
Banyaknya peralatan dan beberapa bahan yang berjajar di atas meja dapur.
"Sini Mas, Anna mau minta tolong untuk bantu Anna membuat kue !" ucap Anna menarik tangan Danial.
"Untuk apa Anna buat kue?"
"Mas lupa ya kalau hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Mama dan Papa !"
"Ya Allah, Mas sampai lupa dengan itu,"
"Karena Mas sudah ingat, mari kita buat sama-sama !"
"Nggak ah, nanti mas jadi kotor semua,"
"Tenang, anna sudah siapkan ini supaya tetap bersih," ucap Anna mengenakan appron pada tubuh Danial.
"Oke, kita buat sekarang !" ucap Danial begitu bersemangat.
Mereka bekerja sama untuk membuat kue yang sempurna di hari bahagia Mama dan Papa. Sambil bersenda gurau, namun tetap fokus.
"Lihat, cicaknya gede banget tuh !" ucap Danial yang siap menimpuk pipi Anna dengan tepung terigu.
"Mana, nggak ada?" tanya Anna kebingungan.
"Lihat sini,"
Plug........
"Ih ngeselin banget sih Mas, awas ya Anna balas nanti !" ucap Anna mengelap pipinya yang penuh dengan tepung terigu.
"Habis serius banget,"
"Kalau nggak enak gimana, Mas mau Mama dan Papa kecewa lagi?"
30 menit berjalan, tercium aroma kenikmatan dari dalam oven.
"Alhamdulillah, jadi juga kuenya," ucap Anna, takjub melihat kue buatannya yang sempurna.
"Mas yang hias kuenya ya, Anna mau bersih-bersih dulu,"
"Iya, biar Mas yang selesaikan,"
"Mas coba lihat, apa yang terjadi dengan telapak tangan Anna ini !"
"Mana?"
"Nah, kena juga kan," ucap Anna setelah mencolek Danial dengan krim di hidungnya.
"Oh balas dendam nih, Mas nggak akan tinggal diam !" ucap Danial berlarian mengejar Anna.
"Iya Mas, ampun !"
Danial pun berhasil menangkapnya dan memeluk Anna dengan erat, lalu mengusapkan sisa krim di hidungnya dengan cara mendekatkan wajahnya ke Anna. Siapa sangka krim itu malah mendarat ke pipinya, membuat hati Anna berdegup kencang.
"Skornya sekarang 2-1," ucap Danial sambil tertawa puas.
Danial terlihat semakin tampan dan gagah mengenakan jas berwarna navy, juga Anna yang senada dengannya.
"Assalamualaikum, Ma, Pa," ucap salam Danial dan Anna.
"Waalaikumussalam," ucap Mama Danial.
"Papa di mana Ma?" tanya Danial.
"Danial, Anna, ayo duduk,"
"Ada apa kalian malam-malam ke sini?" tanya Papanya.
__ADS_1
"Happy anniversary Mama dan Papa !" ucap Anna sambil memberikan sekotak berisi kue buatannya.
"Ya Allah, kalian ingat aja kalau hari ini adalah ulang tahun pernikahan Mama dan Papa," ucap Papanya penuh haru.
"Selamat ya Pa, semoga Mama dan Papa bahagia selalu," ucap Danial.
"Aamiin, terima kasih ya Danial, Anna,"
"Mama, ucapkanlah terima kasih sama mereka,"
Mama Danial enggan membuka mulutnya karena masih kesal dengan Danial.
"Terima kasih ya Anna, Mama mau ke kamar dulu ya,"
"Mama kenapa Pa, apa masih marah sama Danial?"
"Kamu bicara sama Mama ya, dan katakan dengan jujur,"
"Anna tunggu di sini ya, Mas harus bicara sama Mama,"
"Iya Mas,"
Berdiri di pintu kamar mamanya. Tak mampu untuk berterus terang, karena pasti akan kembali melukai hati malaikat tak bersayap yang ada dihadapannya.
"Ma, danial boleh masuk kan?"
"Masuklah,"
"Mama kenapa di sini, harusnya ikut memakan kue ulang tahun pernikahan Mama dan Papa,"
"Mama tahu nggak, kue itu buatan Danial dan Anna loh !"
"Anna istri yang sempurna ya, tapi sayangnya suami dia nggak bisa melihat semua itu,"
"Harusnya Mama nggak meminta Ibunya untuk memberikan putrinya sama putra Mama,"
"Yang jauh lebih sakit itu Anna, bukan Mama !"
"Kasihan dia, harus tersiksa dengan sikap kamu yang sangat memalukan itu !"
