My Roommate'Class

My Roommate'Class
Pengirim Pesan Botol


__ADS_3

"Kenapa Danial nggak tinggal di sini saja dulu," ucap Ibu Anna.


"Maaf Bu, sebenarnya Danial juga ingin tinggal di sini untuk beberapa hari tapi di Jakarta pekerjaan jadi terbengkalai," ucap Danial.


"Kalau gitu Anna siap-siap ya kalau mau balik ke Jakarta, kasihan Danial harus menunggu terlalu lama lagi," ucap Bapak Anna.


"Iya Pak, Anna mau siap-siap dulu," ucap Anna lalu pergi ke kamarnya.


"Bu, Pak, Anna pulang dulu ya ke Jakarta, kalau ada apa-apa kabari saja," ucap Anna sambil mencium punggung tangan ibu dan bapaknya.


"Iya kamu nggak perlu khawatirkan Ibu, karena Bapak akan selalu siap menjaga 24 jam," ucap Bapaknya.


"Ibu, jangan terlalu capek juga banyak pikiran ya," ucap Anna menggenggam erat tangan Ibunya.


"Insyaallah Ibu akan jaga diri baik-baik,"


"Kamu juga baik-baik di jakarta,"


"Anna pergi dulu, assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam,"


"Kenapa danial terlihat terburu-buru. Batinnya. Bu, Pak saya izin untuk pamit juga," ucap Tulus, sambil menerima telepon dari seseorang.


Di dalam mobil saat perjalanan pulang, Danial meluapkan rasa kesalnya pada Anna.


"Sebenarnya apa masalah Anna dengan Hanin?" ucap Danial tiba-tiba membuat Anna bertanya-tanya.


"Maksud Mas apa, Anna nggak ngerti,"


"Sudahlah, Anna nggak perlu sembunyikan lagi,"


"Anna cemburu?"


Anna menggelengkan kepalanya. Dirinya benar-benar tak tahu apa yang coba Danial jelaskan padanya.


"Mas nggak menyangka Anna akan melakukan hal menjijikkan seperti ini !" ucap Danial lalu menghentikan mobilnya dengan mendadak.


"Demi Allah, Anna nggak melakukan apapun terhadapnya Mas !" tegas Anna.


"Anna, Mas nggak mungkin mengatakan semua ini kalau nggak ada buktinya,"


"Kamu baca ini !" ucap Danial dengan memberikan secarik kertas yang ia dapat dari Hanin.


"Tapi ini bukan perbuatan Anna, tolong percaya sama Anna ya Mas,"


"Lalu siapa, Anna melakukan ini karena memang nggak suka dengannya kan?"


"Iya Anna memang nggak suka dia dekat dengan Mas, karena Mas ini adalah suami Anna !"


"Walau begitu Anna masih menganggapnya sebagai seorang sahabat Mas !"


"Dan soal pesan botol ini, bukan Anna yang melakukannya,"


Setelah dari Bandung, Anna mengajak untuk ketemuan dengan Maira di Cafe Panas Dingin.


"Kamu mau cerita soal apa sih, bukannya udah nggak mau nih cerita apapun sama aku," ucap Maira.


"Aku mau kamu jawab jujur ya Ra,"


"Aku sih selalu berkata jujur ya, beda sama kamu !"


"Apa kamu yang mencoba meneror hanin?" tanya Anna dan menyodorkan secarik kertas berisi ancaman kepada Hanin.

__ADS_1


"Ih serem banget ini, tapi kenapa kamu mengira aku yang melakukannya?"


"Ya mungkin saja karena kamu begitu marah, dan jadi benci saat tahu Hanin mencoba merusak rumah tangga aku, makanya kamu berbuat seperti ini,"


"Anna, aku ini orangnya nggak sebaik dan nggak seburuk yang kamu kira loh,"


"Aku bisa jadi baik buat orang yang memang baik sama aku, sama orang terdekatku juga,"


"Dan juga bisa jadi jahat kalau orang itu punya niat yang nggak baik sama aku dan orang terdekatku,"


"Tapi, aku nggak mungkin senekat ini An !" tegas Maira.


"Kalau bukan kamu lantas siapa orang yang sudah mengirim pesan botol ini padanya?"


"Eh gimana kalau kita cari tahu soal ini ke Tulus, pasti dia tahu siapa orang yang mencoba meneror Hanin,"


Tak terlihat batang hidungnya beberapa hari, ternyata dia berada di studio musik.


"Hai Anna, Maira !"


"Nggak nyangka loh aku, ternyata kalian sudi juga untuk datang kemari,"


"Tulus, aku ingin membicarakan hal penting sama kamu,"


"Ada apa ini, sepertinya mendesak sekali?" tanya Tulus sambil mempersilakan Anna dan Maira untuk duduk.


