
Anna duduk di sofa memainkan telepon seluler nya. Tiba-tiba Danial datang dan duduk di sampingnya.
Dan Anna masih menatap telepon seluler nya.
"Anna kenapa nggak jujur sama Mas, kalau butuh uang untuk membayar hutang Abang Nanda?"
Karena kesal tak dijawab, Danial meraih telepon seluler milik Anna dari tangannya dan menaruhnya di atas meja.
"Apa sih Mas, Anna lagi nggak mau diganggu,"
"Mas cuma ingin tahu kenapa Anna nggak jujur waktu itu?"
"Nggak jujur, bukannya Anna sudah katakan seribu kali sama Mas kalau Anna dan Tulus memang nggak ada apa-apa,"
"Tapi Mas sendiri yang nggak mau mendengar penjelasan dari Anna kan?"
Danial terdiam sesaat, menyadari bahwa dirinya memang salah saat itu karena amarah jadi salah sangka.
"Mas minta maaf soal itu, tapi janji ya apapun masalah yang Anna hadapi harus selalu jujur sama Mas,"
Anna mengangguk. Dan meraih telepon seluler nya dari Danial. Namun Danial kembali menghentikannya.
"Apa handphone Anna lebih penting dari Mas?"
"Iya, karena Anna sedang membicarakan soal projek nulis bareng Tulus,"
"Anna bisa nggak untuk nggak menyebut namanya depan Mas?"
"Lalu apakah bisa Mas berhenti menyebut namanya di depan Anna juga?"
"Anna mau ke kamar,"
Tulus kembali datang ke rumah orang tua Anna, kali ini dia membicarakan kehidupan Anna dan Danial yang banyak belum diketahui oleh kedua orang tua Anna.
"Sebenarnya ada hal apa Tulus datang kemari?" tanya Ibu Anna.
"Maaf Bu, sebenarnya saya nggak mampu untuk menceritakan hal ini karena takut Ibu dan Bapak akan sedih,"
"Ceritakan saja, insyaallah kami ikhlas,"
"Nggak apa-apa kok bu, saya cuma sedih kenapa dulu Ibu dan Bapak nggak memilih saya untuk menjadi suami dari Anna ya?"
"Ibu nggak berpikir soal kamu waktu itu, karena pernikahan Anna dan Danial adalah impian Ibu sejak masih muda,"
"Ibu dan Ibu Danial dulu adalah teman sekolah, dan kami berniat jika mempunyai anak saat dewasa nanti akan dijodohkan,"
"Alhamdulillah keinginan Ibu bisa terpenuhi,"
"Apakah Anna bahagia dengan keputusannya bu?"
"Saat itu dia menganggap Ibu main-main, tapi setelah tahu sosok calon suaminya segala rasa takut jadi hilang menjadi bahagia,"
"Karena Anna mencintai Danial sejak dulu, sayangnya Danial mengabaikan cinta itu. Batinnya. Luar biasa ya Bu, perjuangan Ibu menemukan kebahagiaan,"
"Iya, Ibu sangat bahagia terlebih mengetahui sifat Danial yang selalu membuat Anna bahagia saat bersamanya,"
Seroang laki-laki dan perempuan bergandengan tangan, baru saja keluar dari sebuah restoran yang tak jauh dari kantor Papa Danial.
Karena terburu-buru, seorang laki-laki menabrak perempuan itu. Sehingga tasnya pun terjatuh.
__ADS_1
"Maaf Mbak, saya nggak sengaja," ucap Nanda sambil memungut tas dan memberikan ke pemiliknya.
"Danial," ucap Nanda terkejut melihat Danial bersama seorang wanita yang tak lain adalah Hanin.
"Kamu Hanin sahabatnya Anna bukan?"
"Anna di mana, pasti bersama kalian ya?"
"Hai Abang Nanda, lama ya kita nggak berjumpa, bagaimana kabarnya?"
"Baik Han,"
"Abang belum pulang ke Bandung?" tanya Danial mulai berkeringat.
"Nggak dulu, Abang berniat untuk mencari pekerjaan di sini,"
"Oh, Abang sekarang pengangguran ya?" ucap Hanin.
"Dari dulu Abang ini memang pengangguran Han,"
"Berarti yang Tante Lilis katakan dulu itu bohong dong ya, katanya anaknya yang pertama sudah bekerja di perusahaan besar dengan gaji fantastis,"
"Kamu kenapa bisa jalan bersama Danial, sudah tahu kan kalau Danial ini suami Anna?"
