My Roommate'Class

My Roommate'Class
Aku Mana Bisa Jauh


__ADS_3

Danial mengambil handphonenya yang berdering di saku celananya.


Telepon itu dari Hanin.


"Dari Hanin ya, angkat saja Mas,"


"Iya halo?"


"Sayang, kita makan siang yuk !"


"Aku nggak masuk kantor hari ini, kamu pergi makan sendiri ya,"


"Ih kok kamu nggak bilang kalau cuti hari ini?"


"Pasti ini semua karena Anna ya?"


"Maaf Han, hari ini aku harus menjaga Anna,"


"Dia itu sudah gede, nggak perlu dijaga lagi,"


"Han, Anna ini istriku yang sudah sepatutnya aku menjaga dia,"


"Sudah ya, jangan telepon aku lagi," ucap Danial menutup teleponnya dengan paksa.


"Halo Sayang, Danial?" teriak Hanin di telepon.


"Makin lama dia makin ngelunjak nih, aku harus gerak cepat sebelum Danial sadar !"


"Kenapa Mas harus bohong?"


"Anna sudah sembuh, nggak perlu Mas memaksa diri untuk menjaga perasaan Anna,"


"Anna yang bohong kan?"


"Bohong apa, soal Tulus lagi?"


"Berapa kali Anna katakan, nggak ada apa-apa antara Anna dengannya Mas,"


"Kalau memang benar nggak ada apa-apa, Mas minta Anna menjauh darinya,"


"Anna ajak Mas kemari untuk menikmati waktu bersama, bukan berdebat masalah ini terus-menerus !"


"Maaf Mas, lebih baik sekarang Mas pulang,"


"Nggak Anna, kita pulang sama-sama,"


"Anna masih mau di sini, Mas bujuk saja Hanin,"


Danial pun memilih pergi meninggalkan Anna seorang diri di Danau.


"Kapan kamu bisa mengerti Mas, aku benci jika harus mencintai sendiri,"


Nanda bingung harus dengan cara apa dia memberitahukan semua kepada Ibu dan Bapaknya soal hutang itu.


"Apa aku mampu mengatakan yang sebenarnya pada mereka?" ucap Nanda saat dirinya berada di depan rumah.


"Tapi aku sudah berjanji dengan anna untuk mengatakan apapun itu walau pahit,"


"Nanda," ucap ibunya saat baru pulang dari pasar.


"Akhirnya kamu pulang juga ke rumah, Ibu sangat merindukan kamu,"


"Ibu, Nanda juga rindu sekali sama Ibu dan Bapak,"


"Maafkan atas segala kesalahan yang Nanda buat pada Ibu dan Bapak, Nanda sudah jadi anak yang durhaka," ucap Nanda dengan sesal.


"Alhamdulillah, kamu sadar juga,"


"Ibu sudah memaafkan kamu, begitu dengan Bapak,"


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu Nanda?" tanya Bapaknya.


"Nanda terlilit hutang Bu, Pak,"


"Astaghfirullah, kenapa kamu nggak bilang dari awal?" tanya Bapaknya.


"Nanda malu Pak, dan takut Ibu dan Bapak nggak mau menerima Nanda lagi di rumah ini,"


"Nanda, sesulit apapun masalah kamu jangan lari,"


"Kita bisa hadapi bersama-sama, bukannya memecahkan masalah malah akan menambah masalah kan?" imbuh Bapaknya.

__ADS_1


"Iya Nanda, kita pasti akan membantu kamu untuk keluar dari masalah ini,"


"Iya Bu, Pak, Nanda minta maaf ya dan janji nggak akan mengulanginya lagi,"


Pak Hamdan dan Bu Lilis memikirkan bagaimana mereka harus membayar hutang Nanda, dengan keadaan ekonomi yang seperti ini membuat mereka tak bisa berpikir.


"Bu, sekarang kita harus pikirkan bagaimana bisa membayar semua hutang Nanda," ucap Bapak.


"Iya Pak, dan jumlahnya juga nggak sedikit,"


"Apa kita coba membicarakan ini dengan Anna?"


"Jangan Bu, Bapak nggak mau Anna ikut susah,"


"Bapak akan pikir cara lain untuk bisa melunasi hutang Nanda,"


"Semoga ada jalan keluarnya ya Pak,"


"Aamiin,"


Hanin kesal karena Anggun membawanya ke cafe tempat nongkrong Danial dan sahabat-sahabatnya.


"Kenapa harus ke cafe ini sih, kalau ada yang tahu gimana?" tanya Hanin.


"Aku cuma rindu saja, nggak masalah dong?"


"Ada hal apa kamu memintaku untuk menemui mu?"


"Aku pikir kita harus mempercepat laju rencana kita, bosan tahu nggak sih harus gini terus !"


"Setuju, aku juga mau cepat-cepat lihat Anna jadi hancur !"


"Oh iya, bagaimana soal Anna dan Tulus apa mereka benar-benar menjalin hubungan gelap?"


