
Sepasang suami istri berada di teras rumah, menanti kabar dari sang mentari pagi
Bersabar untuk hari-hari yang berarti.
"Mas mau kasih tahu soal pengunduran diri di perusahaan Papa, karena Mas memilih untuk bergabung dengan perusahaan lain,"
"Kenapa Mas, apa ada masalah di kantor?"
"Nggak ada sih, tapi Anna tahu kan nantinya perusahaan itu akan menjadi milik Elvira. Jadi Mas pikir ini adalah pilihan yang tepat,"
"Papa setuju dengan keputusan Mas?" tanya Anna, memastikan kalau suaminya baik-baik saja.
"Papa pasti akan setuju, kalau gitu Mas berangkat ke kantor dulu ya,"
"Assalamualaikum," sambil menyodorkan punggung tangannya.
"Waalaikumussalam," sahut Anna, mendekatkan wajahnya ke Danial berharap diberi kecupan di keningnya.
"Karena terburu-buru, Mas Danial jadi lupa sama kewajibannya !"
Di setengah perjalanan, Danial menerima panggilan telepon dari Bapak mertuanya.
Ia pun memarkirkan mobilnya di tepi jalan.
"Maaf lama mengangkat telepon dari Bapak, soalnya Danial ini lagi ada di jalan,"
"Bapak mau kita ketemuan hari ini, terserah di mana saja yang pasti ini sangat penting !"
"Iya Pak, insyaallah nanti jam istirahat Danial kabari Bapak lagi ya,"
Saat matahari berada di atas kepala, namun Maira terlihat begitu ceria.
Dirinya tidak sabar untuk mencoba mobil barunya, hadiah anniversary pertama.
Dan berencana untuk menemui sahabatnya, Anna.
Tin....Tin...Tin....
(suara klakson mobil baru Maira)
"Masa iya sih gara-gara lupa nggak kasih cium kening Mas Danial balik lagi?" tanya Anna menggelengkan kepalanya yang tidak pusing.
"Anna, cepetan keluar !" teriak Maira di depan rumah Danial.
"Tapi kok barusan dengar suara Maira sih, aku cek saja deh !"
"Wah, mobilnya bagus banget !" ucap Anna melotot sambil meraba bagian mobil yang ada di hadapannya.
"Anna, ayo masuk !"
"Maira, ini mobil kamu?"
"Tentu, aku ke sini mau ajak kamu jalan-jalan pakai mobil baru !"
"Mau dong, kebetulan aku lagi nggak ada kerjaan. Tapi jam 5 sore aku harus ada di rumah ya !"
"Siap, kita pergi sekarang?"
"Let's go !"
__ADS_1
Secangkir kopi mencairkan suasana yang awalnya mencekam menjadi hangat.
"Saya mohon sama kamu, untuk berhenti berhubungan dengan Hanin. Karena itu akan menyakiti hati Anna !"
"Jadi Bapak sudah tahu soal itu?"
"Maaf Pak, tapi dari awal saya memang nggak berniat untuk menyakiti hati Anna. Dan dia sudah menerima segala konsekuensinya,"
"Kamu tahu nggak, kalau hati seorang wanita itu mudah patah. Jika sudah patah, apa bisa utuh kembali?"
Danial terdiam sesaat, memikirkan perkataan Bapak mertuanya.
"Apalagi yang mau kamu cari dalam diri anak saya. Apa kamu meragukan hatinya?"
"Percaya sama Bapak, Anna hanya mencintai kamu saja bukan laki-laki lain !" tegas Pak Hamdan.
"Kalau kamu nggak sanggup untuk membahagiakan Anna, lepaskan saja dia !"
Gemetar hebat jantung hatinya, matanya yang tidak tahan lagi menyangga air matanya. Berusaha tetap tegar di depan Bapak mertuanya.
"Anna kamu lihat deh, itu Hanin bukan sih?" ucap Maira menunjuk ke arah hotel bintang 5.
"Dari penampilannya sepertinya memang Hanin, tapi untuk apa dia pergi ke sana?"
"Aku ada ide, kita harus pergi sana juga untuk memastikannya !"
"Nggak perlu Ra, kita jalan saja !"
"Ayolah sekali ini saja An, ini juga demi menyelamatkan Danial dari si ular berbisa itu !"
"Kamu benar, kita harus menyelidiki hal ini !"
Di sebuah restoran yang berada di tepi kolam hotel, Hanin bersenda gurau dengan seorang laki-laki bertubuh ideal.
