My Roommate'Class

My Roommate'Class
Mengapa Tuhan Menciptakan Hati?


__ADS_3

Aku bukan yang pertama membuatmu jatuh cinta.


Bukan juga jadi alasanmu bisa tersenyum manis


Jika kepergian ku membuatmu merasa bebas


Mengapa Tuhan menciptakan hati?


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Pak Usman dan Bu Pratiwi terkejut dengan kehadiran Anna.


"Maaf, saya telah lancang. Tapi saya mengatakan apa yang tidak bisa Maira jelaskan kepada kalian,"


"Walau tidak bisa melihat kedua orang tuanya menyatu kembali, setidaknya ia masih bisa melihat Tante dan Om akur,"


"Saya juga mohon sama Bapak untuk tidak lagi memaksa Maira berhubungan dengan mantan kekasihnya, Maira bilang sudah sangat bahagia bersama pilihannya dan kehidupannya sekarang,"


Mendengar ucapan Anna, Pak Usman jadi naik pitam.


"Kamu nggak usah sok pintar menasehati saya ya, urus saja pernikahanmu yang ada di ujung tanduk itu !"


"Urus diri sendiri saja nggak becus, sok ngatur kehidupan orang lain !"


Dari jauh Tulus memantaunya. Ia benar-benar kesal dengan sikap Pak Usman terhadap Anna.


Namun Anna tetap bersikap tenang.


"Saya ini hanya manusia biasa Om, banyak salah dan kurangnya,"


"Saya hanya ingin melihat Maira bahagia, itu saja,"


"Semoga kalian mengerti, saya permisi," imbuh Anna, lalu pergi dari sana.


Anna berjalan sambil menundukkan kepalanya, Tulus pun menghampirinya dan membuat orang yang dikasihinya itu kembali mengangkat kepalanya.


"Anna, are you oke?"


Anna menatap Tulus, memberikan senyum terindahnya.


"Ayolah kamu jangan bersembunyi di balik senyum manis itu, aku tahu kamu sedih setelah mendengar perkataan dari Bapak Maira,"


"Untuk apa aku harus bersedih, kenyataannya memang benar bukan?"


"Aku juga nggak bisa melakukan yang terbaik untuk rumah tangga ku,"


Tulus meminta Anna menatapnya.


"Harusnya kita ini menjadi sepasang suami istri ya, pasti ini semua nggak akan terjadi deh !" ucap Tulus sambil menggoda Anna.


Panas terik matahari yang mulai menyengat, tidak mematahkan semangat Fajar untuk bertemu dengan Maira.


Mengendap-endap untuk masuk ke dalam rumahnya, kebetulan sekali pintu rumah Maira tidak dikunci setelah mengantar suaminya yang pergi berkerja.


"Selamat pagi, Sayang,"


Maira terheran-heran mendengar sebutan sayang, ia pikir suaminya pulang kembali.

__ADS_1


Namun saat dicek, ternyata sama sekali tidak ada orang.


"Aku di sini Sayang !" ucap Fajar di belakang Maira.


Maira mengenali suara itu, ia berbalik badan dan langsung menjauhkan dirinya dari mantan kekasih nya.


"Fajar, kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Bukannya kamu sendiri yang mempersilakan aku masuk ke rumahmu?"


Maira langsung teringat, bahwa dirinya belum mengunci pintu rumahnya.


"Pergi kamu dari sini, sebelum aku berteriak maling !"


"Maling...Maling..., aku ini memang seorang maling, tepatnya pencuri hatimu !"


"Kamu benar-benar gila, sekali lagi aku minta kamu untuk pergi dari sini !" teriak Maira.


Karena kesal Maira terus menolaknya, Fajar mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke lantai, meminta untuk melayani nafsunya.


"Lepaskan, tolong jangan lakukan ini Fajar !" Maira terus berteriak minta tolong.


Perasaan Suaminya menjadi gelisah saat di perjalanan, setelah dipikir-pikir ternyata ia melupakan dokumen pentingnya. Kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah.


"Jangan Fajar, aku mohon !" ucap Maira sambil berusaha untuk berdiri kembali, namun Fajar tidak akan membiarkannya pergi.


Kedua kakinya ditarik, sampai Maira tersungkur, tubuhnya terkulai di lantai.


Fajar panik mengetahui Maira tidak bergerak, ia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Maira di sana.


Sampailah suaminya di rumah, ia merasa bingung melihat pintu rumahnya terbuka.


