
Hanin Haifa sebuah nama yang memiliki arti seseorang yang jujur dan penuh kasih sayang. Teman satu kelas Danial, Arvin, juga Anna saat duduk di bangku SMK.
Hanin dan Anna bersahabat selama 3 tahun bahkan sampai sekarang, hanya karena perihal waktu yang membuat mereka jadi jarang bertemu.
Jangankan bertemu, bertegur sapa lewat telepon juga nggak menentu.
"Masih untung Hanin menolaknya, itu berarti dia masih punya hati," ucap Arvin setelah mendengar cerita dari Danial.
"Dia bukan menolak, hanya saja menundanya Vin,"
"Lupakan saja lah hanin itu, fokus menata masa depan yang cerah bersama istrimu,"
"Sahabatmu ini siapa ha, kenapa dari awal kamu selalu mendukung Anna bukannya aku,"
"Cobalah sesekali untuk berkaca, apakah yang kamu lakukan itu sudah benar?"
"Tapi ini adalah kesempatan yang berharga untukku bisa dicintainya, setelah bertahun-tahun cintaku nggak berbalas,"
Arvin menggelengkan kepalanya, tidak tahu lagi bagaimana ia bisa menyadarkan sahabatnya itu.
Sepulang dari kantor, Danial menunggu Hanin untuk menanyakan kelanjutan dari permintaanya itu. Sayangnya tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.
"Kamu belum pulang Dan, ini sudah hampir maghrib loh," ucap Arvin baru keluar dari kantor.
"Aku sedang menunggu Hanin,"
"Wah kamu ini orang yang pantang menyerah ya, sampai kamu harus mengabaikan istrimu di rumah rumah,"
"Kamu menunggu sampai pagi pun dia nggak akan bisa berada dihadapan mu, karena tadi siang Hanin berangkat ke luar kota,"
"Apa, kenapa kamu nggak bilang sama aku?" tanya Danial terkejut.
"Untuk apa aku memberitahumu, dia juga bukan siapa-siapa kamu kan?"
"Jadi mau tetap di sini atau pulang?"
"Iya aku pulang,"
Danial pun pulang dengan tangan kosong, harapannya untuk mendapatkan jawaban dari Hanin harus tertunda lagi.
"Assalamualaikum," ucap salam Danial dengan wajah ditekuk.
"Waalaikumussalam, akhirnya Mas Sayang pulang tepat waktu,"
"Ada apa memang?"
"Setelah Mas Sayang mandi, kita sholat berjamaah ya !"
"Anna sholat sendiri ya, Mas mau istirahat dulu,"
"Nggak boleh Mas, jangan menunda sholat nanti Allah bisa menunda setiap permintaan kita,"
Mendengar ucapan dari Anna, Danial langsung beranjak untuk mandi, dan melaksanakan sholat berjamaah.
Setelah melakukan salam sholat, Anna memanggil suaminya dengan begitu lembut.
"Mas Sayang," ucap Anna meminta punggung tangan suaminya untuk ia cium.
"Mas tahu nggak, bisa sholat berjamaah dengan seorang suami itu merupakan salah satu dari doa Anna selama ini, saat itu hanya Pak Irsyad, Pak Abdul, Pak Ahmad, Pak Mukhlas, Pak Hasan, yang menjadi imam Anna dalam sholat,"
"Siapa mereka?"
"Mereka adalah imam sholat di masjid mas, jadi dulu itu alhamdulilah Anna diberi nikmat oleh Allah untuk bisa melaksanakan sholat 5 waktu berjamaah di masjid,"
"Masha Allah Mas malu sama Anna, jangankan bisa sholat berjamaah, sholat sendiri saja masih suka bolong,"
__ADS_1
"Insyaallah setelah ini Mas jadi rajin sholatnya, dan bisa menjadi imam yang baik untuk Anna,"
"Apa aku bisa jadi imam yang baik untuknya. Batinnya. Mas mau beres-beres dulu ya," ucap Danial sambil melipat sajadahnya.
"Pasti bisa, karena Mas adalah orang yang telah Allah pilih untuk Anna, nama yang selalu ada dalam doa yang Anna panjatkan,"
"Besok Mas pulang telat, karena ada meeting sore," ucap Danial setelah menyantap makanan.
"Iya Mas, tapi Anna akan tetap memasak ya biar sepulang dari kantor Mas bisa makan lagi,"
"Anna kenapa lepas hijab?" tanya Danial di atas dipan.
"Kenapa kaget gitu Mas, bukannya sah saja?"
"Tapi Anna nggak lebih bagus memakai hijab,"
"Masa sih, apa Mas nggak mau belai rambut Anna yang panjang, wangi, dan lembut ini?" ucap Anna dengan menggoda.
"Nggak perlu, lebih baik kita sekarang tidur ya,"
"Mas Sayang, mau main bola dulu nggak?" tanya Anna membuat Danial bertanya-tanya.
"Sudah malam anna, besok Mas ada meeting !" ucap Danial menarik selimutnya.
