
Suhu ruangan kerja Danial terasa panas, jendela sudah terbuka lebar. Rupanya AC di ruangan kerjanya belum dinyalakan.
Tok... Tok..Tok....
"Iya, silakan masuk,"
Danial terheran-heran melihat Papanya ke ruang kerjanya.
"Ada apa Pa, kalau Papa butuh biar Danial yang datang ke ruangan Papa,"
"Papa cuma mau tanyakan soal Anna sama kamu, setiap hari Mama mu itu selalu mengadu sama Papa mengenai Anna yang katanya dekat dengan laki-laki lain. Apa itu benar?"
"Sudah berapa kali Danial katakan sama Mama kalau itu hanya sebuah kesalahpahaman saja Pa, Danial yang terlalu terbawa emosi saat itu,"
"Syukurlah kalau begitu, Papa kembali ke ruangan ya,"
Danial merogoh saku celananya, saat dilihat , ternyata Mama nya meneleponnya.
"Iya Ma?"
Langkah Pak Saiful terhenti, ia kembali untuk mendengarkan perkataan istrinya di telepon.
"Kamu sekarang ada di mana?"
"Ini masih ada di kantor Ma, Mama mau tanya soal apa sama Danial?"
"Tiba-tiba kepala Mama sakit sekali, apa kamu bisa ke rumah sekarang?"
"Kamu bilang sama Mama, biar Papa saja yang pulang," ucap Papanya pelan.
"Kebetulan saat ini Danial sedang bersama Papa, katanya biar Papa yang pulang,"
"Jangan, Papa kamu ada meeting sore jadi itulah sebabnya Mama mau kamu yang ke rumah,"
"Baiklah Ma, Danial segera ke rumah Mama ya,"
"Kenapa Mama mu tiba-tiba bilang sakit, padahal tadi pagi dia baik-baik saja,"
"Mama bilang tadi sakitnya mendadak Pa, mungkin karena Mama terlalu capek,"
"Pasti karena terlalu memikirkan soal Anna, badan Mama kamu jadi drop,"
"Kalau begitu Danial pergi dulu ya Pa, assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam,"
Kecemasan Anna tentang Maira telah sirna. Ia bahagia melihat sahabatnya kembali tertawa, ceria.
Maira meraih kedua tangan Anna. Menatapnya dengan sendu.
"Terima kasih Anna, kamu bukan cuma ada di saat senang, tapi juga selalu ada di saat aku susah !"
"Aku ini bukan cuma sahabat kamu, tapi kita ini adalah keluarga !"
"Mana mungkin aku membiarkan keluarga ku menderita, dan aku mohon sama kamu untuk nggak lagi menyembunyikan sesuatu dari aku ya !"
"By the way, dedek bayi nya teriak-teriak minta makan nih, kita pesan makanan ya !"
"Iya boleh,"
Selesai makan, Anna mendapatkan sebuah pesan dari Pak Saiful kalau Mama Danial sedang sakit.
__ADS_1
Ia pun buru-buru pergi, namun merasa sedih karena harus meninggalkan Maira sendirian di cafe.
"Please deh An, mertua kamu itu jauh lebih penting dari aku, oke?"
"Kamu nggak perlu khawatirkan aku, bentar lagi juga dijemput sama pak suami kok,"
"Baguslah kalau gitu, aku pergi dulu ya !"
Anna dan Danial berpapasan di depan rumah Mama Danial.
Danial turun dari mobil, dan menghampirinya.
"Anna ngapain ke sini?"
"Papa bilang Mama sedang sakit, kenapa Mas nggak bilang sama Anna?"
Danial terdiam sesaat. Ia khawatir jika Mama nya akan kembali menyalahkan Anna.
Telinga Anna berdengung lagi, ia mendengar suara hati suaminya.
Anna tersenyum tipis. Membuat Danial jadi bertanya-tanya melihat tingkahnya yang tersenyum-senyum sendiri.
"Mas belum mengatakan apa-apa tapi Anna sudah tersenyum duluan, ada yang lucu kah?"
"Cie yang perhatian diam-diam," ledek Anna lalu pergi masuk ke rumah mertuanya.
"Bagaimana dia bisa tahu ya, apa ada hubungan darah dengan Prabu Siliwangi?" ucap Danial seorang diri, sambil geleng-geleng kepala.
Tulus berlari mengejar Maira yang hendak pergi dari cafe.
"Maira tunggu !"
