
Anna masih enggan membuka mulutnya, membuat Danial berbuat kasar padanya.
"Anna, Mas tanya kenapa nggak dijawab?" ucap Danial memegang erat kedua lengan Anna.
"Mas kita sholat maghrib yuk !" ucap Anna sambil melepaskan cengkraman Danial.
"Sebenarnya apa yang coba Anna sembunyikan dari Mas, kenapa saat ditanya nggak jawab?" tanya Danial setelah makan bersama, tak ada hentinya terus mendesak Anna agar mau berkata jujur.
"Anna nggak mau katakan karena ini adalah surprise untuk Mas nanti, tapi kalau Mas mau tahu banget itu apa,"
"Anna akan katakan sekarang juga," imbuh Anna membuat Danial tertarik untuk mendengarnya.
"Anna ada sebuah projek bersama dengan tulus untuk menciptakan sebuah lagu,"
"Lagu, bukannya soal pesan botol itu?"
"Mas berapa kali Anna bilang, pesan botol itu bukan Anna yang melakukannya !"
"Mungkin siapa tuh namanya, Han, hantu bukan?" ucap Anna sengaja membuat Danial kesal.
"Eh bukan, tapi namanya Hanin ya,"
"Bisa saja Hanin di luar sana mempunyai musuh, lalu orang itu mengancamnya dengan mengirim pesan botol,"
"Kalau benar seperti itu, kasihan Hanin,"
"Aku harus meneleponnya, untuk hati-hati dengan orang itu," ucap Danial sambil mengambil teleponnya di saku celananya.
"Halo Hanin, kamu ada di mana sekarang?"
"Aku lagi di jalan nih, kenapa memang?"
"Aku cuma mau ingetin kamu untuk selalu hati-hati di manapun berada ya,"
"Iya sayang aku akan selalu jaga diri baik-baik, dan kamu juga harus janji untuk jaga cinta kita baik-baik ya,"
Anna memalingkan wajahnya.
"Iya, aku janji sama kamu,"
"Oke, sampai jumpa besok ya," ucap Hanin menutup teleponnya.
"Pasti sekarang hatinya semakin panas, aku akan terus buat kamu menderita !" ucap Hanin dengan wajah liciknya.
"Anna mau kemana?"
"Mau ke kamar Mas,"
"Lalu soal lagu tadi bagaimana?"
"Nggak penting itu Mas, Anna ke kamar ya,"
Anna kehilangan kata-kata saat merangkai sebuah lagu. Ia teringat dengan sikap Danial yang terus saja mengabaikan dirinya.
"Hai Anna, kenapa aku lihat dari awal kamu datang wajah ditekuk terus seperti itu,"
"Pergi ke mana senyum manis itu?" tanya Tulus.
Anna menghela napasnya yang panjang.
"Semakin lama mereka jadi sangat dekat, pagi siang malam waktu Danial hanya untuknya,"
"Lebih baik kamu fokus dengan projek kita waktu itu,"
"Aku juga sudah membicarakan soal projek ini dengannya, tapi respon dia biasa saja,"
"Kalaupun belum bisa jadi suami yang baik, setidaknya dia bisa jadi seorang teman untukmu,"
"Teman dalam suka dan duka, seperti aku ini,"
"Benar kan apa yang aku katakan?"
"Terima kasih ya Tulus, ternyata namamu bukan hanya sebuah nama,"
"Jelas dong, apapun yang aku lakukan itu tulus dari hati," ucap Tulus sambil menunjuk ke bagian hatinya.
__ADS_1
"Aku akan mulai bekerja keras lagi untuk sebuah cita-cita yang sempat tertunda !" ucap Anna dengan penuh semangat.
"Nah ini baru anna yang aku kenal dulu, yang semangat mengejar impiannya, dan akhirnya senyum itu kembali lagi," goda Tulus.
Hanin dan Danial duduk di sebuah restoran.
Danial mengernyitkan dahinya melihat sikap kekasihnya yang tak bisa diam karena gelisah.
"Sayang, aku mau bilang kalau besok akan pergi ke luar kota," ucap Hanin memasang wajah sedihnya.
"Untuk apa?"
"Soal kerjaan, dan ini sama sekali nggak bisa ditinggalkan,"
"Berapa lama di sana?"
"3 hari saja, tapi aku janji setelah itu kita akan habiskan waktu bersama,"
"Pergi saja, aku akan tunggu kamu di sini,"
"Terima kasih ya Sayang, tapi ingat satu hal kamu jangan berbuat macam-macam dengan dia ya !"
"Kenapa, Anna kan istri aku?" goda Danial.
"Ih kalau kamu sampai menyentuhnya, aku akan marah besar !"
"Nggak akan, percaya ya sama aku !"
Danial yang selonjoran di kursi, tengah asyik bersenda gurau bersama telepon seluler nya.
Dan Anna yang baru turun dari kamarnya, dengan sikap manjanya lalu meletakkan kepalanya di paha suaminya membuat Danial risih akan hal itu.