"Baiklah mungkin bisa besok main bolanya ya, assalamualaikum, selamat malam Mas," ucap Anna yang juga menarik selimutnya.
Pagi hari Danial dikejutkan dengan penampilan Anna yang berubah.
"Anna beneran ini mau lepas hijab?" tanya Danial saat turun dari tangga.
"Nggak dong Mas, Anna berpenampilan seperti ini hanya di depan suami Anna saja,"
"Nggak perlu melakukan ini, Mas nggak masalah kok kalau Anna terus memakai hijab,"
"Tapi Anna maunya seperti ini, boleh ya Mas?"
"Terserah Anna, mas berangkat kerja dulu ya," ucap Danial mengalihkan perhatian.
"Iya Mas, jaga diri baik-baik ya di sana,"
"Mas Sayang, ada yang tertinggal nggak?" imbuh Anna mengingatkan satu hal pada Danial.
Anna mengernyitkan dahinya sambil tersenyum manis.
Danial menghampirinya, lalu mencium keningnya dengan penuh kelembutan.
"Anna juga jaga diri baik-baik di rumah ya,"
"Siap Mas Sayang,"
Danial berpapasan dengan papanya yang baru juga sampai di kantor. Dan merangkul putra kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana kabarnya, kapan kamu main ke rumah ?" tanya Papa Danial memeluk putra kesayangannya itu.
"Alhamdulillah baik Pa, Papa sendiri bagaimana kabarnya, Mama juga baik-baik saja kan?"
"Ya seperti inilah keadaan Papamu sekarang, dan Mama kamu yang jadi merenung setelah kepergian putra kesayangannya dan ditinggal putrinya,"
"Mungkin Mama belum terbiasa dengan semua ini pa, insyaallah Danial dan Anna akan pergi ke rumah Papa besok,"
"Hmm kenapa harus besok, malam ini kan bisa,"
"Maaf Pa, Danial hari ini ada meeting sore hari jadi akan pulang malam,"
"Baiklah, istrimu baik-baik saja kan?"
__ADS_1
"Baik Pa, nggak ada masalah apapun,"
"Bagus, kamu harus pandai menjaga istrimu ya,"
Setelah selesai meeting, Arvin menemui Danial si ruang kerjanya.
"Makan dulu yuk di cafe biasa," ucap Arvin setelah meeting selesai.
"Nggak lah Vin, aku pulang saja,"
"Tumben mau pulang dulu?"
"Dia sudah masak, dan aku sudah berjanji padanya untuk makan di rumah,"
"Oh begitu, ya sudah cepat pulang sana,"
"Oke, bye,"
Anna begitu bahagia ketika mendengar klakson mobil di luar rumahnya. Ia berpikir itu Danial yang datang.
"Assalamualaikum," ucap salam Danial lalu duduk di sofa.
"Waalaikumussalam, Mas sudah pulang,"
"Cepat sekali, bukannya ada meeting ya?"
"Tadinya mas pikir mau makan bersama Arvin, tapi karena Mas ingat Anna masak di rumah lebih baik pulang saja,"
"Iyalah, masakan Anna jauh lebih nikmat kan?"
"Anna mau ngapain?" tanya Danial terkejut saat Anna duduk bersimpuh sambil membuka sepatu dan kaos kakinya.
"Anna ingin melayani Mas secara menyeluruh, bukan hanya soal menyiapkan makanan, pakaian saja, tapi memanjakan suami juga sangatlah penting,"
ucap Anna membuat Danial tersenyum simpul.
"Ayo kita mandi," ucap Anna membuat Danial kembali terkejut.
"Maksudnya mandi bersama?"
"Kalau Mas mau, Anna akan turuti juga,"
"Nggak, Mas mandi sendiri saja ya, dan Anna bisa siapkan makanannya dulu," ucap Danial dengan gemetaran.
Suasana hening dalam kamar, menjadi gaduh saat Anna memulai pembicaraan.
"Ada apa Mas, hmm Anna tahu nih,"
"Pasti mau ajak Anna main bola kan malam ini?" tanya Anna ketika melihat Danial yang tak henti menatapnya.
"Main bola di kamar?"
"Mana bisa," tanya Danial dengan wajah datarnya.
"Bisa kok, Anna yang akan jaga gawangnya lalu Mas yang memasukkan bolanya," ucap Anna sambil memainkan bola matanya ke bawah.
Danial menghela napas panjang, lalu memainkan tangannya yang mulai berkeringat.
"Mas setuju kan?"
"Mas nggak suka main bola, Anna bisa tidur dulu ya karena Mas mau ke bawah," ucap Danial yang lagi-lagi mengalihkan pembicaraan.
"Mas mau ngapain, ini kan sudah larut malam?"
"Ada hal yang harus Mas bicarakan dengannya,"
__ADS_1
Anna mengerti bahwa dirinya bukanlah prioritas utama dalam hidup Danial. Namun masih ada harapan untuk membuat suaminya itu bisa sadar akan kehadirannya.