My Roommate'Class

My Roommate'Class
Aku pergi, jaga diri dan hati ya !


__ADS_3

Bangunan tua di pinggir jalan masih berdiri kokoh, hanya temboknya yang berubah. Walau di dalam sunyi tapi memiliki banyak penggemar.


Karena di dalam terdapat milyaran rahasia yang bisa kita dapatkan dengan harga murah, asal mau membacanya sampai halaman akhir.


"Dengan membaca buku mungkin bisa membuat hatiku lebih baik," ucap Anna sambil membuka pintu toko buku.


Banyak buku yang berjajar rapi di tempatnya. Hanya satu yang menarik hati Anna.


Saat Anna meraih buku itu, tiba-tiba ada seseorang yang ingin meraihnya juga.


"Hai, Anna !" ucap Tulus.


"Tulus, kamu ada di sini juga?"


"Lumayan sudah 10 menit yang lalu, kamu juga sudah lama atau baru datang?"


Mereka pun bercengkrama sambil duduk di bangku yang telah tersedia di toko buku tersebut.


"Aku baru saja datang, nggak nyangka ya kita bisa ketemu di toko buku pula,"


"Kamu sering ke toko buku ini ya?" tanya Anna.


"Bukan sering lagi tapi hampir setiap hari aku ke sini,"


"Oh iya, tunggu sejak kapan kamu jadi suka baca buku?"


"Sejak aku mengenalmu,"


"Kamu adalah orang yang menginspirasi ku untuk terus membaca buku !"


Anna tertawa kecil.


"Alhamdulillah kalau memang seperti itu, aku jadi punya teman untuk baca buku,"


"Oh iya kamu masih suka nulis cerita fiksi itu?" tanya Tulus.


"Masih, tapi setelah menikah aku jadi berhenti menulis,"


"Cerita yang dibuat itu selalu kamu up ke platform dimana cerita bisa jadi hidup, ya kan?"


"Iya, aku nggak menyangka kalau kamu masih ingat,"


"Pasti ingat dong, aku berharap suatu hari nanti kamu menulis tentang aku,"


"Boleh, tapi kamu harus ingat-ingat kejadian dulu sampai sekarang baru aku bisa menulisnya,"


"Waduh, banyak dong ya,"


"Tapi jujur, aku suka sama cerita yang kamu buat tentang persahabatan, cinta, dan keluarga yang bahagia,"


"Itu hanyalah sebuah cerita belaka, dan jarang terjadi di dunia nyata,"


"Apa kita nggak bisa menjadikannya nyata?"


"Maksudnya, aku akan bantu mewujudkan impian kamu yang sempat tertunda itu,"

__ADS_1


"Kamu yakin?"


"Aku saja nggak yakin bisa mewujudkannya, karena sekarang menulis jadi jarang aku lakukan,"


"Ayolah, ini nggak sulit tapi kurangnya kemauan, dan aku bisa bantu kamu untuk mewujudkan cita-cita itu !"


"Kamu bisa buktikan kepada orang-orang bahwa kamu mampu, bukan seorang gadis yang lugu dan cupu,"


"Aku nggak perlu untuk membuktikan apa pun terhadap orang-orang, karena yang membenci diriku akan semakin membenci,"


"Aku melakukan ini demi orang-orang yang mencintaiku,"


"Aku suka itu, dan aku janji An akan ikut berjuang dengan kamu," ucap Tulus bersungguh-sungguh.


"Terima kasih ya Tulus,"


Nanda membawa tas ransel yang berisi pakaian dan barang-barang nya.


"Nanda, kamu mau kemana?" tanya Ibunya melihat Nanda yang mengemas barang-barangnya.


"Apa itu penting buat Ibu, nggak kan?"


"Kenapa kamu jadi membangkang seperti ini?"


"Semua ini karena Ibu, dan Bapak yang selalu nggak adil dengan Nanda !"


"Itu nggak benar, bukankah dari dulu kamu sudah tahu kalau adikmu itu berbeda dengan yang lainnya,"


"Dia hanya butuh perhatian dan kasih sayang yang lebih, tapi ibu juga tetap keras terhadapnya supaya bisa jadi orang mandiri sama seperti kamu !"


"Cukup Nanda, Ibu sudah sabar menghadapi kamu selama ini tapi apa yang coba kamu berikan?"