"Anna tolong jangan seperti ini, tahu kan Mas lagi sibuk?" ucap Danial menyingkirkan tubuhnya dari Anna.
"Sibuk bermesraan dengan wanita lain kan?"
"Lalu apa masalah Anna?"
"Anna cuma ingin mengingatkan kalau besok hari libur, waktunya kita pergi jalan-jalan Mas, ucap Anna.
"Iya Mas, kok kamu jadi kaget gitu sih?"
"Makanya liburan itu perlu Mas, supaya bisa merilekskan pikiran dan tubuh kita dari penatnya bekerja,"
"Besok libur kerja, lalu esoknya juga libur, lalu kenapa Hanin memutuskan untuk pergi besok. Batinnya. Mas hanya sedikit pusing," ucap Danial sambil memijat kepalanya yang baik-baik saja.
"Apa perlu Anna pijitin?"
"Nggak Anna, Mas bisa melakukannya sendiri,"
"Kalau gitu Anna ke kamar dulu ya Mas,"
{Warung sate pinggiran jalan}
Ramai orang duduk di atas trotoar beralas tikar, ada yang bertukar cerita, meminum secangkir kopi, juga makan bersama keluarga.
"Kenapa Anna ajak mas ke sini?"
"Ini adalah tempat makan malam kita Mas, nggak apa-apa kan?"
"Mas sih nggak masalah,"
"Yuk kita cari tempat duduk,"
"Pak, pesan 2 ya,"
"Iya Neng, mau berapa tusuk?"
"Saya 20 tusuk, Mas mau berapa?"
"Sama saja,"
"Kalau minumannya?"
"Saya es jeruk manis, kalau Mas mau minum apa?"
__ADS_1
"Saya teh hangat saja,"
"Pedasnya mau level berapa mbak?"
"Ada levelnya ya, saya mau yang paling pedas deh Pak,"
"Saya non pedas ya Pak,"
"Baik, mohon ditunggu ya,"
Aroma bumbu kacang dari sate kambing yang sudah siap untuk disantap membuat hidung keduanya bermekaran.
"Terima kasih Pak,"
"Ayo mas, dimakan satenya,"
"Gimana enak nggak?"
"Iya enak,"
Anna jadi tertawa melihat Danial yang begitu bersemangat makan satenya.
"Ya ampun sampai belepotan gini makannya," ucap Anna mengusap sisa bumbu kacang di sudut bibir Danial dengan tissue.
"Mas bisa melakukannya sendiri," ucap Danial buru-buru mengusapnya sendiri.
Sambil menikmati malam yang syahdu, Anna bercengkrama dengan seroang Bapak yang sudah berusia senja di sampingnya.
"Bapak sudah makan atau belum, biar saya pesan makanan untuk Bapak ya,"
"Terima kasih Mbak, kebetulan saya sudah makan,"
"Bapak ini dari mana, asli orang sini ya?"
"Saya dari Jogja, di sini berlibur ke rumah saudara,"
"Oh Bapaknya orang jawa, saya juga bukan orang sini pak asalnya dari bandung,"
Danial begitu kesal tidak diperhatikan oleh Anna yang terus saja berbicara dengan orang yang tidak dikenalnya itu.
"Ehem ehem , maaf saya ingin bicara sebentar dengan istri saya ini," ucap Danial menarik tangan Anna.
"Ada apa sih Mas, Anna kan lagi ngobrol sama bapaknya,"
"Iya saking asyiknya ngobrol, Anna melupakan Mas di sini,"
"Mas cemburu sama Bapak itu?"
"Mas mau pulang saja, lagi pula ini sudah malam,"
"Iya mas, ayo kita pulang,"
Anna yang baru saja ingin merebahkan tubuhnya di atas dipan karena begitu kenyang makan banyak, merasa terganggu dengan bunyi dering telepon seluler Danial.
Saat ia memberanikan diri untuk melihatnya, ternyata di layar telepon suaminya itu muncul sebutan Sayangku alias Hanin.
"Dasar nggak tahu sopan santun, sudah jam berapa ini?" ucap Anna mengangkat telepon dari Hanin.
"Katakan ada apa?"
"Kok jadi kamu yang angkat teleponnya sih?" ucap Hanin terkejut.
"Kenapa, sama saja bukan?"
"Aku adalah istrinya, jadi berhak tahu apapun yang berhubungan dengan suamiku,"
"Tepatnya istri yang nggak diharapkan, jangan merasa puas dulu ya karena Danial itu nggak pernah cinta sama kamu,"
"Ahh Mas...jangan bermain di bawah terus dong, naiklah sedikit," ucap Anna
"Ehh kalian sedang apa ini ha?"
"Iya pelan-pelan Sayang...," ucap Anna menutup teleponnya dengan tertawa.
"Awas kamu ya Danial, berani-beraninya ingkar janji padaku !" ucap Hanin melempar handphone nya ke kasur.
__ADS_1