"Nggak lah, Danial bilang mereka cuma ada projek bersama,"


"Hmm, bagus dong !"


"Bagus apanya?"


"Dengan begitu kita akan semakin mudah membuat Danial membenci Anna juga Tulus sahabatnya itu !"


"Kita menyelam sambil minum air,"


"Kemana Anna ini, kenapa jam segini belum juga datang?"


"Eh maira, kamu tahu Anna ada di mana?"


"Aku saja baru datang, mana tahu Anna pergi kemana,"


"Emangnya dia belum juga datang?"


"Belum, apa mungkin Danial melarangnya ya?"


"Tuh cowok maunya apa sih, apa-apa dilarang !"


"Kasihan Anna harus menikah dengannya,"


"Akhirnya dia telepon juga," ucap Tulus sambil mengangkat telepon dari Anna.


"Tulus, maaf ya aku nggak bisa datang,"


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Iya, aku baik-baik saja,"


"Sudah dulu ya, aku nggak mau dia tahu kita berbicara di telepon,"


"Oke, selamat malam,"


"Gimana, Anna mau datang kan?" tanya Maira.


"Anna nggak bisa datang,"


"Yah...., sudah pasti ini gara-gara Danial !" keluh Maira.


Danial sibuk melayani Anna tampak sedang sakit.


"Anna mau Mas ambilkan makanannya?"


"Nggak perlu Mas, Anna bisa mengambilnya sendiri,"

__ADS_1


"Mas makan duluan ya, Anna mau beres-beres kamar dulu,"


"Kalau gitu Mas bantu Anna untuk beres-beres ya?"


"Anna bisa melakukannya sendiri, Mas pergi makan saja ya,"


"Kenapa kepalaku jadi sering pusing ya, apa karena aku terlalu stress?"


"Anna, ini Mas buatkan jus semangka spesial untuk istri Mas," ucap Danial memberikan Anna segelas jus semangka.


"Mas yang buat sendiri ya?"


"Nggak sih, tadi beli di warung kompleks sebelah,"


"Kenapa jus semangka?"


"Biar selalu semangat kakak !"


"Hahaha, Mas bisa saja,"


"Ayo diminum,"


Anna terdiam.


"Kenapa?"


"Anna mau disuapin sama Mas,"


"Manja sekali istri Mas ini," ucap Danial sambil memberikan jus semangka ke Anna.


"Tuh kan jadi comot semua," ucap Danial melihat sisa jus semangka di bibir Anna, ia pun mengusapnya dengan perlahan. Keduanya saling bertatapan.


"Terima kasih ya Mas, Anna pergi tidur ya,"


"Iya, Anna tidur ya jangan memikirkan hal yang macam-macam !"


"Mas juga tidur ya,"


Hanin terus memaksa Danial supaya berkata jujur padanya. Karena semakin lama dilihat Danial sulit jauh dari Anna.


"Aku nggak yakin deh, kalau nggak ada apapun diantara Tulus dan Anna," ucap Hanin pada Danial.


"Maksud kamu apa, mau bilang kalau Anna selingkuh dariku?"


"Bisa saja kan, karena mereka juga sering bertemu dan sudah kenal lama,"


"Aku percaya sama Anna, dan dia nggak akan pernah mengkhianati aku !"


"Brengsek, rupanya Anna sudah membuat Danial tunduk padanya. Batinnya. Semoga ya dia benar-benar setia sama kamu,"


Anna berjalan cepat saat mengetahui Tulus ada di Toko Buku juga. Ia tak ingin Tulus mendapat masalah.


"Anna tunggu," ucap Tulus menghentikan langkah Anna yang ingin pergi dari sana.


"Kenapa kamu menghindar dari aku?"


"Nggak Tulus, bukannya aku menghindar,"


"Tapi aku harus memberi batas diantara kita,"


"Please Anna, aku ini kan hanya seorang teman bahkan sudah seperti keluarga kamu !"


"Aku mengerti, tapi beberapa orang nggak mau mengerti tentang hubungan kita yang hanya sebatas teman !"


"Termasuk Danial?"


"Aneh, kenapa dia mengkhawatirkan hal ini?"


"Bukannya dia sudah bahagia bisa bersama dengan Hanin?"


"Bukan khawatir, tapi takut aku akan merusak nama baiknya,"


"Apa, gila ya dia !"


"Bagaimana dengan dirinya yang sudah mengkhianati kamu?"


"Dia nggak pernah memikirkan hal itu, merasa paling benar saja !"


"Aku rasa pertemanan kita sampai di sini saja, ini demi kebaikan kamu,"


"Kalau kamu melarang aku untuk menjauh darimu, justru aku akan semakin nekat untuk terus bisa dekat,"

__ADS_1


"Tolong Tulus, entah kenapa aku merasa ada yang mengawasi kita,"


"Seperti CCTV berjalan gitu?"


__ADS_2