My Roommate'Class

My Roommate'Class
Pahit kehidupan Aku


__ADS_3


Pahit bukan dari sebutir obat yang ku telan.


Tapi menerima kenyataan kau mencintai dirinya.


Hati yang dulu kosong, masih belum berubah.


Karena yang didamba tak mau menadah.




Hatinya belum bisa menerima kenyataan dari sahabatnya, Lilis. Ia lebih percaya dengan pemikirannya sendiri jika menantunya itu telah membodohi seluruh keluarganya dan memanfaatkannya.



Akhirnya Bu Sarah memutuskan untuk bertemu dengan Hanin di kantornya, tapi mereka bertemu tanpa sepengetahuan dari Pak Saiful dan Danial.



"Tante percaya dengan apa yang mereka katakan?"



"Ayolah Tante, jelas mereka akan membela putrinya karena mana ada orang tua yang tega melihat anaknya dihina,"



"Kamu benar, lalu apa yang harus saya lakukan untuk bisa menyelamatkan Danial dari Anna?"



"Serahkan semua sama Hanin, Hanin akan melakukan apapun untuk melihat Danial bisa bahagia Tan,"



Anna turun dari tangga karena merasa bosan terus berdiam diri di dalam kamar, ia berhenti saat melihat Danial sedang sibuk menyiapkan hidangan untuk makan malam mereka.



Danial menyuruhnya untuk turun, untuk makan bersamanya.



"Anna, Mas masak untuk makan malam kita,"



"Sengaja Mas nggak beli makanan di luar, karena saat masak makanan sendiri itu akan jauh lebih sehat,"



Anna tak mau bicara dengan Danial lalu memilih untuk kembali ke kamarnya.


Danial menghela napasnya, kemudian menyusul istirnya.


Ia menghentikan Anna di depan pintu kamar, dan mengajaknya ke rumah sakit.


Anna selalu menolak ajakannya, karena ia merasa tak perlu diperhatikan.


Biarlah ia merasakannya sendirian.



"Kenapa sih Anna selalu menolak Mas ajak ke rumah sakit?"



"Oh iya, pasti Anna mau buat Mas malu di depan Ibu dan Bapak kan, agar mereka berpikir kalau Mas nggak bisa jaga istri sendiri?"



"Terserah Mas mau bicara apa, lebih baik Anna tidur saja ya," ucap Anna membuka paksa pintu kamarnya yang dihalangi oleh Danial.



Pagi harinya, Danial mencoba lagi membujuk Anna untuk ikut sarapan dengannya sayangnya lagi-lagi dirinya harus sabar dengan penolakan istrinya itu. Yang semakin ia merasa Anna begitu banyak berubah.



Anna juga merasakan dirinya jadi sulit untuk melakukan pekerjaan seperti biasanya, kehilangan fokus dan sulit untuk bisa berkomunikasi dengan baik.



Hari-hari ia duduk manis di kursi menghadap jendela kamarnya. Bahkan ia juga merasa kehilangan semuanya.



Danial semakin takut dengan sikap Anna yang demikian, ia sadar sudah banyak membuatnya susah.



Hanin melihat Danial duduk di taman kantor sendirian, ia pun menghampirinya. Mengetahui Danial sedang melamun, dirinya membuatnya terkejut.



"Hati-hati Danial, jangan sering melamun nanti kamu jadi seperti istrimu itu,"

__ADS_1



"Kamu jangan bicara asal ya, Anna bukan orang yang seperti itu,"



"Kalau memang itu benar dia baik-baik saja, kenapa sekarang dia jadi nggak becus mengurus suaminya ya?"



"Cukup Hanin, kamu datang kemari cuma untuk membuat ku semakin pusing,"



"Aku bicara benar kalau istrimu itu sedang bermasalah !"



"Aku rasa kamu yang bermasalah, karena selalu saja menyalahkan Anna !"



"Kamu tahu kenapa, karena aku benci dia !"



Karena kehadiran Hanin membuatnya semakin pusing, ia menyuruhnya untuk jauh darinya. Sebelum harus menerima kemarahannya.



Dalam keramaian, Anna merasakan kesepian yang mendalam. Ia pergi dari rumah Danial untuk mencari ketenangan.


Di depannya sana ada gerombolan manusia bertubuh tinggi dan kekar.


Terdengar suara teriakan minta tolong dari sisi mobil yang ternyata seorang wanita berupaya melepaskan diri dari seorang laki-laki separuh baya memakai jas mewah.