"Abang, Danial ini calon suami Hanin jadi wajar dong kita jalan bersama,"
"Apa maksud kamu, Danial ini suami anna !"
"I know, tapi nanti juga akan jadi suami Hanin,"
"Sayang kita jalan yuk, waktu kita jadi terbuang sia-sia di sini," ucap Hanin menarik tangan Danial dan pergi.
Sepulang dari kantor, Danial ke parkiran mobil dengan langkah yang cepat.
Ia merasa ada seseorang yang mengikutinya.
Sampai di parkiran mobilnya, segera membuka mobil karena tergesa-gesa kunci mobil terjatuh di kolong mobil.
Saat Danial hendak mengambilnya, seorang laki-laki berjaket hitam dan memakai masker memukulnya dengan keras hingga tubuh Danial tersungkur di samping mobilnya.
Melihat kejadian itu, salah seorang karyawan berteriak minta tolong. Karena takut ketahuan, sosok misterius itu lari dari sana.
Sesampainya di rumah, Danial menceritakan semua pada Anna yang terjadi dengannya.
"Di sini, rasanya sakit sekali," ucap Danial kesakitan, memegang bahunya yang kena pukul.
"Apa Mas tahu orangnya seperti apa, siapa tahu bisa jadi bukti atas dugaan penganiayaan," ucap Anna sambil terus memijat bahu Danial.
"Dia menghantam Mas dari belakang, tentu Mas nggak tahu seperti apa dia,"
"Semoga hal ini nggak terjadi lagi ya Mas, dan Mas juga harus lebih berhati-hati,"
Plaaak
Suara botol kaca terjatuh ke lantai rumah Hanin. Saat ia keluar rumah ternyata sudah penuh dengan uap panas yang ternyata beracun.
Membuat dirinya jadi sesak napas, dan kembali masuk ke rumahnya.
"Hah, hu, siapa yang melakukan ini?" ucap Hanin sambil mengatur napasnya.
__ADS_1
"Apa ini perbuatan Anggun, tapi untuk apa dia melakukan ini?"
"Mas yakin hari ini mau ke kantor?" tanya Anna yang prihatin melihat Danial mengeluh kesakitan.
"Iya Anna, Mas nggak apa-apa kok,"
"Anna berdoa semoga Allah selalu menjaga dan melindungi diri mas dari marabahaya,"
"Assalamualaikum," ucap salam Danial, dan kembali mengecup kening istrinya.
"Waalaikumussalam,"
Tak puas bila berkabar lewat telepon, Hanin memutuskan untuk menemuinya langsung.
"Maksud kamu apa semalam kirim pesan botol berisi gas racun ke aku, kamu mau membunuhku ya?"
"Kamu ini ngomong apa sih, semalam aku ada pertemuan keluarga besar,"
"Buat apa juga aku kirim pesan botol ke kamu, lagi pula aku percaya kok sama semua rencana yang kamu buat,"
"Kalau bukan kamu lalu siapa?"
"Sudahlah nggak perlu khawatir soal itu, pasti kerjaan orang iseng belaka,"
"Kita nikmati saja kopi nikmat ini,"
Hati Nanda masih belum bisa menerima semua yang ia telah ia ketahui. Membuatnya tak sadar hingga mengepalkan tangannya dan membenturkannya ke tiang rumahnya.
Tiang rumahnya pun dijadikan penyok.
"Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan ini?"
"Lihat, gara-gara ulah kamu tiang rumah kita jadi seperti itu," ucap Ibunya.
"Ini semua gara-gara Danial Bu, dia sudah membuat hati Nanda kecewa !"
"Kenapa dengan Danial, apa yang dia lakukan terhadap kamu?"
"Mungkin sakit hati yang Nanda rasakan ini nggak sebanding dengan sakitnya Anna di sana Bu,"
"Tolong, kamu bicara yang jelas jangan berbelit-belit !"
"Danial sudah bermain api di belakang Anna Bu, dan perempuan itu adalah Hanin !"
"Apa, mana mungkin Danial melakukan hal itu,"
"Tapi kenyataannya seperti itu Bu, Nanda melihat Danial bermesraan dengan Hanin,"
"Astaghfirullah bagaimana jika Anna tahu hal ini, pasti hatinya sangat hancur,"
"Kamu jangan beri tahu soal ini sama Bapak ya, ibu nggak mau melihatnya sedih,"
Masalah datang untuk jadikan kita dewasa.
Dengan melihat sisi warna hitam.
Terus mencari cara membuka ruang pikiran, menemukan jalan yang terang tanpa takut menjadi abu-abu.
**********
__ADS_1