My Roommate'Class

My Roommate'Class
Bisakah Tetap Utuh?


__ADS_3

Mengapa cinta ini harus tumbuh diantara persahabatan yang telah kita jaga sejak dulu,


apakah persahabatan ini masih tetap utuh?




"Danial, tolong jawab pertanyaan ku !" desak Hanin.



"Yang Tulus katakan itu benar Han, Anna adalah istriku saat ini," ucap Danial yang enggan menatap wajah Hanin.



Hanin menggelengkan kepalanya, rasanya begitu sulit untuk dipercaya bahwa Danial telah menikah dengan Anna, sahabatnya.



"Ada apa Han, kenapa kamu begitu terkejut saat mengetahui Anna adalah istri danial?" tanya Tulus.



"Aku biasa saja kok, cuma aneh sih kenapa Danial dan Anna nggak kasih tahu aku soal pernikahan ini?"



"Oh aku kira kalian ini sudah sering bertemu, ternyata nggak ya," ucap Tulus membuat Danial dan Hanin merasa tak nyaman dengan situasi ini.



"Sebenarnya ada maksud apa kamu di sini?" tanya Danial lagi.



"Tadi aku sudah bilang bukan, kalau cuma mau bersantai di tempat favorit zaman sekolah dulu,"



"Tempat nongkrong kita Dan," imbuh Tulus.



"Kalau begitu aku pergi dulu ya," ucap Hanin.



"Kenapa terburu-buru Han, kita baru saja bertemu," ucap Tulus mengentikan langkah Hanin yang hendak pergi dari cafe.



"Kebetulan aku ada meeting sore ini, jadi harus siap-siap dulu,"



"Mungkin suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi ya Tulus, bye," ucap Hanin lalu pergi dari cafe tersebut.



Setelah berdiam diri di cafe, Tulus pergi ke sebuah taman yang tak jauh dari rumah Maira.



"Gimana, kamu sudah menemukan bibit masalah dari Anna?" tanya Maira di depan motor Tulus yang sedang terparkir di depan taman dekat rumahnya.



"Belum, tapi aku merasa aneh dengan sikap Danial tadi siang saat kutemui di tempat yang biasa kita nongkrong,"



"Aneh kenapa?"



"Dia di sana bersama Hanin,"



"Hanin, teman satu kelas kita kan?"



"Iya, best friend forever you and Anna,"



"Mungkin mereka nggak sengaja bertemu kali,"



"Bisa jadi, tapi yang lebih anehnya kenapa Hanin begitu terkejut saat dia tahu Anna itu istri Danial ya?"



"Ya pasti lah Hanin terkejut, sama kayak aku waktu itu yang nggak menyangka kalau Anna sudah menikah dengan Danial !"



"Tapi menurut aku bukan itu yang membuatnya begitu terkejut, pasti ada yang mereka sembunyikan dari Anna !"



"Mereka ada skandal gitu maksudnya?"



"Entahlah, aku akan cari tahu lagi soal itu,"



"Setuju, kita nggak boleh menyerah sebelum tahu apa yang sedang terjadi dengan Anna !"



Danial pulang dengan wajah ketakutan. Mengucap salam dengan lirih.



"Assalamualaikum, anna," ucap salam Danial yang belum dijawab oleh Anna.

__ADS_1



"Sayang?" ucap Danial sambil duduk di kursi.



"Iya Mas, waalaikumussalam,"



"Mas ucap salam dari tadi kenapa nggak dijawab sama Anna?"



"Oh iya, maaf Anna nggak kedengaran kalau Mas tadi ucap salam,"



"Mas bertemu dengan siapa saja hari ini?"



"Kenapa Anna menanyakan tentang bertemu dengan siapa saja aku hari ini, apa Tulus memberitahu soal di cafe tadi. Batinnya. Memang kenapa anna tanya tentang ini?"



"Bukan apa-apa sih Mas, ingin tahu siapa saja teman-teman Mas di luar sana,"



Mendengar jawaban Anna. Danial yakin Tulus tak berkata apa-apa pada Anna.



"Tadi siang mas bertemu dengan Tulus,"



"Tulus?" tanya Anna begitu terkejut mendengar nama Tulus.



"Sayang sekali ya Anna nggak bertemu dengannya,"



"Untuk apa Anna ingin bertemu dengannya?"



"Mas kepo ya..?" ucap Anna membuat Danial memalingkan wajahnya.



"Sama sekali nggak, Anna mau bertemu dengan siapapun nggak masalah buat Mas !" ucap Danial lalu pergi ke kamarnya.



Di Kamar Danial tertawa terus-menerus hingga tidak sadar telah membiarkan Anna sendirian di sampingnya.



"Mas nggak mau tidur, sudah malam ini," tanya Anna dengan lembut.




