My Roommate'Class

My Roommate'Class
Manis Racun Di Bibirmu


__ADS_3

Ketika matahari berada di puncak.


Tulus datang untuk mengacak-acak perasaan sahabatnya, Danial.


Duduk saling berhadapan, memandang wajah lawan dengan sangat tajam.


"Dari dulu sampai sekarang entah kenapa kita masih saja berkompetisi mendapatkan hati wanita yang sama-sama kita cintai, aku benar bukan?" ucap Tulus tersenyum simpul.


"Sebenarnya ada hal apa kamu datang kemari?"


"Kamu pasti tahu dong tujuanku kemari untuk apa?"


"Untuk menghentikan mu agar berhenti menyakiti hati Anna. Kalau kamu masih mengulanginya, tahu sendiri kan apa akibatnya?" gertak Tulus.


Danial beranjak dari tempat duduknya, seraya mengangkat jari telunjuknya ke wajah sahabatnya itu.


"Oh jadi kamu mengancam ku, seharusnya kamu tuh sadar bahwa yang harus hati-hati itu adalah dirimu sendiri !"


"Kenapa, karena kamu yang selalu berusaha merebut apa yang aku suka !"


"Aku?" tanya Tulus yang juga beranjak dari tempat duduknya sambil menatapnya penuh kebencian.


"Kamu ini pura-pura lupa atau munafik ya, lalu siapa ya yang dulu mengemis padaku supaya melupakan Hanin?"


"Danial, aku sudah banyak mengalah. Sekarang, aku nggak bisa tinggal diam jika melihat orang yang aku cintai disakiti olehmu !"


"Ingat ya kamu itu bukan siapa-siapanya, di sini aku adalah suaminya dan aku bisa menjaganya tanpa bantuan darimu !"


"Kalau kamu bilang bisa menjaganya, lalu kenapa masih mau berhubungan dengan perempuan itu?"


"Mungkin aku ini memang cuma sebatas teman untuknya, tapi kasih sayang ku melebihi suaminya yang lebih mencintai perempuan lain dari pada istrinya sendiri !" tegas Tulus, kemudian melangkah pergi.


Danial membuka kra kemejanya dengan paksa, lalu melempar dasinya ke meja.


Niat ingin menjadi sosok Detektif Conan. Anna justru kepergok oleh laki-laki yang bersama dengan Hanin di sebuah Mall.


"Hai Nona, ada apa kamu terus mengikuti saya?"


"Maaf, saya mengikuti mas nya?"


Laki-laki itu mengangguk.


"Saya seorang SPG di sini, mungkin mas berminat untuk datang ke tempat yang tertera di sini," sambil memberikan secarik kertas brosur resort spa.


"Wow, boleh saja. Tapi bagaimana kalau Nona yang menemani saya ke sana?" ucapnya sambil mengedipkan mata.


Melihat Hanin berjalan menuju ke arahnya. Anna pun lari sekencang mungkin.


"Nona tunggu !"


"Oh baru aku tinggal sebentar, kamu langsung genit ya sama perempuan lain?"


"Nggak Sayang, tadi ada seorang wanita yang terus saja mengikuti kita eh ternyata dia seorang PSG dan memberikan brosur ini,"


"Ya sudah kita pergi yuk, aku mau istirahat !"


Anna mengatur napasnya yang terengah-engah.


Saat dirinya menengok ke belakang, detak jantungnya berdetak kencang, seluruh tubuhnya gemetaran.


"Mas Danial?"

__ADS_1


Anna takut jika Danial sampai melihat Hanin sedang berjalan bersama laki-laki lain.


"Lihat Hanin, hari ini juga kamu akan hancur !" ucap Maira di belakang Anna.


"Mas Danial !"


"Anna?"


"Duh kenapa sih anak ini harus muncul di saat waktu yang salah?"


"Anna ngapain di sini, sendirian?"


"Anna habis ketemuan sama Maira, Mas sendiri sedang apa di sini?"


"Tadinya Mas berpikir sebelum pulang ke rumah beli makanan di sini, kita pulang yuk !"


