
Tentang dusta yang sukar digenggam.
Terlepas dan meluluhlantakkan kepercayaan yang utuh.
Bimbang memilih tinggal atau penggal benih cinta yang mulai tumbuh.
"Ada apa ini Mama ke kantor pagi sekali?" tanya Danial.
"Mama tadi ke rumah kamu, tapi ternyata nggak ada orang di sana makanya Mama ke kantor,"
"Anna nggak ada di rumah Ma?"
"Kok kamu bisa nggak tahu Anna pergi ke mana dengan siapa dan melakukan apa,"
"Anna biasa pergi lari pagi di are kompleks Ma,"
"Bersama laki-laki lain?"
"Apa maksud Mama?"
"Kamu mau coba membohongi Mama lagi ya, Mama sudah tahu semuanya !"
"Kalau Anna dekat dengan temanmu Tulus itu kan?"
Danial seketika bertanya-tanya mengapa Mamanya bisa tahu tentang Anna dan Tulus.
"Mereka sebatas rekan kerja saja Ma,"
"Lalu bagaimana dengan kamu dan Hanin, kalian sudah berteman lama dan sekarang jadi rekan kerja,"
"Apa istrimu itu juga nggak bisa berbuat yang sama seperti kamu?"
"Anna bukan wanita yang seperti itu Ma, dan Danial bisa jamin itu,"
"Tapi tetap kamu harus hati-hati, karena Mama nggak akan biarkan ada orang yang berani menyakiti putra kesayangan Mama ini,"
"Mama nggak perlu khawatir, Danial bisa jaga diri baik-baik,"
Keringat mulai bercucuran deras di tubuh Anna dan Tulus. Sebuah handuk merah persegi melayang di depan wajah Anna.
"Hei ada namaku di sini !" ucap Anna takjub saat memandangi handuk merah pemberian Tulus.
"Bagus nggak, aku sulam nama kamu di handuk juga selain di hati,"
"Manis sekali, terima kasih ya,"
"Jaga baik-baik ya, jangan lupa untuk dicuci juga !"
"Pastinya dong, aku bahagia sekali memiliki sahabat seperti kamu yang selalu ada saat aku butuhkan,"
"It's okay, aku sambil belajar jadi suami yang baik untuk kamu nanti,"
"Sepertinya lari pagi hari ini sudah cukup,"
"Tapi masih ada waktu 15 menit lagi loh,"
"Lebih baik kita jalan saja, karena jalan itu paling sehat buat jantung,"
"Apalagi jalan bareng kamu, yang bagus buat jantung hati kita," ucap Tulus menggoda Anna.
"Hmm bisa-bisa,"
"Oh iya sudah siaplah kamu malam ini?"
"Ini adalah kali pertama kita perform live musik di cafe,"
"Iya, aku sudah siap untuk bertarung hari ini !"
"Oke, semangat untuk kita !"
Bintang kecil penuhi ruang bulan separuh di langit biru, ikut menyaksikan dua insan sedang bersenandung sendu berpijak di panggung kecil bernuansa asmara yang menggebu.
__ADS_1
"Nggak Han, aku sudah bilang kalau kita harus menjauh saat ini !" tegas Danial.
"Tapi kamu harus ikut aku sekarang juga !"
"Tolong jangan paksa aku !"
"Oke, ini yang terakhir kalinya !"
"Please, kamu percaya sama aku,"
"Kamu lihat, mereka begitu mesra di sana !" ucap Hanin pada Danial yang baru saja sampai di cafe tempat Anna dan Tulus membawakan sebuah lagu.
Karena begitu kesal Danial menghampiri mereka, dan memaksa Anna untuk berhenti menyanyi.
"Kenapa Anna melakukan ini?"
"Tenang Dan, kamu jangan salah paham dulu,"
"Iya Mas, ini semua nggak seperti yang kamu bayangkan,"
"Ternyata Mas salah menilai Anna selama ini, dan kamu yang mengaku sebagai sahabat ku,"
"Kalian sudah berhasil membuat aku sadar, bahwa kalian nggak pantas untuk aku kasihi !" ucap Danial pergi meninggalkan Anna di sana bersama Tulus.
"Tunggu Mas, Anna bisa jelaskan semuanya," ucap Anna meraih tangan Danial.
Danial melepaskan genggaman tangan Anna lalu memilih pergi bersama Hanin.
Anna kembali merasakan sakit di kepalanya, kedua telinganya juga berdengung hebat.
Tulus yang melihatnya segera membawa Anna untuk istirahat.
"Kamu tenang ya, coba istirahat dulu," ucap Tulus menenangkan Anna sambil memberikan sebutir obat dan sebotol minuman mineral.