"Bukan hanya mendesak, tapi dada aku juga ikutan jadi sesak Tulus !" ucap Anna.


"Apa ini soal Hanin?" tanya Tulus.


"Kok kamu bisa tahu kalau kita ke sini untuk bicarakan soal Hanin, oh jangan-jangan ini ulah kamu ya?" ucap Maira membuat Tulus kebingungan.


"Tahu dong, karena musuh terbesar Anna saat ini ya Hanin,"


"Okelah apapun namanya terserah kamu An, tapi aku tetap memanggilnya seorang pengkhianat !"


"Dia buat masalah apa lagi sama kamu?"


"Dia nggak berbuat masalah apapun, tapi kali ini aku yang kena masalah,"


"Eh apa maksud Maira bilang ini adalah ulah ku?"


"Gara-gara pesan botol ini Danial jadi marah besar sama aku,"


"Padahal aku nggak tahu sama sekali soal itu,"


"Memang apa isi dari pesan botol itu An?" tanya Tulus.


"Ini kamu baca,"


"Siapa tahu kamu tahu orang dibalik ini,"


"Jadi maksudnya ada orang ini berniat untuk mengadu domba kamu gitu?" tanya Tulus.


"Mungkin saja, karena Hanin begitu sangat membenciku dan Danial sangat mencintainya, pasti akan lebih percaya padanya ketimbang aku,"


"It's okay Anna, jangan stress memikirkan masalah ini ya,"


"Aku akan cari tahu siapa dalangnya," ucap Tulus menenangkan Anna.


"Iya Anna, kita akan selalu ada buat kamu," imbuh Maira.


"Terima kasih ya, karena kalian sudah membuat hatiku jadi merasa tenang sekarang,"

__ADS_1


"Sama-sama An, karena kita nggak akan membiarkan kamu melewati semua ini sendirian," ucap Maira.


Danial masih belum tenang kalau belum tahu siapa orang yang mencoba meneror Hanin.


"Gimana, kamu sudah tanyakan soal pesan botol itu sama Anna?" tanya Hanin pada Danial.


"Sudah, dan dia mengatakan sama sekali nggak melakukan hal itu,"


"Dan kamu percaya saja dengan ucapannya?"


"Lalu aku harus bagaimana, mana mungkin juga Anna tega melakukan hal itu padamu,"


"Sampai detik ini dia saja masih menganggap mu sebagai sahabatnya,"


Tiba-tiba Danial tersenyum seorang diri mengingat Anna.


"Kenapa kamu jadi senyum-senyum sendiri seperti itu, jangan bilang kamu mulai menyukainya,"


"Aku masih nggak menyangka saja kalau Anna masih mau menjadikan kamu sahabatnya setelah tahu kebenarannya,"


"Kamu pikir hal itu hebat ya, dia pasti cuma mau cari muka saja,"


"Tapi aku yakin ini bukan perbuatannya,"


"Nggak semudah itu aku bisa percaya dengannya Dan, aku akan buktikan bahwa ini memang perbuatannya !"


Danial dibuat pusing tujuh keliling harus memikirkan soal Hanin. Tapi dia yakin ini bukan perbuatan Anna.


"Kamu percaya dengan apa yang Hanin katakan?" tanya Arvin setelah mendengar cerita dari Danial.


"Aku nggak tahu Vin, dia begitu yakin kalau ini adalah perbuatan Anna,"


"Mungkin saja ini adalah siasat Hanin untuk membuat kamu semakin membenci Anna,"


"Nggak lah, aku mengenal Hanin sudah begitu lama dan kamu tahu itu kan?"


"Jadi nggak mungkin Hanin sendiri yang melakukannya,"


"Kamu jadi orang jangan terlalu naif, kamu sendiri tadi yang bilang kalau Hanin begitu ngotot menyalahkan Anna,"


Danial berniat akan meminta maaf pada Anna karena telah menuduhnya.


"Assalamualaikum," ucap salam Danial yang tidak terjawab sama sekali oleh Anna.


Dia pun mencari Anna di kamar.


"Tolong kamu simpan rahasia ini ya, dan jangan sampai ada yang tahu termasuk danial," ucap Anna di telepon.


Braaaaaaak


(Danial membuka pintu kamar dengan kencang)


Anna terkejut melihat Danial tiba-tiba berada di kamarnya.


"Kenapa Anna menyembunyikannya dari Mas?"


"Mas mendengar apa yang Anna bicarakan di telepon?"


"Iya Mas dengar semua, apa yang coba Anna rahasiakan itu?"


Anna terdiam seribu bahasa.


"Kenapa diam, ayo katakan !" bentak Danial.

__ADS_1


__ADS_2