My Roommate'Class

My Roommate'Class
Cinta Berat Sebelah


__ADS_3

Mencintaimu itu milikku


Dicintai itu milikmu


Dijodohkan memang sebuah pilihan


Pilihan untuk bertahan atau meninggalkan.


Romantisnya cinta berat sebelah.




"Kita pulang ke jakarta setelah sarapan ya," ucap Danial pada Anna saat di kamar.



"Mas, apa Anna boleh tinggal di sini untuk sementara waktu?" tanya Anna membuat Danial bertanya-tanya.



"Untuk apa, hmm maksudnya kenapa tiba-tiba mendadak?"



"Anna lupa semalam mau bilang sama Mas, karena Mas memilih untuk tidur lebih dulu,"



"Kalau menolak keinginannya nanti dia mengira aku ini suami yang nggak pengertian lagi. Batinnya. Terserah Anna saja," ucap Danial sambil memakai sandal dan turun ke bawah untuk sarapan pagi.



Telinga Anna berdengung saat mendengar isi hati suaminya yang sebenarnya berat menyetujui keinginannya itu.



"Loh Danial kapan datangnya?" tanya Bapak Anna.



"Ya Allah Danial sudah ada di sini, Anna kenapa nggak kasih tahu ya," ucap Ibu Anna yang juga terkejut melihat Danial ada di rumahnya.



"Hampir tengah malam Pak, Bu, saya tiba di sini karena terjebak macet," ucap Danial.



"Maaf Pak, Bu, karena Anna nggak mau menganggu waktu istirahat kalian," ucap Anna yang baru saja turun dari kamarnya.



"Oh begit, ya begitulah risiko kalau ke sini malam hari pasti akan terjebak macet," ucap Bapak Anna.



"Anna itu semalam sampai nggak tenang loh Danial menunggu kamu semalam, makan saja nggak enak kan Pak," ucap Ibu Anna membuat Danial tersenyum.



"Benar itu Sayang, maafkan Mas ya karena membuat anna lama menunggu," ucap Danial begitu manis di depan wajah Anna.



"Oh iya Danial setuju jika Anna ingin tinggal di sini untuk beberapa hari," ucap Danial membuat ibu dan bapak Anna kebingungan.



"Untuk apa Anna kamu mau tinggal di sini, bagaimana dengan Danial di sana?" tanya Bapak Anna.



"Soal itu nggak masalah kok Pak, karena saya juga sudah terbiasa melakukan apa-apa sendiri,"



"Nggak Danial, apa kata orang nanti kalau Anna enggan merawat suaminya," imbuh Ibu Anna.



"Kenapa tiba-tiba Anna ingin tinggal di sini?" tanya Bapak Anna.



"Anna cuma rindu sama Ibu, Pak,"



"Pasti kamu begitu rindu ibu, karena sebelum menikah nempel banget dengan Ibunya," ucap Ibu Anna sambil tertawa.



"Anna jangan pikirkan Ibu di sini ya, fokus saja sama diri kamu sendiri juga suamimu," ucap Ibunya meyakinkan Anna.



"Janji ya Ibu akan sering kabari Anna saat di sana,"



"Iya, Ibu janji,"



"Ibu baik-baik ya di sini, jaga kesehatan, jaga pola makan dan tidur, juga jaga hati ya,"



"Kamu juga baik-baik di sana sama suamimu, kalau misal ada masalah jangan dipikir terlalu berat karena apapun masalahnya pasti bisa teratasi,"



"Insyaallah bu, Anna pamit pulang dulu ya,"

__ADS_1



"Assalamualaikum Pak, Bu," ucap salam Anna dan Danial yang hendak pulang ke Jakarta.



"Waalaikumussalam, hati-hati kalian di jalan ya," ucap ibu Anna melambaikan tangannya.



Berat hati Anna melangkah pergi meninggalkan Ibunya yang mengalami hari-hari sulit seorang diri.



Saat di dalam taksi, Danial mencoba untuk menanyakan satu hal pada Anna yang tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk menginap di rumah bapak dan ibunya.



"Kenapa Anna nggak jadi tinggal di sana?" tanya Danial menatap istirnya sambil memainkan jari-jemarinya di atas pahanya.



"Karena Anna sadar, kalau ternyata nggak bisa jauh dari Mas," ucap Anna sambil mendekatkan tubuhnya ke Danial.



"Anna tolong jangan seperti ini, bisa dilihat sama Pak Sopir nanti !"



"Kenapa Mas, apa salahnya seorang istri ingin dekat suaminya?"



Danial sampai tak bisa berkata-kata, tubuhnya seketika jadi dingin.



Mereka pun sampai di rumah. Belum juga menginjak halaman rumahnya, Danial ingin pergi lagi.



