My Roommate'Class

My Roommate'Class
Aroma Cinta


__ADS_3

Pak Hamdan merenung seorang diri di halaman masjid, Maira yang tak sengaja melewati jalan itu menghampiri bapak sahabatnya.


"Assalamualaikum pak,"


"Waalaikumussalam, maira di sini ngapain?"


”Kebetulan kegiatan sosial di kantor Maira dekat sini Om,"


"Melihat Om Hamdan sendirian di halaman masjid, akhirnya Maira memutuskan untuk samperin Om,"


"Maira lihat Om Hamdan lagi banyak pikiran ya, apa ini ada hubungannya dengan Anna dan Danial?"


"Memang apa yang terjadi dengan mereka, saya sama sekali nggak tahu,"


"Aduh, hampir saja aku keceplosan. Batinnya. Maaf pak Maira tadi salah ngomong,"


"Maira, katakan sama bapak apa yang sebenarnya terjadi pada Anna?" desak Pak Hamdan.


"Saya nggak tahu bagaimana kabar Anna sekarang, karena saya sendiri akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaan dan mengatur acara pernikahan,"


"Tapi saya selalu berusaha untuk menanyakan kabar Anna lewat Tulus, kenapa saya nggak tanya langsung kabarnya karena saya nggak mau membuat Anna khawatir Om,"


"Om Hamdan, Maira nggak tega melihat Anna tersiksa seperti ini,"


"Maira ingin melihat Anna hidup bahagia,"


Setelah mendengar cerita dari Maira tentang putrinya, dirinya semakin gelisah. Makan tak enak, tidur pun jadi tak tenang.


"Bapak dari kemarin belum makan loh, puasa atau diet nih?" tanya Istrinya ikut duduk di samping suaminya.


"Bapak nggak selera makan Bu, tiba-tiba rindu sekali sama Anna,"


"Bapak telepon dia ya, siapa tahu mau datang ke rumah,"


"Iya Bu, Bapak coba telepon Anna,"


Anna yang sibuk membersihkan rumahnya, tak mendengar bunyi dari handphonenya.


"Nggak dijawab Bu teleponnya,"


"Mungkin Anna sedang sibuk Pak,"


Saat menyadari ada telepon masuk dari bapaknya, anna langsung menelepon balik.


"Assalamualaikum, maaf Pak tadi Anna nggak dengar kalau ada telepon masuk,"


"Waalaikumussalam, iya nggak apa-apa justru bapak yang minta maaf sudah mengganggu waktu Anna,"


"Nggak kok bak, tumben Bapak telepon Anna sepagi ini?"


"Kamu nggak mau main ke rumah?"


"Insyaallah besok Anna ke rumah Pak sama mas Danial,"


"Kalau bisa kamu jangan ajak Danial ya, Bapak ingin ngobrol banyak hal sama anna,"


"Anna coba minta izin dulu ya Pak,"


"Iya Anna, assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam, kenapa dengan Bapak ini biasanya selalu minta Anna ke rumah bersama mas Danial,"


Anna ketakutan saat harus meminta izin pada Danial untuk pergi lama ke Bandung.


"Anna kenapa, ada yang ingin dikatakan?"


"Anna mau minta izin sama mas untuk ke Bandung,"


"Iya mas tahu kalau kita akan pergi ke Bandung,"


"Maksud Anna, hanya Anna saja yang pergi ke Bandung,"


"Mas nggak perlu ikut,"


"Kenapa, bukannya Anna senang kalau mas bisa ikut?"

__ADS_1


"Ini permintaan dari Bapak mas,"


"Nggak lama kan?"


"Janji hanya 2 hari saja,"


Anna terus berpikir sepanjang jalan, bertanya pada dirinya sendiri untuk apa bapaknya meminta dirinya pergi seorang diri.


"Assalamualaikum, Pak, Bu," ucap salam Anna yang baru sampai di rumahnya.


"Waalaikumussalam, ayo masuk Anna,"


"Kamu mandi dulu ya, setelah itu kita makan sama-sama,"


"Iya Bu,"


Setelah menyantap makanan, anna membereskan semua yang ada di meja makan dan membawanya ke dapur.


Mereka duduk di kursi kayu teras rumah.


"Bapak mau menanyakan soal apa sama Anna?" tanya Istirnya.


"Nanti Ibu juga tahu,"


"Anna, duduklah,"


"Jawab ini dengan jujur, jangan ada yang disembunyikan sekecil apapun itu,"


"Apa benar Danial main gila dengan perempuan lain?"


Sontak membuat Anna terkejut dan terdiam langsung.


"Jadi Bapak tahu soal Danial dan Hanin?" tanya istrinya semakin membuat Anna melongo.


"Ibu dan Bapak tahu soal ini dari siapa?"


"Abang mu yang waktu itu cerita sama ibu karena dia melihat sendiri kelakuan suami kamu dan Hanin bermesraan di muka umum,"


"Dan Bapak mengetahui hal ini dari Maira beberapa hari yang lalu,"


"Tapi Anna, Ibu nggak mau dia memperlakukan putri ibu seperti ini !"