Mereka memakai masker, dan topi untuk menyembunyikan identitasnya.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya,"
"Iya, jangan lama-lama ya !" sahut Hanin, sambil kedua matanya tertuju pada dua wanita yang sedari tadi memperhatikannya.
"Jangan diliatin terus, nanti dia jadi tahu siapa kita !" ucap Anna dengan pelan.
"Sayang, kita pergi jalan-jalan yuk !"
"Katanya tadi mau pesan makanan, kok sekarang mau pergi lagi?"
"Aku mau belanja beberapa baju untuk malam ini !"
"Hmm oke, tapi jangan lupa untuk membeli baju yang aku mau ya !"
"Iya sayang, yuk !"
Maira melepas topinya dan membuka masker karena dirasa gerah.
Bagaimana dengan Anna, yang hatinya merasa gerah melihat kelakukan Hanin di belakang Danial.
"Rese banget sih tuh orang, jangan-jangan dia tahu kali ya kalau kita dari tadi memantau gerak-geriknya?" tanya Maira.
"Bisa jadi Ra, tapi semoga Hanin nggak mengenali kita ya !"
__ADS_1
Matahari mulai tenggelam, perasaaan Danial berkecamuk.
Saat dihadapkan dengan pilihan. Pada siapa hatinya akan singgah?
Sendok dan garpu terus dirinya mainkan.
Membuat Anna semakin khawatir jika harus mengatakan kebenaran tentang Hanin malah akan membuat suaminya menjadi sedih.
"Mas, kenapa makanannya nggak dimakan?" tanya Anna yang tidak didengarnya.
"Mas," ucap Anna, menyentuh tangannya.
"Maaf Mas nggak dengar, tadi Anna bilang apa?"
"Tumben nggak langsung dimakan makanannya, apa mau Anna masak makanan kesukaan Mas?"
"Nggak perlu, ini sudah cukup,"
"Mas, kalau ada masalah bisa kok cerita sama Anna,"
Danial kembali teringat perkataan Bapak mertuanya. Kemudian, dirinya menatap Anna dengan lemah lalu meraih kedua tangannya.
"Mas mau istirahat duluan ya, Anna nggak apa-apa kan?"
"Anna pikir mas mau bilang apa, ya sudah kalau gitu mas pergi ke kamar dulu ya karena Anna mau bersih-bersih !"
Berat rasanya Danial melangkah pergi ke kamarnya, seperti hatinya yang juga berat untuk memilih.
"Ada apa Mas?"
"Mas pikir kita harus memajang foto pernikahan di sini juga,"
"Kenapa emang Mas?"
"Supaya setiap mau pergi atau mau masuk ke kamar kita selalu ingat masa-masa itu !"
"Nggak perlu Mas, cukup rekam diri Anna ini lalu simpan di hati Mas !"
Keduanya tertawa kecil.
Pagi buta sekali, orang-orang giat mencari rezeki.
Sedangkan Bu Sarah datang sambil mencaci maki.
"Sebentar Bu, saya masih melayani pembeli dulu ya," ucap Bu Lilis.
"Ibu dan anak sama saja, nggak bisa menghargai orang !"
"Terima kasih Bu," ucap Bu Lilis pada pembeli.
"Maksud Bu Sarah apa bicara seperti itu, saya nggak pernah mengajarkan hal buruk terhadap anak-anak saya !" tegas Bu Lilis.
"Saya jauh-jauh datang kemari bukan untuk bertele-tele, tapi saya mau menegaskan kalau Danial bukan laki-laki yang suami Ibu katakan !"
"Kenapa, Danial memang salah. Dia sudah membuat Anna menderita, dia juga nggak pernah mau memikirkan perasaan istrinya !"
"Cukup, niat saya kurang baik apa coba selama ini sama keluarga Ibu. Memilih putri Ibu untuk menjadi menantu di rumah saya, tapi anak saya malah mendapatkan perlakuan buruk !"
"Saya benar-benar ditipu mentah-mentah oleh Ibu dan Anna !"
__ADS_1
"Astaghfirullah, kenapa Bu Sarah jadi seperti ini. Bagaimana mungkin Ibu bisa membenci Anna, sebelumnya begitu sangat menyayanginya?"
"Itu dulu, tapi setelah tahu dia nggak bisa memberikan keturunan juga penyakitan rasa cinta dan kasih sayang sudah hilang !"