Seketika Danial menyadari dengan apa yang baru saja ia lontarkan pada Anna. Ia pun menaruh handphonenya, dan memperhatikan istrinya.



"Maaf ya tadi Nas nggak bermaksud membuat Anna sedih, tahu sendiri kan kalau hal ini juga penting untuk Mas?" ucap Danial tanpa memikirkan perasaan Anna.



"Mas sok tahu deh ya, Anna nggak sedih kok,"



"Rasanya itu ikut bahagia, melihat Mas bisa bersenda gurau dengan manja dengannya,"



"Yang Anna katakan itu benar, bertahun-tahun Mas menantikan semua ini akhirnya bisa merasakan juga nikmatnya jatuh cinta,"



Danial berbohong pada Anna, karena kenyataannya Hanin masih marah dengannya.



"Iya, sayangnya Mas telah jatuh cinta pada orang yang salah," ucap Anna membuat Danial bertanya-tanya.



"Salah bagaimana?"



"Mencintai seseorang di waktu yang salah, Mas tahu kan saat ini sudah punya seorang istri?"



"Tapi Anna juga tahu kan kalau cinta dan kasih sayang ini sudah lama menjadi miliknya?



"Jadi jangan pernah berharap Mas bisa berikan cinta itu untuk Anna," ucap Danial lalu memilih untuk tidur.



"Anna tahu, tapi apa salahnya jika mengharapkan cinta dari Mas. Batinnya. Selamat malam Mas," ucap Anna yang juga pergi tidur.



Danial menyesal setelah kejadian waktu itu, dan mencoba membujuk Hanin.



"Hanin, bisa kita bicara sebentar?" ucap Danial begitu gelisah.

__ADS_1



"Apa lagi sih?"



"Soal Tulus kemarin, kamu nggak perlu khawatir ya karena aku pastikan akan baik-baik saja,"



"Bagaimana kalau teman-teman sekolah tahu, mereka pasti akan mencaci maki aku !"



"Sudah berapa kali aku bilang, jangan dengarkan kata orang Han,"



"Aku malah takut kalau anna mengetahui hal ini,"



"Kenapa sekarang jadi kamu yang takut sih, bukannya dia sudah setuju dengan hubungan kita?"



"Iya, aku nggak bisa membayangkan bagaimana dia tahu kalau orang itu adalah kamu,"



"Bukankah anna itu sahabat kamu?"



"Iya itu dulu, sekarang ia bukan sahabat ku lagi Dan, jadi untuk apa aku khawatir dengan Anna?"



Danial bertanya-tanya apa yang terjadi diantara Anna dan Hanin, sebuah persahabatan yang kokoh pada masa itu. Sulit menerobosnya, namun sekarang tinggal puing kenangan.



"Oke, aku sedikit lega mendengarnya,"



"Iya Dan, lebih baik kamu itu fokus saja dengan hubungan kita ini dan jangan memikirkan hal lain ya," ucap Hanin sambil meraih tangan Danial.



Tulus datang ke rumah orang tua Anna dengan membawa buah tangan kesukaan Anna.



"Alhamdulillah kabar Ibu, dan Bapak baik,"



"Tulus kemari sendirian?"



"Iya Bu, tadi saya dari kantor lalu berniat untuk mampir sebentar ke sini,"



"Anna sudah lama ya bu nggak pulang ke Bandung?"



"Waktu itu kemari, tapi hanya menginap semalam saja,"



"Eh nak Tulus ini sudah tahu belum kalau Anna sudah menikah?"



"Iya Bu, saya sudah tahu soal itu,"



"Jujur saya terkejut mendengar kabar itu, tapi saya bahagia melihat Anna juga bahagia dengan kehidupannya sekarang,"



"Alhamdulillah, karena mendadak juga jadi maaf ya nggak kasih kabar sama Tulus dan teman-teman yang lainnya,"



"Iya Bu nggak masalah kok, kebetulan waktu itu saya sudah bertemu dengan Anna juga suaminya,"



"Oh iya, kenapa Anna nggak cerita ya soal itu?"



"Ketemunya juga kebetulan saat di Mall, entahlah Bu saya melihat Anna begitu murung, berbeda dengan Anna yang dulu selalu ceria,"



"Hmm mungkin karena dia merasa lelah menjadi seorang ibu rumah tangga, biasalah namanya juga baru menikah kan?"



"Iya Bu, mudah-mudahan memang benar Anna cuma kelelahan saja ya,"



Danial pulang ke rumah dengan wajah yang begitu datar.



"Assalamualaikum," ucap salam Danial.



"Waalaikumussalam, sudah pulang Mas?"


__ADS_1


"Hai, mbak Anna !" ucap Hanin yang tiba-tiba muncul dari belakang Danial.


__ADS_2