna jatuh sakit selama ini?"
"Kenapa Anna nggak bilang sama Ibu kalau sakitnya kambuh lagi?"
"Maafkan Anna ya, Anna cuma nggak mau buat Ibu dan Bapak khawatir,"
Danial terjebak macet di jalan. Ia sangat kesal kenapa harus disaat-saat seperti ini terjadi. Sedangkan dirinya mengkhawatirkan Anna di rumah.
"Aku harus pulang Anna karena ada pekerjaan yang harus aku urus segera,"
"Iya Tulus, terima kasih karena sudah menolongku hari ini,"
"Saya pamit ya Pak, Bu,"
"Iya, hati-hati di jalan,"
Selang beberapa menit, Danial pun sampai di rumahnya. Ia buru-buru untuk masuk ke dalam rumah dan melihat keadaaan Anna.
"Ibu, Bapak, ada di sini?" ucap Danial terkejut begitu mengetahui Ibu dan Bapak mertuanya ada di rumahnya.
"Iya Danial, maaf sebelumnya karena kami nggak kasih tahu soal ini," ucap Pak Hamdan.
"Iya Pak nggak apa-apa, apa Anna sedang bersama Ibu, Pak?"
"Iya, mereka ada di kamar,"
Anna menjauhkan dirinya dari Danial, membuat suaminya bertanya-tanya dengan sikapnya.
"Ada yang ingin Anna katakan sama Mas?"
"Nggak ada Mas, Anna mau tidur ya,"
Anna manarik selimutnya supaya Danial mengira dirinya sudah tidur, kenyataannya kedua matanya masih terbuka lebar, pikirannya terus memaksa untuk berpikir tentang apa yang terjadi dengan dirinya.
__ADS_1