"Aku nggak mau dia sampai membenci kamu,"
"Keduanya, kamu adalah sahabat Danial dan aku nggak mau jadi bom diantara kalian,"
"Aku tahu dia begitu mencintai Hanin, dan aku ikhlas jika nanti dia memilih pergi bersamanya,"
"Kamu jangan pikirkan hal ini dulu ya, yang jauh lebih penting sekarang adalah kesehatan mu oke?"
Anna pulang ke rumah Danial bersama dengan Tulus. Namun tak ada mobil yang terparkir di sana.
"Kamu yakin nih di rumah sendirian?"
"Aku sudah terbiasa sendiri, kamu jangan terlalu mengkhawatirkan aku ya,"
"Tapi saat ini kamu sedang sakit, bagaimana aku nggak khawatir?"
"Sekarang aku sudah membaik, ayolah Tulus,"
"Jaga diri baik-baik ya, besok aku akan menemui mu lagi,"
Selang beberapa menit, ada suara mobil berhenti di depan rumah Danial.
Rupanya itu Danial yang pulang bersama Hanin.
"Bye Sayang, see you tomorrow !"
Danial masuk ke kamar mendapati Anna yang sudah berbaring di sana.
Ia mengambil sebuah guling untuk menengahi keduanya.
"Mas, sarapan dulu yuk !" ajak Anna yang tak digubris oleh Danial, karena asyik melihat telepon seluler nya.
"Anna sudah buatkan makanan kesukaan Mas loh !"
"Mas, Anna mau minta maaf atas kejadian semalam,"
__ADS_1
"Iya Sayang, sebentar lagi aku jalan," ucap Danial di telepon, dan pergi tanpa sepatah katapun.
Untuk menenangkan pikirannya, Anna pergi ke toko buku, sambil menorehkan tinta pada secarik kertas di buku diary usang nya.
"Setiap hari aku tidak merasakan kepanasan, karena dekat dengannya serasa di Kutub Utara, dingin sekali,"
"Membuatku tak bisa berbuat apapun, karena membeku," tulisnya di diary.
"Tapi saat dia tersenyum, aku seperti semut kecil yang tenggelam dalam senyumnya,"
"Andai dia tahu berapa besarnya cinta yang aku punya untuknya, tapi apa aku bisa mengalahkan cintanya pada perempuan itu?"
"Dari Anna istri Mas,"
"Apa yang kamu tulis?" tanya Tulus mengejutkan Anna.
"Nggak ada, hanya coretan saja," ucap Anna, langsung menutup buku diary nya.
"Aku ada kabar baik, ini buat kamu," ucap Tulus sambil memberikan amplop cokelat yang begitu tebal.
"Apa ini?"
"Kamu lihat saja apa isinya, tapi ingat jangan sampai pingsan ya,"
Anna terkejut saat melihat isi dari amplop cokelat tersebut, yang di dalamnya terdapat uang banyak.
"Uang sebanyak ini dari mana?"
"Dari kerja keras kita, ya itu hasil dari perform pertama kita,"
"Kamu serius, aku nggak nyangka dapat uang sebanyak ini,"
"Dan aku minta kamu gunakan uang itu untuk keperluan kamu, entah untuk beli alat untuk menulis atau apapun terserah kamu,"
"Nggak ah, uang ini sepenuhnya milik kamu,"
"Anna, aku mau kamu yang ambil alih uang ini, karena kamu pasti sangat membutuhkannya bukan?"
"Tulus benar, aku memang sangat membutuhkan uang banyak saat ini untuk bisa melunasi hutang abang nanda. Batinnya. Aku memang sangat membutuhkannya tulus,"
"Aku bilang juga apa, kamu jauh lebih membutuhkan uang itu,"
"Terima kasih ya, tapi mungkin ini jadi yang terkahir,"
"Baiklah, aku dukung apapun keputusan dari kamu,"
Anna bersyukur bisa mendapatkan uang untuk bisa membayar lunas hutang Abangnya. Ia pun pergi untuk menemui Abangnya.
"Abang, semoga uang ini cukup untuk melunasi hutang Abang Nanda ya,"
"Terima kasih Anna, maaf kalau abang banyak menyusahkan Anna,"
"Nggak kok bang, justru Anna senang bisa bantu Abang,"
"Bukankah kita harus saling tolong menolong?"
"Tapi Anna dapatkan uang sebanyak ini dari mana?"
"Anna dapat uang itu dari hasil keringat sendiri loh Bang, akhirnya Anna bisa merasakan lelahnya mencari uang,"
"Oh iya, berarti Abang salah ya selama ini mengira Anna yang nggak bisa mandiri,"
"Bisa dong, buktinya Anna bisa mendapatkan uang ini untuk Abang,"
"Abang janji ya sama Anna ini untuk yang terakhir kalinya,"
"Iya Abang janji, akan jadi orang yang lebih baik lagi,"
Danial begitu malu setelah mendengar semua percakapan Anna dan Abangnya.
Tak punya hati dirinya, selalu menuduh Anna yang bukan-bukan.
__ADS_1