Saat mengetahui ada Anna di sana, Ia berteriak memanggilnya namun Anna masih berdiri di tempatnya tak beranjak untuk menyelamatkan temannya itu, yang tak lain adalah Anggun.



"Kenapa dia diam saja. Batinnya. Anna tolong Aku !" teriak Anggun sampai mulutnya harus dibungkam karena takut ada orang yang mengetahuinya.



Orang-orang bertubuh tinggi membawanya masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.



"Anna sedang apa di sini, kita pulang ya," ucap Danial yang sedari tadi mencari istrinya, dan lega karena sudah menemukannya.




Ketika matahari terbit sampai tenggelam, Danial lah yang menyisir rambut Anna selagi masih sakit. Ia juga yang mengerjakan semua tugas rumah.



"Mas janji akan ajak jalan-jalan kemanapun Anna mau,"



"Anna mau beli banyak barang segudang pun Mas belikan,"



"Tapi Anna harus janji untuk sembuh, Mas rindu dengan senyum Anna, sikap Anna yang manja dengan Mas," ucap Danial menggenggam erat tangan Anna sambil menatap wajahnya yang kosong.



Bu Lilis begitu mengkhawatirkan keadaan Anna, yang akhir-akhir ini sulit untuk dihubungi.


Ia meminta suaminya untuk mengantarnya ke Jakarta.


Namun keinginannya itu gagal karena harus menunggu gaji pensiunan dari suaminya.



"Alhamdulillah Bu, Nanda sudah dapat pekerjaan dan hari ini Nanda mau mengirim uang untuk Ibu di rumah," ucap Nanda di telepon.



"Alhamdulillah ya Allah, Ibu bersyukur mendengarnya Nanda,"



"Tapi kamu nggak perlu mengirimkan uang itu, lebih baik kamu gunakan untuk keperluan sehari-hari di sana ya,"



"Nggak Bu, Nanda sudah cukup kok untuk kebutuhan sehari-hari di sini,"



"Ibu pakai ya uangnya,"


__ADS_1


"Baiklah kalau begitu Ibu terima ya uang pemberian dari kamu,"



"Ibu mau bilang kalau besok akan pergi ke Jakarta sama Bapak kamu untuk bertemu dengan Anna,"



"Alhamdulillah, pasti Anna senang Ibu dan Bapak menemuinya,"



"Sampaikan juga rindu Nanda pada Anna ya Bu, karena belum bisa menemuinya,"



"Iya, akan Ibu sampaikan, terima kasih ya Nanda,"



"Iya Bu, assalamualaikum,"



"Waalaikumussalam,"



Bu Lilis menghela napasnya dan bersyukur bisa menemui Anna dengan cepat.



Danial begitu bahagia melihat Anna kembali mengerjakan pekerjaan rumahnya. Ia melangkah pelan-pelan mencoba untuk mengejutkan istrinya, namun malah mendapatkan kecupan dari gagang sapu sampai membuat dahinya jadi merah.



"Aw, Anna kenapa mukul Mas?"



"Astaghfirullah maaf Mas, Anna benar-benar nggak tahu kalau ada Mas,"



"Habis ngapain juga Mas tiba-tiba ada di belakang Anna?"



"Mau peluk dan cium Anna," ucap Danial dengan menggoda.



"Tapi Anna nggak mau !"



"Kenapa, jarang loh Mas menawarkan diri seperti ini,"



"Nggak, Anna tetap nggak mau !" tegas Anna lalu pergi ke belakang untuk menaruh sapu.



Karena kesal Anna menolaknya, Danial mengikutinya dan membuat istrinya terheran-heran.



"Mas ngapain ada di sini?"



"Bukannya Mas tadi sudah bilang kalau mau," Danial menarik lengan Anna dan mendekatkan tubuhnya, membuat istrinya jadi memucat.



"Mas beneran mau melakukannya?"



"Kalau Mas nggak mau bagaimana?" ucap Danial yang semakin mencondongkan tubuhnya ke Anna. Tiba-tiba Danial tertawa melihat Anna menutup kedua matanya.



"Kenapa Mas tertawa, apa ada yang lucu?"



"Mas tertawa melihat wajah Anna yang ketakutan seperti itu, lucu tahu,"



"Tuh kan Anna bilang juga apa, pasti Mas cuma mau main-main,"



"Jadi maksudnya, Anna mau Mas melakukannya?"


__ADS_1


"Itu nggak mungkin, karena Mas nggak mau menyakitinya," ucap Danial membuat Anna memalingkan wajahnya. Dan ia berpikir istrinya cemburu mendengar itu.


__ADS_2