
Anna berjalan seorang diri menyusuri jalanan sepi.
Sebuah mobil berhenti di sampingnya.
Ia pun berhenti, dan mencoba mengetahui siapa orang yang berada dalam mobil itu.
Pemilik mobil itu keluar, ternyata ia seorang wanita memakai pakaian kasual dengan memakai kacamata berwarna cokelat.
Dirinya menghampiri Anna yang masih terlihat bingung.
"Hai Anna, apa kabar?"
"Kamu masih ingat sama aku kan?" ucap wanita itu.
"Anggun bukan?"
"Tepat sekali, aku kira kamu sudah melupakan nama Anggun Ulya Hartono,"
"Kamu sendiri apa kabar?"
"Baik, oh iya bisa kita bicara sambil menikmati kopi?"
Anna dibuat bingung karena Anggun membawanya ke cafe Panas Dingin.
Apa tujuannya membawanya ke cafe itu.
"Kamu bingung ya kenapa aku ajak kamu ke cafe ini?"
"Cafe ini tempat tongkrongan Danial dan kawan-kawan nya saat mereka masih sekolah,"
"Dan tempat ini juga yang menjadi saksi Danial menghancurkan mimpi aku !"
Anna tak mengerti apa yang dimaksud dengan Anggun. Kenapa ia menceritakan semua masa lalunya, padahal Anna sama sekali nggak mengetahuinya.
Anggun mencoba tegar dihadapan Anna, menahan air matanya bertahun-tahun ingin dia tumpahkan rasa kekecewaannya pada Danial.
"Maaf Anggun, aku rasa kamu salah paham,"
"Aku memang nggak tahu masa lalu kamu dan danial, tapi aku yakin ini salah,"
"Coba kamu bayangkan saat aku hampir saja menjalin hubungan dengan Hilman lalu tiba-tiba Danial mengacaukan semuanya, ia menuduhku wanita nakal di depan Hilman juga teman-teman nya,"
"Dan itu adalah sebuah kejahatan Anna !"
Setelah bertemu dengan Anggun, Anna terus memikirkan apa yang telah ia dengar. Semakin ragu rasanya untuk melanjutkan hidup bersama Danial.
Sampai di rumah, ia mencoba untuk menanyakan hal tersebut pada Danial. Supaya keraguan dalam hatinya itu salah.
"Mas, apa Anna boleh menanyakan sesuatu sama Mas?"
"Boleh, Anna mau tanya soal apa?"
"Saat masa sekolah dulu, apa yang terjadi dengan Hilman dan Anggun?"
Danial bertanya-tanya pada dirinya, mengapa Anna menanyakan hal itu. Sudah lama ia melupakan masa lalunya.
"Mas sudah melupakan soal itu Anna,"
__ADS_1
"Kenapa, apa ada yang Mas sembunyikan dari Anna?"
Danial tak ingin terbawa emosi, karena Anna terus mendesaknya. Namun ia juga tak mungkin terus menyembunyikan masa lalunya pada Anna.
"Sebelum Mas mencintai Hanin, nama Anggun yang lebih dulu mengisi hati Mas,"
"Tapi setelah Mas tahu sifat aali Anggun, Mas memutuskan untuk melupakan cinta itu,"
"Dan Anggun memilih untuk mendekati Hilman,"
Danial melakukan pengorbanan besar untuk sahabatnya, Hilman.
Supaya ia tak salah dalam melangkah.
Walau ia harus dibenci oleh sahabatnya itu, tak masalah karena baginya yang paling penting adalah melihat sahabatnya baik-baik saja.
Mendengar kisah dari Danial, keraguan dalam hati Anna sirna. Ia begitu mengaguminya, walau ia tahu suaminya itu adalah seorang pecinta wanita di masa sekolah.
"Memang apa yang telah Anggun lakukan sehingga membuat Mas menjauh darinya?"
"Sepulang sekolah, Mas berniat mengikutinya sampai rumah tapi ternyata ia berhenti di tengah jalan dan pergi bersama dengan laki-laki lain,"
"Mas ikuti mereka sampai akhirnya berhenti di suatu tempat yang saat itu orang bilang sebagai tempat lokalisasi,"
"Jadi maksud Mas, Anggun melakukan perbuatan itu?"
Anna tak menyangka perempuan seperti Anggun bisa melakukannya, karena saat di sekolah dirinya pantang untuk dekat dengan laki-laki yang sembarangan, terlebih saat tahu Anggun adalah anak dari seorang anggota Dewan.
