My Roommate'Class

My Roommate'Class
Satu Persatu Aku Tahu !


__ADS_3

Malam yang sangat mencekam


Saat raga hanya mampu berdiam diri


Dalam jiwa merasa sunyi


Saat rindu mulai menghampiri


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Di atas sajadah yang terbentang


Lelaki sempurna itu seorang pecundang


Suka bermain perasaan, cinta dipandang sebelah mata


Kini, tersisa air mata di pelupuk matanya


Kepada siapa hati mendamba, kalau bukan pada Sang Maha Cinta?


Hatinya ikut bergetar saat melontarkan kalimat takbir.


Berharap bisa merubah takdir.


Walau aku menemui Tuhanku disaat butuh


Sedang Tuhan tak pernah meninggalkanku


"Ya Allah, hamba sungguh-sungguh untuk berubah menjadi suami yang baik untuknya. Mohon ikatan ini jangan dipisahkan," ucap Danial mengeluarkan bulir-bulir bening mengaminkan doanya.


"Mas rindu sekali sama Anna yang selalu membual, Mas janji akan membawa Anna pulang ke rumah ini !"


Anna tak ingin melepas malam, hari-hari kembali sunyi tanpa hadirnya seseorang yang mampu mengusir kesepiannya.


"By the way, aku lihat Tulus itu perhatian banget ya sama kamu !" ucap Maira membuat Anna tidak berhasil menutup kedua matanya.


"Aku juga heran, tiba-tiba dia bersikap baik sekali sama Ibu dan Bapak juga !"


"Mungkin dia punya perasaan yang lebih sama kamu !"


"Mana mungkin Ra, kamu sendiri tahu kan siapa orang yang sejak dulu Tulus sukai?"


"Sudahlah aku mau tidur saja Ra, kamu juga harus tidur, supaya besok bangun pagi mata terasa segar !"


"Anna, aku belum selesai tahu ngomongnya !"


Tubuh masih lemas, juga kedua mata belum terbuka dengan jelas melihat sekelilingnya.


Keluar dari rumah niat mencari udara segar, Danial justru disambut dengan kedatangan Hanin yang sudah ada di depan rumahnya.


"Pagi Sayang, kamu mau pergi ke mana pagi-pagi sekali?" ucap Hanin meraih tangan Danial


"Bukan urusan kamu !" melepaskan genggamannya.


"Kamu kenapa sih kerjaannya marah-marah mulu sama aku, ingat ya aku ini berhak mendapatkan perhatian lebih dari kamu !"

__ADS_1


"Oh iya, lalu ke mana saja kamu selama ini, yang pergi tanpa berkabar?"


"Aku sibuk kerja lah, emang kamu yang menikmati berduaan sama Anna !"


"Kamu tahu nggak, sebelum Anna sakit, dia selalu memperhatikan aku, ketimbang kamu yang hanya mementingkan diri sendiri saja !" jelas Danial pergi meninggalkan Hanin.


"Terus saja bandingkan aku dengannya, jelas akulah pemenangnya !" ucap Hanin memanyunkan bibirnya.


Bukan harta berlimpah dan sebongkah berlian yang dia berikan untuknya, namun cinta dan kasih sayang seluas samudera, sedalam lautan, setinggi langit yang dia miliki.


"Assalamualaikum, Tante, Om," ucap salam Tulus membawa buah tangan.


"Waalaikumussalam, Ibu bahagia sekali Anna memiliki teman-teman yang sangat mencintainya !"


"Ini Tulus membawa kue untuk Om, Tante juga Anna, kebetulan kue itu buatan Tulus sendiri,"


"Wah, ini kue kesukaan Anna !" sahut Pak Hamdan.


"Tulus, kapan kamu datang?" tanya Anna terkejut melihatnya.


"5 menit yang lalu, bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulillah kabar aku baik, kamu sendiri?"


"Kabarku buruk sekali, tahu kenapa?" ucap Tulus membuat Anna menggelengkan kepalanya.


"Karena aku harus belajar membuat kue yang enak untuk diberikan ke kamu !"


"Wow, tapi rasa kuenya nggak seburuk perasaan kamu kan?" canda Anna.


"Terima kasih Om,"


Mereka pergi menuju ke kebun Teh. Duduk di sebuah pondokan, saling berpandangan. Kemudian Tulus memulai percakapan paling serius.


