My Roommate'Class

My Roommate'Class
Cinta Sampai Di sini


__ADS_3

Di pojok bangku kelas


Ada mata yang diam-diam merekam senyum indahnya


Ada hasrat yang harus berjarak


Apa dayaku sebatas mengagumi tanpa bisa menyuarakan rasa.


(Tulisan Buku Diary Anna Anindira, kelas 3 STM/SMK)


Sampai pukul 11 malam Danial terus mengembangkan senyumnya juga pipi yang mulai merona hal itu disebabkan oleh buku diary milik istrinya.


Dia pun kecanduan membuka halaman selanjutnya, dan mendapati foto dirinya. Foto itu diabadikan untuk buku tahunan sekolah.


Dalam foto tersebut sebenarnya ada banyak manusia, selain Danial ada Hanin, Tulus, Anggun, Hilman dan Arvin. Ulah tangan Anna yang hanya menyisakan satu manusia saja, yaitu Danial.


Sebuah foto yang pertama dan terakhir aku dapatkan.


Rasa itu tumbuh pada detik-detik akhir masa di SMP.


Ku pikir hanya cinta sesaat, ternyata berlanjut.


Isi otakku ini bukan untuk sekolah, dan pekerjaan di rumah saja.


Tapi juga untuknya.


Sudah tahu dia banyak minusnya, namun aku dibutakan karena cinta anak remaja.


Mataku hanya ingin melihatnya.


Harus sama-sama terus sampai lulus.


Modal tampang, tidaklah gampang memang. Prestasi cemerlang nomor satu.


Ada hari-hari di mana aku menjadi orang gila. ya, gila karena cinta ! Makan tuh cinta !


Soal-soal ujian selalu membuatnya tertekan.


Pada menit-menit mencekam, aku mulai beraksi.


Sebelum kertas-kertas ujian itu sampai di tangan Bapak, Ibu Guru. Aku berhasil menyalin jawabanku di kertas ujiannya. Saat dia lengah, pamit ke toilet mencoba menemukan jawaban di sana.


Danial, teman-teman yang lain, tidak tahu, bahkan Bapak, Ibu Guru.


Satu, hanya Tuhan yang tahu aksiku waktu itu.


Tuhan memang baik, mengabulkan doaku.


Aku bertemu kembali dengannya, di sekolah yang sama dan satu kelas.


Sayangnya dia semakin jauh ku tempuh.


Sahabat yang baik telah membuat hidupnya begitu asyik.


Hatiku jadi terusik karena yang dilirik adalah sahabatku sendiri, Hanin Haifa.


Cantik dan pintar pilihannya.


Canda tawa mereka berhasil membuatku tidak berdaya.


Tekad ku untuk membuang jauh-jauh perasaan untuknya gagal.


Biarlah cinta ini kubawa lari bersama mimpi.


"Ya Allah, itu artinya Anna sudah lama mencintaiku?" ucap Danial menutup buku diary istrinya.

__ADS_1


"Kenapa aku nggak pernah bisa melihat cinta yang begitu besar darinya bahkan setelah menikah dengannya !"


"Setiap hari dia selalu menghujaniku dengan cinta, sedangkan aku selalu membuatnya menangis,"


Esok paginya, Danial pulang ke Jakarta.


Lalu bertemu dengan Maira.


"Sebenarnya aku tuh malas banget ketemu sama kamu, habis kesel lihat perlakuan kamu ke sahabatku, Anna !" ucap Maira bersungut-sungut.


"Aku minta maaf Maira, jujur aku baru tahu semuanya !"


"Tentang perasaannya padaku, yang sudah lama dia pendam tanpa aku tahu !" jelas Danial nyaris mengeluarkan bulir-bulir bening.


"Baguslah kalau kamu tahu, walau sudah terlambat juga,"


"Aku nggak nyangka kamu bisa sekejam ini sama Anna, apa sih yang kamu cari dari Hanin?"


"Kamu harus tahu satu hal, Hanin hanya main-main denganmu !"


"Aku dan Anna berhasil memergokinya di hotel bersama laki-laki lain, bodohnya istrimu itu mencegah aku untuk melabraknya !"


"Tahu kenapa, karena dia masih menjaga perasaanmu !" jelas Maira membuat Danial melotot.


"Iya aku tahu, aku yang bodoh Ra !"


"Aku mau memperbaiki semuanya, dan nggak akan pernah menyakitinya lagi !"


"Buang saja lah impian kamu untuk bisa hidup bersama Anna lagi, kamu pikir rasa sakit itu hilang dengan mudahnya?"