"Kenapa Anna menanyakan soal ini sama Mas?"
"Anna cuma ingin tahu saja seberapa besar pengaruh Mas saat di sekolah dulu,"
Namun Danial juga dibuat heran olehnya karena istrinya tak bereaksi seperti cemburu atau kesal.
Malam harinya di apartemen Anggun, tiba-tiba ada seorang laki-laki bertubuh kekar yang memaksanya untuk pergi bersama. Anggun mencoba melepaskan dirinya, namun ia merasa terancam karena laki-laki itu menyimpan rahasianya.
Membuatnya tak berdaya, dan terpaksa menuruti keinginan laki-laki itu.
"Lepaskan Aku !" teriak Anggun.
"Ayolah Sayang, nikmati saja malam ini,"
"Kamu suka kan dengan kejutannya?"
Laki-laki itu membawanya ke suatu tempat yang dipenuhi wanita dan laki-laki sedang berfoya-foya.
Hanin terus berusaha menelepon Anggun yang tak kunjung dijawab. Ia khawatir Anggun akan melakukan hal bodoh, karena ia tahu begitu dalam luka hatinya yang disebabkan oleh Danial.
Sementara itu, dirinya juga khawatir karena terus mendapatkan teror dari orang tak dikenal.
Anna tampak asyik berbicara dengan Tulus di telepon. Membuat Danial terasa panas.
Dirinya pun berniat untuk membalas Anna.
"Iya Sayang, besok kita bertemu di tempat biasa itu kan?"
Anna menutup telepon dari Tulus, dan memberikan ruang untuk Danial yang menerima telepon dari Hanin. Ia tak tahu, Danial hanya berpura-pura saja.
__ADS_1
"Kenapa Anna menutup teleponnya?"
"Karena nggak baik menggangu orang saat sedang berkomunikasi dengan seseorang,"
"Oh jadi Anna menyalahkan Mas?"
"Apa Anna menyalahkan Mas?"
Danial terdiam, lalu mematikan handphonenya.
Dan bertanya suatu hal pada Anna.
"Anna masih menjalankan projek nulis itu?"
"Masih, doakan ya Mas semoga Anna bisa menyelesaikan sampai akhir,"
Tiba-tiba Danial menerima telepon dari Hanin.
Ia tak ingin mengangkat teleponnya karena dirinya masih marah pada Hanin.
"Kenapa nggak diangkat teleponnya Mas?"
"Bukannya Mas baru saja bermanja-manja dengan dia?"
"Sudah malam, Mas mau tidur," ucap Danial pergi meninggalkan Anna sendirian di ruang tamu.
Hanin mengetuk pintu ruang kerja Danial dengan keras. Semua orang melihat kelakuannya yang dirasa tak memiliki sopan santun.
Karena sukar mendengar teriakan Hanin, Danial membuka pintunya dan menariknya ke ruangannya.
"Di mana sopan santun kamu itu?"
"Habis aku kesal sama kamu yang masih mengacuhkan aku !"
"Aku kangen tahu sama kamu !"
"Oh iya, besok acara ulang tahu kantor kita ya,"
"Aku nggak sabar datang ke party bersama kamu,"
Danial dan Hanin selalu menghadiri acara ulang tahun di kantornya dengan bersama. Namun saat ini dirinya sudah memiliki seorang istri yang tak mungkin lagi menggandeng Hanin.
Arvin juga menanyakan hal itu, saat pulang dari kantor.
Namun ia nggak menyangka Danial memilih membawa Hanin ketimbang istrinya.
Acara perayaan ulang tahun kantor yang ke 15 tahun. Begitu megah dan mewah.
Sayangnya kali ini Mama dan Papa Danial tak bisa hadir, karena suatu halangan. Dan memutuskan Danial sebagai perwakilan dari perusahaannya.
"Aku bahagia sekali, karena malam ini bisa berduaan lama sama kamu," ucap Hanin menggandeng tangan Danial.
Arvin datang seorang diri, ia menghampiri Danial dan Hanin.
Lalu mengatakan dirinya hadir bersama seorang wanita yang menjadi teman kencannya di pesta malam ini.
Seorang wanita memakai gaun yang sangat indah dibaluti kerudung model masa kini.
__ADS_1
Ia berdiri di samping Arvin dan tersenyum manis pada Danial dan Hanin.
"Anna kenapa bisa ada di sini?" tanya Danial terkejut melihat istrinya ada di hadapannya.