"Tulus, kamu ada di sini juga?"
"Lalu di mana dia sekarang?"
"Dia sudah pulang, katanya Mama mertuanya sakit,"
"Dia pergi sendirian, tanpa Danial?"
"Terus kalau Anna sendirian, kamu mau nemenin dia gitu?"
"Enggak gitu, aku takut saja Anna semakin stress berada di rumah orang tuanya Danial,"
"Stress kenapa, bukannya mereka senang punya menantu seperti Anna?"
"Ah sudahlah, kalau diceritain juga akan sampai berepisode-episode !"
"Eh mau ke mana, ceritain dulu nggak sama aku atau aku nggak akan mau cerita soal Anna yang katanya kagum dengan seorang Tulus,"
Tulus tertawa kecil mendengarnya. Ia tidak ingin tahu tentang dirinya di mata Anna, karena yakin status teman yang tidak akan pernah bisa berubah.
"Kalau kamu diam seperti ini nih, tandanya kamu menyembunyikan sesuatu ya dari aku sama Anna?"
"Lebih baik kamu pulang saja, nanti suamimu marah lagi sama aku,"
Tulus berharap Anna akan baik-baik saja berada di rumah mertuanya, ia harus mengurungkan diri untuk bertemu walau begitu merindunya.
Terdengar suara ringkih dari Bu Sarah yang berbaring di sofa ruang tamu, sambil memeluk selimut.
"Assalamualaikum Ma, bagaimana keadaan Mama saat ini?" tanya Danial.
__ADS_1
Bu Sarah terbangun mendengar suara Putra kesayangannya, Ia juga terkejut melihat menantunya ada di sini.
"Danial, kenapa kamu kemari bersama dia?"
"Anna ini istri Danial Ma, boleh saja kan Danial mengajaknya?"
"Bibi Atun nggak masuk kerja hari ini, Mama pusing melihat rumah yang berantakan, mengerjakan semuanya sendiri !"
"Mama nggak perlu khawatir lagi, Danial dan Anna akan membersihkan rumah Mama,"
"Kamu di sini saja temani Mama, biar Anna yang membersihkan semuanya,"
"Mama lapar nih, dari tadi belum makan,"
"Mama mau makan apa, biar Anna yang masak,"
"Nggak perlu, biar Mama beli saja makanannya,"
"Lebih baik kamu bersihkan rumah ini sebelum nanti suami saya pulang,"
"Iya Ma, Anna pergi bersih-bersih dulu ya Mas,"
Dengan memasang wajah masam, Bu Sarah menjauhkan makanan yang sudah dibelinya.
"Makanan apa ini, kaya gini kok dijual sih !"
"Bagaimana kalau Danial meminta Anna untuk memasak makanan untuk Mama?"
"Ya sudah, kamu panggil dia kemari,"
"Anna, tolong ke sini sebentar,"
"Iya Mas, ada apa?"
"Mas minta tolong Anna masak makanan untuk Mama sekarang, bisa kan?"
"Iya Mas, Anna akan buatkan sup ikan kesukaan Mama,"
Anna pergi ke dapur untuk memasak, namun ternyata semua bahan yang ingin ia masak tidak ada. Untungnya masih ada sayuran yang tersisa di kulkas. Dan memutuskan untuk memasak sup sayur biasa.
Sebelum Bu Sarah menyantap masakan dari menantunya itu. Ia meminta Anna untuk kembali membersihkan rumahnya.
Pyaaarrr.......
"Astaghfirullah, aku benar-benar ceroboh sekali,"
"Kamu dengar barusan, istrimu itu memang nggak becus !"
Danial langsung menghampiri istirnya di dapur.
Melihat Anna bersimpuh di lantai, hatinya jadi iba.
"Anna, apa yang terjadi di sini?"
"Astaga, bukannya jadi bersih kamu malah buat rumah saya makin kotor !" ucap Bu Sarah tiba-tiba.
Anna tidak sengaja menumpahkan air yang ada di dalam timba air. Tanpa berpikir panjang lagi Danial membantunya berdiri setelah itu mengepel lantai yang basah.
"Mama minta kamu jangan lakukan itu, biar saja dia yang melakukannya !"
"Sudahlah Ma nggak perlu diributkan lagi, Danial nggak masalah kok melakukan semua ini,"
__ADS_1
"Kamu lihat, gara-gara kamu yang nggak becus sama sekali, Danial jadi susah !"