"Bapak nggak nyangka kalau Danial bisa melakukan ini sama kamu,"


Malam yang sunyi, sepi sendiri dalam rumah yang besar.


Danial tiba-tiba memikirkan anna, begitu di Langit Bandung, Anna juga memikirkan Danial.


Malam ku mohon untuk pergi, biar pagi datang membawa rindu pulang.


"Pokoknya Ibu dan Bapak nggak perlu memikirkan soal ini lagi ya, Anna akan jaga diri baik-baik di sana,"


"Ibu dan Bapak hanya bisa berdoa untuk kebaikan kamu,"


"Anna pamit ya Bu, Pak,"


"Hati-hati ya di sana, dan jaga kesehatan," imbuh Bapaknya.


"Iya Pak, assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam,"


Danial mencium aroma kelezatan dari masakan istrinya dari luar rumah. Ia pun tak sabar untuk menemuinya.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam, Mas sudah pulang,"


"Iya, Mas tahu kalau hari ini Anna pulang,"


"Hmm rupanya ada yang sedang merindukan anna,"


"Nggak, Mas cuma mengingat-ingat kalau Anna benar pulang hari ini,"


"Baiklah Anna mau mandi dulu ya, biar wangi dan disayang sama mas," ucap Anna membuat Danial tertawa kecil.

__ADS_1


Danial mengelus dadanya.


Setelah mereka selesai makan bersama, Anna menemani Danial yang tengah duduk manis di sofa. Ia tak bisa melepaskan pandangannya pada suaminya itu.


"Anna kenapa memandang Mas seperti itu?"


"Tak bosan Anna memandang wajah mas yang tampan rupawan itu, juga seksi,"


"Oh iya?"


"Jadi gimana, Mas mau Anna nggak?"


"Mau...," ucap Danial dengan cepat sambil memanyunkan bibirnya.


Anna pun pergi ke kamar dan disusul Danial.


Pagi yang menjengkelkan untuk Danial, ia harus telat pergi ke kantor. Semakin kesal lagi ketika melihat Anna yang tak juga keluar dari kamar mandi.


"Anna tolong cepat sedikit ya, Mas sudah telat pergi ke kantor ini !" teriak Danial di luar kamar mandi.


Pintu kamar mandi pun terbuka, anehnya Anna masi berada di dalam.


"Apa maksud Anna ini, kenapa pintu kamar mandinya nggak ditutup?"


"Masuklah Mas, Anna sudah bukakan pintunya,"


Tak ada cara lainnya, Danial harus mengalah dari egonya.


"Seru ya Mas, apalagi kalau setiap hari,"


"Apanya?" tanya Danial sambil merapikan dasinya.


"Entah mas, yang semalam atau pagi tadi,"


"Nggak lagi,"


"Kenapa, kita ini kan sudah halal mas,"


"Tapi mas nggak suka,"


"Yakin nih nggak suka, apa semalam Anna salah dengar ya yang waktu mas bilang tambah lagi dong,"


Danial menelan ludahnya sendiri. Dan memalingkan wajahnya dari Anna yang terus memojokkan dirinya.


"Kenapa dasi ini juga ikut membuatku kesal hari ini !"


"Sini mas, biar Anna yang pasangkan dasi ini," ucap Anna sambil meletakkan sebuah kursi kecil untuk dinaikinya, karena tak sampai menggapai Danial saat mengikatkan dasinya ke leher.


"Kamu benar-benar tinggi ya mas, makanya sulit untuk bisa anna gapai,"


"Kalau begitu Anna harus sering main bola basket, supaya nggak perlu lagi pakai kursi kecil ini,"


"Boleh, tapi Anna akan lakukan di dalam kamar saja dan untuk mas seorang saja," ucap Anna pergi meninggalkan Danial di kamar sendiri.


"Anna, bukan bola basket yang itu maksud mas !"


Hanin sangat lelah menunggu Danial yang belum juga sampai di kantor.


"Han, sebaiknya kamu kembali bekerja sebelum Om Saiful tahu hal ini !" ucap Arvin.


"Hei, kamu nggak usah ya atur-atur aku !"


"Akhirnya dia datang juga," ucap Hanin menghampiri Danial yang baru sampai di kantor.


"Kenapa kamu bisa telat sih, bukannya kamu paling benci sama hal yang berbau molor?"


"Gara-gara Anna, aku jadi telat !"


"Memang apa yang dia lakukan sama kamu?"


"Kamu masih pegang janji kita kan, untuk jangan pernah sentuh dia !"


"Dia istri aku, kenapa nggak?"


"Jadi kamu dan dia, sudah?"

__ADS_1


"Cukup Han, jangan buat aku jadi semakin kesal hari ini ya !" ucap Danial, lalu pergi menuju ke ruang kerjanya.


__ADS_2