My Roommate'Class

My Roommate'Class
Aku Bingung Memilihnya


__ADS_3

Ku ucapkan syukur yang tak terukur memilikimu


Yang dulu jauh dari tatapanku


Kini bisa ku nikmati sepanjang waktu


Senyummu yang memikat, matamu yang mengikat


Tangan mungil yang tak sampai menjamah


Kini tak mau lepas dari genggaman


Cinta memang tak bisa dicari, apalagi diraih


Ia akan hadir sendiri walau beri perih.


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Lagi-lagi membuat Danial khawatir dengan keadaan Anna yang berangsur-angsur merasakan sakit.


Hal itu membuatnya tegas untuk membawanya ke rumah sakit.


"Sudahlah Mas, Anna mau istirahat saja," tegas Anna.


Danial menuruti kemauan Anna, namun ia kembali berbicara soal Tulus.


"Ini akibatnya Anna membangkang sama Mas,"


"Dan Mas minta Anna nggak lagi bertemu dengan Tulus ya," ucap Danial sambil meraih tangan Anna dan menatapnya.


"Anna mau tidur Mas,"


"Mas akan jaga Anna, takut sakit Anna kambuh lagi terus nggak ada yang tahu itu,"


Anna membaringkan tubuhnya, sedangkan Danial menjaga di sebelahnya, dengan masih menggenggam erat tangan Anna.


"Mas, nggak perlu tangan Anna dipegang seperti ini,"


"Kenapa, kalau nggak dipegang nanti Anna malah kabur lagi," ucap Danial sambil tertawa kecil.


Namun Anna sama sekali tidak menghiraukannya. Dan kembali untuk memejamkan matanya.


Terdengar suara ayam berkokok, Anna membangunkan Danial yang tertidur pulas di tempat tidurnya, untuk mandi dan bersiap melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Anna duduk di sebelahnya, dengan perlahan menepuk pundak Danial.


"Mas ayo bangun, kita sholat subuh berjamaah ya,"


Danial mengernyitkan dahinya, sambil mengucek kedua matanya. Ia terkejut melihat Anna ada di sampingnya.


"Anna sudah sehat?"


"Alhamdulillah Mas, karena ada dokter cinta yang merawat Anna dengan sangat baik !"


Danial tersenyum tipis.


"Itu sudah pasti, karena cuma Mas yang bisa membuat Anna bahagia kan?"

__ADS_1


"Lebih bahagia lagi kalau kita segera melaksanakan sholat berjamaah,"


Danial menghela napasnya, kemudian memohon pada Anna untuk membantunya berdiri karena begitu terasa berat.


Mengawali pagi dengan bersemangat, berharap tak akan ada yang mengacaukan harinya.


Danial berjalan menuju ruang kerjanya, namun langkahnya terhenti karena Hanin menghalanginya.


"Ada apa lagi, mau ngadu soal Anna?"


"Wah, hebat ya dia bisa buat kamu memikirkannya setiap waktu"


"Aku cuma kasihan saja melihat kamu terus dibohongi sama dia,"


"Sudah ya, aku nggak mau harus berdebat masalah ini lagi !"


"Oke aku janji nggak akan membahas soal Anna dan Tulus lagi, tapi kamu hari ini temani aku pergi jalan-jalan ya,"


"Kita sudah lama loh nggak jalan-jalan, please,"


Danial mengangguk, lalu pamit pergi ke ruang kerjanya.


Hanin membawa Danial ke tempat pertama kali mereka kencan. Membuat Danial bertanya-tanya, ada maksud apa ia membawanya ke tempat ini.


"Sudah hampir satu tahun kita jalani hubungan ini, mau dibawa ke mana lagi coba?" ucap Hanin sambil meraih kedua tangan Danial.


"Sayang, sebenarnya kamu serius nggak sih sama aku?"


Danial melepaskan genggamannya. Membuat Hanin kesal.


"Aku nggak tahu, apa aku bisa menjalani hubungan ini lagi atau nggak?"


"Kamu berkata seperti ini bukan karena sudah ada rasa cinta kan sama Anna?"


Danial terdiam sesaat, saat ia membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Hanin tiba-tiba Tulus datang dengan bertepuk tangan.


"Sungguh luar biasa, kisah cinta kalian ini ya," ucap Tulus menghampiri keduanya.