"Kamu masih ingat aku kan?" tanya Tulus membuat Anna mengernyitkan dahinya.


"Please deh, kenapa sih bercanda terus !"


"Oke, jadi kamu mau aku berkata serius?"


Anna mengangguk.


"Maukah kamu menikah denganku?" ucap Tulus menatap lama wajah Anna.


"Ngelawak ya kamu !"


"Mana ada aku ngelawak An, memang kenyataannya begitu kok !"


"Kamu tuh seharusnya ngomong gini bukan ke aku, tapi ke Hanin !" jelas Anna seketika Tulus tertawa.


"Dia bukan milikku An, apa aku harus memaksanya?"


"Oke mungkin kamu berpikir aku masih mencintai Hanin kan, salah besar An !" jelas Tulus.


"Tunggu, kamu bilang tadi Hanin bukan milikmu dan sekarang dia milik orang lain, siapa orang yang kamu maksud itu. Katakan Tulus !" desak Anna.

__ADS_1


"Intinya dia diciptakan bukan untuk menjadi teman hidupku !" tegas Tulus memalingkan wajahnya.


"Tulus, apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?"


"Cukup, aku kemari bukan untuk membicarakan soal Hanin ya. Tapi aku benar-benar mau berkata jujur sama kamu !"


"Sebenarnya kamu ini sudah menikah dengan pria yang juga aku kenal, pernikahan itu nggak direncanakan alias kalian sama-sama terpaksa harus menikah !" ucap Tulus membuat Anna beranjak dari tempat duduknya.


Memiliki rumah yang megah, harta berlimpah, tidak menjamin dia bisa bernapas lega.


Terus menyayangkan putra kesayangannya karena lebih memilih jadi anak durhaka.


Mengira telah salah melangkah dalam memilih menantu.


Sekarang hanya berdiam diri, biar waktu yang bicara.


"Pasti Papa kan yang sudah membuat Danial terus mengejarnya?"


"Tanpa campur tangan Papa pun, Danial memang bertekad untuk mendapatkan cintanya kembali Ma !"


"Tolong Mama berhenti ikut campur urusan rumah tangga Danial dan Anna, karena yang benar adalah kita harus mendorong mereka untuk menjalani kehidupan berumah tangga bahagia bukan malah memecah belah !" jelas Pak Samsul.


"Oh jadi sekarang Papa salahkan Mama ya, Papa nggak lihat tuh anak kita luntang-lantung karena apa, semua ini gara-gara perempuan itu !"


"Bukan begitu Ma, Danial seperti sekarang ini karena kesalahannya sendiri !"


"Dia bermain api di belakang Anna, yang jelas-jelas itu dosa besar !"


"Tapi dia lantas mendapatkan itu, karena dia dan keluarganya juga sudah membohongi kita semua !"


"Ada apa ini, Papa dan Mama bertengkar soal Danial?" tanya Danial tiba-tiba ada diantara kedua orangtuanya.


"Papa kamu ini sudah salah pergaulan, kemakan sama mulut manis mereka !"


"Kenapa sih Mama masih saja membicarakan masalah ini, karena Danial dan Anna nggak akan pernah berpisah !" jelas Danial.


Anna sulit mencerna semua yang telah Tulus katakan. Dia berharap pendengarannya bermasalah.


"Ayolah Tulus ngomong jujur, capek tahu nggak harus bercanda terus !"


"Aku pun capek melihat kamu yang selalu menganggap aku guyon alias ngelucu alias bercanda !"


"Baiklah Tulus, lalu siapa suamiku?"


"Danial Syahreza, sahabatku !"


"Jadi yang waktu di rumah sakit itu, dia berkata jujur dong ?"


"Danial beneran suami aku, kok bisa?" ucap Anna membayangkan kejadian dirinya menikah dengan Danial, namun sukar mengingatnya.


"Mau percaya tapi kenapa susah ya, karena nggak mungkin dong Danial dan aku itu suami istri, bisa-bisanya dia mau sama aku !"


"Anna, kamu harus tahu aku melakukan semua ini supaya kamu bisa mengingat kembali semua kejadian yang telah berlalu !" jelas Tulus.


"Iya Tulus, jujur saja aku terus membayangkan sesuatu yang nggak aku ingat sama sekali !"

__ADS_1


"Baiklah, aku akan bantu kamu untuk bisa mengingat semuanya !"


__ADS_2