"Dengar ya Danial, mama nggak mau melihat kamu bersama Hanin lagi !"
"Walau kamu mencintainya pun, Mama tetap nggak ridho !" tegas mamanya.
"Kasihan mas Danial, dia dipaksa harus melupakan cintanya hanya untuk aku," ucap Anna merenung saat mendengar pembicaraan Danial dan Mamanya.
"Danial akan berusaha untuk menuruti keinginan Mama ya,"
Esok harinya, Danial berangkat kerja namun kehilangan semangatnya tak seperti hari-hari sebelumnya.
"Mas hari ini baik-baik saja kan?" tanya Anna.
"Iya, Mas berangkat dulu ya," ucap Danial yang pergi begitu saja.
Di kantor ramai orang berjajar di depan pintu ruang kerja Danial. Termasuk Arvin, dengan memberikan ucapan selamat kepada sahabatnya itu.
"Selamat ya Dan, aku bangga dengan kamu !"
"Aku jadi bingung, ada apa ini?"
"Kamu pasti nggak baca chat dariku ya?"
"Maaf semalam aku nggak sempat buka handphone,"
"Kamu tahu nggak, kerja sama kita yang waktu itu telah berhasil !"
"Oh iya, bagus dong !"
__ADS_1
"Iya, tentunya ini berkat kamu juga,"
"Terima kasih ya Dan, aku harap kamu semakin fokus kedepannya,"
"Sayang, aku ucapkan selamat ya buat kamu !" ucap Hanin.
"Terima kasih Han, oh iya Vin aku ke ruangan Papa dulu ya,"
"Danial tunggu," teriak Hanin mengejar Danial.
"Kamu kenapa sih, masih marah sama aku?"
"Maaf Han, aku nggak mau membahas soal ini lagi,"
"Tapi kamu udah nggak marah lagi kan?"
"Danial, ada yang mau Papa bicarakan sama kamu,"
"Papa tunggu di ruangan Papa ya," ucap Papanya.
"Maaf Han, aku harus pergi,"
"Ih kenapa sih dia jadi menghindar dari aku?"
"Ini pasti gara-gara Anna, lihat saja aku akan buat perhitungan dengannya !"
Anna tak tahu lagi kepada siapa ia menumpahkan air matanya, ia pergi untuk menemui Maira.
"Lalu kenapa kamu jadi sedih, bukannya ini yang kamu inginkan?" tanya Maira.
"Danial bisa melupakan Hanin selamanya,"
"Aku nggak mau menjadi orang yang dia benci,"
"Hanya karena aku, dia melupakan cintanya,"
"Tapi kamu tahu kan kalau hubungan mereka itu salah, Danial itu suami kamu dan Hanin mencoba untuk memisahkan kamu dengannya,"
"Dan kamu masih mau membela mereka?"
"Itu berarti kamu sama aja dengan mereka, mau masuk dalam neraka !"
"Astaghfirullah, kamu memang benar ra,"
"Seharusnya dulu aku memintanya untuk melepaskan aku saja, ketimbang dia harus menyakiti dirinya sendiri,"
"Aku nggak ngerti deh sama jalan pikiran kamu ini, jelas-jelas dia sudah salah tapi kamu masih saja membelanya,"
Danial tak bersuara, tawanya yang melukai tak terdengar lagi di telinga Anna.
"Hanin lagi ngapain ya sekarang?" ucap Anna duduk di samping Danial yang tengah melamun sendiri di sofa.
"Hanin itu cantik ya Mas, dia juga wanita yang sangat cerdas !"
"Dulu waktu di sekolah selalu menjadi bintang kelas, sampai Anna tuh iri banget sama dia, kapan bisa menjadi sepertinya,"
"Kenapa Anna tiba-tiba menceritakan kisah tentang Hanin sama Mas, bukannya Anna membencinya?"
"Sampai kapanpun Anna akan menganggapnya sebagai seorang sahabat, karena buat apa juga anna membencinya,"
"Karena ada benarnya juga dengan apa yang waktu itu Hanin katakan, kalau sampai kapanpun Anna nggak akan bisa mendapatkan cintanya Mas,"
"Cuma ada nama Hanin Haifa di hati Mas, benar bukan?"
"Anna minta maaf ya Mas kalau banyak salah kata dan tingkah laku yang buruk, selamat malam," ucap Anna lalu pergi ke kamar.
"Maafkan Mas yang belum bisa mencintai anna," ucap Danial seorang diri.
__ADS_1
Anna mendengar keluh Danial tentang perasaannya yang tak bisa mencintainya.