My Roommate'Class

My Roommate'Class
Detik-detik Di Neraka


__ADS_3

Dihadapkan dengannya bagai di neraka.


Bagaimana jika satu atap.


Panas, kala mengingat pengkhianatan yang telah dia lakukan padaku.


Namun mampu menyejukkan hatimu.


Tak pantas dibandingkan, kalau mencintaimu jelas aku pemenangnya.


Soal di hatimu, sadar itu bukan diriku.


Di dalam cafe bernuansa monokrom. Dengan sigap, Anna menatapnya penuh harap.


"Sebenarnya untuk apa kamu memintaku ketemuan di sini?" tanya Hanin menyipitkan kedua matanya.


"Aku ingin tahu apa kamu benar-benar mencintai Danial?"


"Jelas aku sangat mencintainya, tapi kamu nggak pernah bisa melihat itu kan?"


"Lagi pula Danial itu semakin ilfil sama kamu, karena ternyata istirnya mengidap penyakit parah ditambah dia nggak bisa memberikan keturunan. Jadi sudah pasti akulah orang yang tepat untuk Danial," imbuh Hanin dengan tertawa.


"Sekarang aku percaya kalau kamu benar-benar mencintainya, aku mohon sama kamu untuk jangan menyakitinya. Karena cintanya ke kamu itu begitu besar,"


"Bagus deh kalau kamu sadar, apa ada lagi yang harus dibicarakan. Kalau nggak, aku bisa pergi sekarang," ucap Hanin beranjak dari tempat duduknya sambil tersenyum manis.


"Ah, aduh," rintih Anna terus memegangi kepalanya.


"Hei, kamu ini kenapa?" tanya Hanin.


"Aku nggak apa-apa, maaf aku harus pergi," ucap Anna terburu-buru.


Berlari, menahan semua rasa sakitnya.


Berteriak-teriak di tengah jalan, membuat semua orang memperhatikannya.


"Anna, apa yang sudah terjadi?" tanya Tulus, yang berlari saat mengenal suaranya.


"Aku sudah kalah, Tulus !"


"Apa maksud kamu, lebih baik kita berteduh ya,"


Di bawah pohon rindang, bersamaan dengan daun-daun yang berguguran. Air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.


"Aku heran, kamu menangis pun tetap terlihat manis," goda Tulus membuat Anna tersenyum tipis, lalu mengusap air matanya.


"Tunggu, jangan kamu kotori tangan itu dengan mengusap air mata yang telah mereka buat. Pakai tissue ini,"


"Terima kasih, lagi-lagi kamu yang membuatku merasa lebih baik setelah menangis,"

__ADS_1


"Itu memang cita-cita ku, untuk selalu membuatmu bahagia,"


Di sela Bu Lilis menyirami bunga gantung. Pak Saiful meminta izin untuk pergi ke Masjid.


"Pak, Ibu kok merasa kepikiran terus ya sama Anna,"


"Itu yang dinamakan rindu Bu, kepikiran setiap waktu sampai waktu bertemu. Bapak pun juga sangat merindukannya, tapi Bapak malas bila bertemu dengan Danial,"


"Kenapa Pak, apa Bapak juga sama seperti Ibu yang merasa kalah Danial masih saja berhubungan dengan Hanin?"


"Bukan hanya merasa Bu, tapi memang nyata. Tulus sendiri yang bilang sama Bapak kemarin saat datang ke rumah ini,"


"Astaghfirullah, pasti sakit Anna kambuh lagi gara-gara Danial dan Hanin !"


"Ibu nggak mau melihat Anna menderita Pak, kita harus berbuat sesuatu untuknya !" desak Bu Lilis memegang erat tangan suaminya, menatap penuh harap.


Arvin berlari, menerobos menemui Danial di ruang kerjanya. Membuat Danial kesal dengan tingkah sahabatnya itu.


"Vin, sekarang kamu juga ikut-ikutan seperti Hanin ya. Bisa nggak ketuk pintunya dulu?"


"Lalu apa bedanya sama kamu yang tiba-tiba memutuskan untuk keluar dari perusahaan ini dan memilih gabung dengan perusahaan lain?" gerutu Arvin, menatap wajah Danial yang mulai terlihat berkeringat.


"Jadi kamu sudah tahu soal itu, lantas apa salahnya?"


"Kamu lupa kalau perusahaan ini nantinya juga akan menjadi milikmu, kalau Papamu tahu soal ini dia pasti akan marah besar !"