"Mau kemana Mas?" tanya Anna.



"Mas ingin ke kantor,"



"Yah Anna kira hari ini Mas ambil cuti,"



"Kapan Mas bilang mau cuti, Anna masuk ke rumah ya,"



"Iya deh, oh iya Mas mau Anna masak apa untuk malam ini?"




"Mas pergi dulu ya,"



"Tuh kan lupa lagi," ucap Anna mengentikan langkah Danial.



"Iya maaf mas lupa, assalamualaikum," ucap salam Danial sambil mencium kepala Anna.



"Waalaikumussalam, kenapa hari ini ciumnya di kepala bukan di kening?" pikir Anna.



"Pasti dia masih malu karena hal tadi," ucap Anna menahan tawanya.



Melihat Hanin berdiri di depan ruangannya dengan wajah ditekuk.



"Kamu kenapa baru sampai jam segini di kantor?" tanya Hanin yang sudah lama menunggu Danial di kantor.



"Huh, tahu kan kalau Jakarta itu macet sekali,"



"Jakarta yang macet atau kamu yang nggak mau pisah dari istrimu itu?"



"Kenapa jadi membicarakan dia, semua ini nggak ada hubungannya sama sekali dengannya !"



"Kalau memang itu benar, aku ingin setelah kamu selesai kerja nanti kita makan siang bersama ya !"



"Semoga bisa ya, karena aku juga baru saja datang,"



"Aku nggak mau mendengar lagi apapun alasan dari kamu, karena yang ini harus jadi !"


__ADS_1


"Iya aku janji, jangan ngambek dong," ucap Danial sambil mengusap kepala Hanin dengan lembut.



"Astaghfirullah, istighfar Dan! " ucap Arvin tiba-tiba datang.



"Ada masalah apa lagi sih Vin, mau mengacau hidup aku?"



"Aku akan terus kacau hidupmu kalau masih saja mau berhubungan dengan dia !" ucap Arvin menunjuk ke wajah Hanin.



"Ingat ya Arvin, kamu ini bukan orang tua danial yang bisa seenaknya mengatur hidupnya, jadi stop bertindak berlebihan !" ucap Hanin.



"Hei sadar dong, Danial ini sudah memiliki kehidupannya sendiri yang nggak bisa diatur sana-sini kecuali kedua orang tuanya, dan istrinya, kamu yang bukan siapa-siapa danial juga nggak berhak !" tegas Arvin.



"Aku memang bukan istrinya, tapi Hanin Haifa orang yang sangat Danial cintai sampai kapanpun itu !"



"Danial kamu ngomong dong, jelaskan sama dia untuk sadar akan posisinya,"



"Hanin benar, sampai kapanpun cintaku hanya untuknya,"



"Kamu dengar sendiri kan Vin?"



"Bagaimana dengan istrimu?"



"Dia bukan siapa-siapa bagiku, karena dia aku terpaksa menikah dan mengorbankan cintaku pada Hanin !"



"Terserah lah Dan kalau memang itu yang kamu mau, tapi jangan sampai menyesal atas apa sudah kamu katakan itu !" ucap Arvin pergi meninggalkan mereka dengan sesal.



Bukan tubuhnya yang gerah, namun hatinya juga. Setelah mendengar ucapan dari Arvin, Danial terus terbayang-bayang.



"Kamu masih memikirkan perkataan dari Arvin tadi ya?" tanya Hanin saat melihat Danial begitu lesu.



"Nggak, aku hanya nggak habis pikir dengan Arvin kenapa begitu membela Anna daripada aku sahabatnya?"



"Halo Danial, kita ketemu lagi ya,"



"Wah ada Hanin juga di sini," ucap Tulus yang juga ada di cafe itu.



"Boleh aku gabung?"



"Tulus kenapa kamu ada di sini?" tanya Danial.



"Kamu ini aneh ya, ini tempat tongkrongan favoritku bersama sahabat-sahabat dulu,"



"Ada apa danial, kenapa wajahmu tiba-tiba pucat seperti itu?" tanya Tulus mulai mencurigainya.



"Kamu ke sini sendirian kan?"



"Memangnya kenapa, oh kamu takut aku bersama dengan Anna ya?"



"Anna, Anna siapa nih?" tanya Hanin kebingungan.



"Anna sahabatmu itu Hanin yang sekarang menjadi istri Danial," ucap Tulus membuat Hanin terkejut.



"Jangan bercanda deh ya,"



Danial dan Tulus sama-sama terdiam.



"Kok kamu diam saja sih Dan, apa itu artinya benar?"


__ADS_1


"Kalau istrimu itu, Anna Anindira?"


__ADS_2