"Maira, ya Tuhan apa yang telah terjadi di sini?"


Di luar ruang IGD, seorang laki-laki kuat duduk sendiri sambil beberapa kali mengusap air mata di pipinya, menanti kabar dari kekasih hati. Orang-orang tersayang datang.


Menghitung waktu, hadirnya takdir yang baik dari Sang Maha Penyayang.


Anna duduk di sofa memandangi layar handphonenya.


Danial ikut duduk di sampingnya.


"Anna mau tanya sama Mas, boleh?"


"Tentu saja boleh, Anna tanya soal apa?"


"Anna jadi penasaran dengan perjalanan kisah cinta Mama dan Papa, Mas Danial pasti tahu kan?"


Danial tersenyum simpul.


"Kenapa tiba-tiba Anna ingin tahu kisah cinta Mama dan Papa?"


"Begini Mas, Anna menulis cerita isinya tentang rumah tangga yang bahagia, karena itu Anna ingin tahu kisah cinta Mama dan Papa,"


"Kenapa harus Mama dan Papa, Mas. Kisah cinta Ibu dan Bapak pasti juga indah?"


"Nggak ada yang perlu dikisahkan dari mereka, Ibu dan Bapak menikah karena cinta sedangkan Mama dan Papa menikah karena terpaksa, sama seperti Anna dan Mas,"

__ADS_1


"Pasti dalam pernikahan Mama dan Papa ada hambatan di dalamnya, nggak mungkin bisa langsung seperti sekarang ini,"


"Iya Anna benar, dulu Papa pernah bilang sama Mas kalau mereka menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing,"


"Anna mau dengar cerita selanjutnya?"


Anna mengangguk , lalu memperhatikan suaminya bercerita tentang kisah cinta orang tuanya.


Seorang Dokter keluar dari ruangan IGD, ia menceritakan keadaan Maira yang kini telah membaik.


Dokter menyayangkan jika saja terlambat membawa Maira ke rumah sakit, akan memperburuk keadaannya.


Setelah itu, Maira dipindahkan ke ruang perawatan.


Ia tidak ingin melihat wajah kedua orangtuanya, terus berteriak menyuruh mereka pergi.


Pak Usman begitu menyesal karena telah mempercayai Fajar, yang membuat Putri semata wayangnya menderita.


Bu Pratiwi juga, ia menyesal karena tidak ada di saat putrinya membutuhkan kasih sayangnya.


"Maafkan Bapak Nak, sudah membuat kamu seperti ini,"


"Bapak tahu kan, aku sangat menyayangi Bapak tapi kenapa Bapak tega melakukan ini ke aku !"


"Tuhan masih sayang sama aku, kalau nggak pasti aku dan bayi yang ada di dalam perut ini sudah mati !"


"Maafkan Bapak Maira, Bapak janji nggak lagi mengulangi kesalahan yang sama,"


Bu Pratiwi mencoba mendekat ke Maira.


Maira langsung memeluk Ibunya.


"Maafkan Maira Bu, karena waktu itu nggak mau percaya sama apa yang sudah Ibu katakan," ucap Maira berderai air mata.


"Iya Sayang, maafkan atas kesalahan Ibu juga ya, Ibu selalu buat kamu susah,"


Kedua Polisi datang untuk menjemput Pak Usman.


Hal itu membuat Maira semakin bersedih.


Bapaknya harus mendekam di penjara karena keserakahannya.


Kedua orang tua Maira memang telah berpisah.


Tapi ikatan anak ke Bapak dan Ibunya tak akan bisa lepas.


Tak ada kata mantan, mereka tetap keluarga yang utuh di mata anaknya.


"Maira di rumah sakit?"


"Iya, aku baru dapat info ini di grup,"


"Satu lagi, Pak Usman sudah dimasukkan ke sel tahanan atas dugaan menerima suap dari mantan kekasih Maira,"


"Astaghfirullah, kasihan Maira. Ia pasti sangat sedih,"


"Aku harap kamu jangan terlalu memikirkan hal ini ya, takutnya nanti sakit kamu jadi kambuh lagi,"

__ADS_1


"Terima kasih Tulus, aku janji akan jaga diri baik-baik supaya tetap sehat !"


Pintu kamar belum tertutup penuh, Danial mengundurkan diri untuk masuk ke dalam kamar, setelah mendengar Anna berbicara dengan Tulus di telepon.


__ADS_2