"Alah, bukannya kamu senang melihatku keluar dari perusahaan ini?"


"Apa maksudmu, aku nggak pernah ya punya pikiran untuk merebut posisimu sebagai CEO di sini !" tegas Arvin.


"Kamu dan Tulus sama-sama pengkhianat, kalian bukan sahabatku lagi. Jangan pernah ikut campur jika ingin hidupmu tenang, karena kamu bukan sahabatku lagi !" ancam Danial, lalu memilih untuk pergi.


Tok...Tok...Tok... (Suara pintu rumah Danial)


"Ini belum waktunya Mas Danial pulang, apa mungkin telah terjadi sesuatu dengannya?" tanya Anna, berlari membuka pintu rumahnya.


"Mama,"


"Silakan masuk Ma,"


"Nggak perlu basa-basi lagi, Saya ke sini cuma mau mengingatkan kamu untuk pergi dari kehidupan Danial !"


"Maksud Mama apa?"


"Kurang jelas, kamu ini bodoh atau memang pura-pura menjadi bodoh supaya orang-orang mengira kamu ini orang baik?"


"Maaf Ma, Anna memang nggak mengerti maksud nama tadi,"


"Saya mau kamu berpisah dengan Danial, karena selama ini kamu sudah membuatnya menderita !"

__ADS_1


"Tolong jangan lakukan ini Ma, Anna sangat mencintai Mas Danial dan nggak akan pernah mau berpisah darinya !" ucap Anna meraih kedua tangan Mama mertuanya.


"Cukup, Saya nggak mau lagi mendengar kata-kata manis mu itu. Danial memang lebih pantas hidup bersama Hanin, karena sudah pasti dia akan memberikan kebahagiaan,"


"Mama, kenapa nggak masuk ke dalam rumah?" tanya Danial yang baru saja tiba di rumahnya.


Anna tidak ingin memperlihatkan kesedihannya, ia pun masuk ke dalam tanpa mau melihat suaminya.


"Anna, apa yang terjadi dengannya Ma?"


"Mama mau dia melepaskan kamu !"


"Ma, berapa kali Danial katakan. Anna akan tetap di sini menjadi istri Danial, dan Mama nggak berhak memintanya pergi dari kehidupan Danial !" tegas Danial, menyusul istrinya.


"Gara-gara perempuan itu, Danial selalu melawan orang tuanya !"


Di atas dipan, Danial berjalan menghampiri Anna yang menatap foto pernikahan mereka di dinding kamar.


"Yang dikatakan Mama itu benar, Anna memang nggak pantas menjadi istri Mas lagi,"


"Anna penyakitan dan nggak bisa memberikan mereka cucu,"


"Hei, lihat Mas sini. Bagi Mas, Anna ini adalah istri yang sempurna," ucap Danial menatap istrinya dengan teduh.


"Mas janji nggak akan pernah tinggalkan Anna, kita hadapi semua ini sama-sama ya," imbuh Danial menyenderkan kepala istrinya di bahunya.


Sesekali Anna mencuri pandang, melihat keseriusan dalam hati suaminya.


"Maafkan atas sikap dan perilaku Anna ya Mas, jika sudah membuat hati Mas kecewa selama ini,"


Danial mengangguk seraya memeluknya.


"Jangan-jangan Anna berbuat curang Tan, dia membuat pelet yang ampuh supaya Danial bisa tunduk padanya !" ucap Hanin terus menyemburkan api di hati Bu Sarah.


"Yang jelas, Danial sudah dibutakan mata hatinya sama dia !"


"Yah, gagal dong Hanin menjadi menantu kesayangan Tante,"


"Kamu jangan menyerah ya, saya akan terus berusaha untuk memisahkan mereka !"


"Dan menjadikan kamu ratu di hari Danial, saya janji !"


"Ah terima kasih ya Tan, Hanin makin sabar pastinya menunggu waktu itu tiba !"


Suara tepuk tangan bergemuruh di dalam ruang kerja Tulus.


Menyambut detik-detik kehancuran Danial.


"Bagaimana, sekarang kamu percaya kan sama aku?"

__ADS_1


"Tentu aku percaya, ternyata semudah itu ya kita bisa membuat seorang Danial Syahreza hancur !"


"Dia hancur bukan karena ulah kita, tapi karena ketamakannya sendiri !"


__ADS_2