"Bukannya Ibu dan Bapak ingin kamu bisa berbalas budi, tapi cukup dengan jadi anak yang baik saja sudah membuat hati kami sangat bahagia,"


"Oh jadi maksud Ibu, Nanda ini anak pembawa sial begitu?"


"Dan Anna yang nggak bisa apa-apa itu, menjadi anak kebanggan buat Ibu dan Bapak?"


"Nggak Nanda bukan begitu, semua sama dimata Ibu dan Bapak !" tegas ibunya.


"Nanda mau pergi kemana ini, kenapa membawa banyak barang?" tanya Bapaknya yang baru saja pulang dari Masjid.


"Bukan urusan Bapak !"


"Bapak tanya baik-baik, kamu jawab dengan baik juga dong,"


"Ingat ya, jangan pernah kalian mencari-cari Nanda !"


"Astaghfirullah, kenapa dengan anak itu Bu?"


"Ibu juga nggak tahu Pak apa yang membuat Nanda seperti itu," ucap Ibunya meneteskan air mata.


"Assalamualaikum Anna," ucap salam Bapak Anna di telepon.


"Waalaikumussalam iya Pak, ada hal apa Bapak telepon Anna?"

__ADS_1


"Apa kamu bisa pulang ke rumah hari ini, Ibu kamu tiba-tiba jatuh sakit,"


"Ya Allah, iya Pak Anna akan coba bicarakan hal ini dengan Mas Danial dulu ya,"


"Iya Anna terima kasih ya, assalamualaikum,"


"Iya Pak, waalaikumussalam,"


"Aku harus ke kantor Mas Danial,"


Anna terlihat begitu cemas, tubuhnya nya pun seketika lemas.


"Permisi Kak, apa Pak Danial nya apa ada di dalam?" tanya Anna pada resepsionis kantor.


"Kebetulan Pak Danial nya sedang meeting di luar Bu,"


"Hai Anna, sejak kapan kamu di sini?" tanya Arvin menghampirinya.


"Hai Vin, aku baru saja datang,"


"Danial sedang meeting ya?"


"Kalau Anna tahu Danial pergi bersama Hanin, aku nggak bisa bayangkan apa yang akan terjadi nanti. Batinnya. Bisa jadi itu An, soalnya dari pagi aku belum bertemu dengan dia," ucap Arvin memalingkan wajahnya.


"Pokoknya setelah ini kita harus bisa jalan-jalan lebih lama ya !" ucap Hanin yang baru saja keluar dari mobil dengan menggandeng Danial.


"Kalau begitu aku pulang ya Vin, tolong sampaikan pada Danial kalau aku datang kemari ya,"


"Iya Anna, hati-hati ya di jalan,"


Mereka pun bertemu di depan kantor.


Melihat ada Anna, Hanin semakin erat menggenggam tangan Danial.


"Anna ngapain di sini?" tanya Danial terkejut hingga melepaskan genggaman tangan Hanin.


"Anna cuma mau memastikan kalau Mas benar-benar menyelesaikan pekerjaannya di kantor,"


"Sama satu hal lagi, Anna mau izin ke Bandung hari ini,"


"Kenapa mendadak, apa yang sedang terjadi di sana?" tanya Danial.


"Ibu sedang sakit, dan sangat membutuhkan Anna saat ini Mas,"


"Tapi maaf Mas nggak bisa ikut Anna ke Bandung ya, tahu sendiri kan pekerjaan begitu banyak di kantor,"


"Pekerjaan kan, bukan hal lain?" tanya Anna sambil menatap wajah Hanin.


"Kenapa, kamu takut Danial akan menghabiskan waktunya bersamaku?"


"Itu sudah pasti, karena aku akan menjaga dan merawatnya disaat kamu pergi," ucap Hanin.


"Nggak perlu lah ya, aku yakin kamu nggak akan bisa karena hanya istrinya seorang saja yang pandai menjaga dan merawatnya !"


"Kalau begitu aku pergi dulu ya Mas, jaga diri kamu dari perempuan ini," ucap Anna lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


"Awas saja kamu Anna akan aku balas nanti. Batinnya. Kenapa masih di sini ayo kita masuk !" ucap Hanin menarik tangan Danial yang masih memperhatikan Anna.


__ADS_2