"Kenapa menatapku seperti itu, aku bukan seorang penjahat yang akan merusak kisah cinta kalian,"


"Mau apa kamu ke sini, apa nggak cukup penjelasan dari aku waktu itu?" ucap Danial menghampiri Tulus, dengan tangan yang siap untuk menghantam wajah sahabatnya itu.


"Anna nggak bahagia bersama kamu, dan aku datang padanya untuk membuatnya bahagia,"


"Hei jaga mulutmu, aku nggak segan-segan ya untuk membuat muka dua mu itu hancur !" teriak Danial sambil menarik kencang kra baju Tulus.


Tulus melepaskan kedua tangan Danial yang menggantung di pundaknya.


Lalu menatap wajah Hanin dengan penuh kebencian.


"Aku salah menilai mu, cantik rupanya tapi hatinya burik !


"Apa bedanya sama kamu, yang tega menusuk sahabatnya sendiri !"


"Dia bukan sahabatku, karena aku nggak mau punya sahabat yang bejat seperti dia !"


"Aku bingung kenapa Anna masih mau menganggap dirimu sebagai sahabatnya, yang jelas-jelas sudah membuatnya menderita,"

__ADS_1


"Tapi kalian nggak perlu khawatir, cepat atau lambat Anna akan menyadari ini semua karena orang toxic seperti kalian nggak berhak untuk dicintainya !" ucap Tulus lalu pergi dari sana.


Begitu membekas ucapan Tulus. Namun dirinya tidak akan membawa rasa kesal itu sampai ke rumah karena ia tahu akan membuat Anna sakit.


"Mas mau makan ini nggak?" tanya Anna saat makan malam bersama.


"Boleh,"


Tak sadar Danial telah begitu banyak menyendok sambal ke piringnya. Membuat Anna tercengang melihatnya, karena tahu Danial tidak menyukai makanan yang berbau pedas.


"Mas yakin mau makan dengan sambal yang sebanyak itu?" tanya Anna membuat Danial tersadar.


"Maaf, Mas nggak tahu kalau ngambilnya kebanyakan,"


"Mas baik-baik saja kan?"


Danial mengangguk. Dan meminta Anna untuk mengambilkan piring yang baru.


Danial duduk melamun di sofa, hal itu membuat Anna cemas melihat sikap suaminya yang aneh.


"Mas yakin nggak mau cerita sama Anna?"


"Anna tidur saja ya, Mas masih banyak kerjaan nih,"


Anna menceritakan soal ini pada Maira. Ia hanya meminta Anna untuk tetap menjaga diri baik-baik.


"Kenapa aku harus khawatir dengan diriku?"


"Kamu ini gimana sih, biasanya kalau seorang laki-laki bersikap aneh dan melamun sepanjang hari pasti lagi banyak pikiran tuh,"


"Nah yang harus diwaspadai, kamu harus terus pantau dia, setiap gerak-geriknya supaya dia nggak berbuat macam-macam sama kamu!"


"Kalau tiba-tiba dia mau berniat membunuh kamu, kamu bisa segera lari dari rumah itu !"


"Astaghfirullah Maira, kok kamu bisa kepikiran sampai segitunya sih,"


"Nggak mungkin lah dia mau melakukan hal itu, dan aku yakin dia menyembunyikan ini supaya aku nggak ikut kepikiran,"


"Anna bicara dengan siapa?" tanya Danial, mengejutkan Anna.


"Nggak Mas, Anna cuma kepikiran sama Mas saja,"


"Mas bawa apa itu?" tanya Anna ketika mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan di belakang Danial.


Danial menunjukkan barang yang ia bawa, sebuah lakban hitam segulung. Seketika membuat Anna bangun dari tempat tidur.


"Lakban, untuk apa Mas?" tanya Anna dengan wajah mulai berkeringat.


"Jangan-jangan yang Maira katakan tadi benar. Mas, Anna mohon jangan lakukan itu ya,"


"Memang Anna pikir Mas mau melakukan apa dengan lakban ini?"


"Mas mau benerin pigura mahar pernikahan kita yang patah,"


"Oh iya, Anna minta maaf ya Mas sudah berpikir yang aneh-aneh,"


"Iya Anna, Mas juga minta maaf ya sudah membuat Anna kepikiran,"

__ADS_1


__ADS_2