"Wanita memang bisa memaafkan, tapi nggak untuk melupakannya !" jelas Maira pergi meninggalkan Danial.


2 Bulan berlalu, menikmati nikmatnya jauh dari keramaian.


Walau kadang sunyi juga menyakitkan, kala wajah dan senyumnya melintas di pikiranku.


Rasa ingin tetap di sini, melupakan semua memori tentangnya.


Memulai kehidupan baru, berdamai dengan diri sendiri.


"Nggak terasa ya ketenangan ini segera berakhir, padahal aku masih ingin bersamamu di sini," ucap Anna menatap Tulus dengan tersenyum.


"Bohong, bilang saja masih ingin tinggal di sini karena setiap bangun tidur langsung menatap lautan, benar bukan?" canda Tulus membuat Anna menggelengkan kepala.


"Benar Tulus, aku benar-benar merasa nyaman berada di dekatmu !" jelas Anna.


"Apa kamu yakin setelah kamu mengingat semuanya, aku cuma mau melihat kamu bahagia !"


"Aku tahu kamu menginginkan aku bahagia, dan bahagiaku ada bersamamu !"


"Kalau sekarang kamu mau mengajakku untuk hidup bersama, aku setuju !" imbuh Anna membuat Tulus tertawa.


"Detik ini pun kamu masih menjadi milik orang lain, bagaimana aku bisa melakukannya?"


"Baiklah, pulang dari sini aku akan memintanya untuk menalak aku !"


"Nggak semudah itu An, kamu tahu sendiri kan bagaimana Danial?"


"Dia bukan orang yang mudah menyerah, apa yang dia inginkan pasti dapat !"


"Seharusnya kamu mendukung aku, bukan dia !" ucap Anna memalingkan wajahnya.


Hidangan makanan ringan dan berat untuk menyambut kedatangan putrinya sudah tertata rapi di atas meja makan.


Bu Lilis dan Pak Hamdan tidak sabar menyampaikan kerinduannya.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang kurang Bu !" ucap Pak Hamdan.


"Apa itu Pak, Ibu rasa semuanya sudah tersedia !"


"Ibu sudah melupakan putranya, Bapak mau Nanda juga ada di sini Bu, pasti Anna bahagia melihat keluarganya berkumpul !"


"Ibu setuju Pak, kalau gitu Ibu telepon Nanda dulu ya !"


"Assalamualaikum Nanda, hari ini adikmu pulang, kamu bisa kan pulang ke Bandung?"


"Terima kasih ya, Ibu dan Bapak menunggu di rumah !"


"Alhamdulillah, Nanda setuju Pak !"


Danial sudah lama sekali tidak mengunjungi mertuanya di Bandung, Istrinya memang tidak ada di sana, tapi bukan berarti dia memutuskan tali silaturrahmi.


"Tulus, ayo masuk !" ucap Anna yang baru sampai di rumahnya.


"Maaf Anna, aku harus pergi ke studio musik !"


"Baiklah, aku nggak bisa memaksamu,"


"Terima kasih ya, tapi besok janji kan kamu ajak aku ke toko buku?"


"Iya Tuan Putri, janji harus ditepati kan?"


Anna mengangguk.


"Bye, selamat malam,"


"Sampai jumpa besok !"


"Assalamualaikum, Ibu, Bapak !" ucap salam Anna mengetuk pintu rumah.


"Waalaikumussalam, Anna pulang sendirian?"


"Nggak Pak, Anna pulang bersama Tulus,"


"Lalu di mana dia sekarang?"


"Dia minta maaf nggak bisa menemui Bapak dan Ibu, karena harus ke studio musiknya !"


"Begitu ya, padahal Ibu sudah memasak makanan banyak malam ini !"


"Hmm Anna jadi lapar nih, boleh kita makan sekarang?"


"Ayo kita makan sama-sama !"


"Selamat datang kembali di rumah ini, adikku," ucap Nanda membuat mulut Anna menganga lebar.


"Abang !"


"Anna senang sekali melihat semuanya berkumpul malam ini !"


"Sudah lama ya kita nggak makan sama-sama seperti ini, Anna benar-benar rindu !"


"Bagaimana lingkungan di sana, apa Anna betah ?" tanya Abang Nanda.


"Anna sebenarnya nggak mau pulang, karena terlalu betah tinggal di sana !"


"Apa kamu sudah bisa mengingat semuanya?" tanya Bu Lilis.


"Iya Bu, ingatan Anna sudah kembali,"


"Satu hal yang Anna minta sama Ibu, Bapak dan Abang, tolong jangan paksa Anna untuk menerimanya kembali !" jelas Anna menyantap makanannya.

__ADS_1


__ADS_2