"Duh, gimana sama Maira ya. Batinnya. Sebentar Mas, Anna cek handphone dulu ya,"


"Kamu pulang saja, aku bisa kok pulang sendiri," tulis pesan dari Maira.


"Ayo Mas kita pulang !"


Setelah melaksanakan sholat berjamaah, Danial pamit ke bawah untuk mengerjakan proposal kerjanya.


Sedangkan Anna kembali menyusun rencana bersama Maira.


"Halo Maira," ucap Anna di telepon.


"Iya, ada apa?"


"Bagaimana rencana kita selanjutnya?"


"Rencana apa, semua rencana yang sudah kita susun dari awal sudah gagal !"


"Belum saatnya dia tahu, Ra !"


"Tahu soal apa?" tanya Danial mengejutkan Anna.


Batang rokok yang masih menyala, mendarat di hadapannya. Hampir saja mengenai kulit mulusnya.


"Kamu gila ya, kalau sampai mengenai aku bagaimana?"


"Biar saja kamu jadi jelek, supaya laki-laki hidung belang itu nggak merayu kamu !"


"Danial maksud kamu?"


"Dengar ya Danial tu menerima aku apa adanya, sama seperti dia yang mau saja dinikahkan dengan perempuan itu !"


"Penampilannya biasa saja, cuma dia berhijab. Mungkin itu juga yang membuat kedua orang tuanya suka,"


"Apa kamu bilang, perempuan itu berhijab?"


"Iya, kenapa memang. Oh aku tahu, kamu juga suka sama perempuan seperti itu?"


"Bukan, yang tadi aku bilang waktu di Mall. Perempuan itu ada di sana juga !"


"Apa, kamu jangan mengada-ada ya. Mana mungkin dia jadi SPG?"


"Hanin tolong berhenti jadi tolol. Maksud aku, dia itu mengikuti kita !"


"Ini bukan orangnya?" menunjukkan foto Anna di handphonenya.

__ADS_1


"Nah iya, persis sekali sama Nona SPG di Mall tadi !"


"Untuk apa Anna mengikuti aku?"


"Jangan-jangan dia mau kasih tahu ke suaminya kalau kamu sudah mengkhianatinya !"


"Kalau benar begitu, ini nggak bisa dibiarkan !" ucap Hanin menggenggam kedua tangannya yang gemetaran.


Anna memalingkan wajahnya, lalu menguap.


"Anna nggak mau Mas tahu kalau sebenarnya, Anna mengantuk !"


"Oke, Anna istirahat saja karena Mas masih harus melanjutkan pekerjaan,"


"Mas, maafkan kesalahan Anna hari ini ya !"


"Iya, Mas juga,"


"Selamat malam,"


"Selamat malam juga,"


Pagi ini udara ibukota begitu sejuk, tapi hati Hanin terasa mendidih khawatir Anna membuat ulah padanya. Ia pun bergegas menemui Danial di ruang kerjanya.


"Sayang, aku minta kamu ceraikan dia sekarang juga !"


"Kamu bisa nggak sih ketuk pintu dulu, terus kenapa kamu membicarakan soal ini lagi. Menyuruh aku untuk berpisah dengannya?"


"Sampai kapan aku harus menunggunya, supaya bisa memiliki kamu seutuhnya?"


"Aku cuma butuh kepastian dari kamu, jadi selama ini ternyata aku salah. Aku mengira kamu bisa memenuhi janji itu, rupanya aku hanya menjadi mainan kamu !"


"Han, kasih aku waktu ya. Aku janji kita akan hidup bersama, tapi aku nggak bisa meninggalkannya !"


"Aku mau kamu memilih diantara aku dan dia, karena aku nggak mau jadi yang kedua !"


"Kenapa, aku bisa adil kok !"


"Segitu mudahnya kamu bilang, belum jadi istrimu saja aku sudah dicampakkan. Kamu bilang bisa berlaku adil?"


"Kalau begitu, mulai sekarang kamu harus selalu ada waktu buat aku !"


"Oke, aku turuti kemauan kamu,"


"Terima kasih ya Sayang !"


Bulan dan Bintang tidak terlihat menghiasi langit malam. Danial masih belum tiba juga di rumah.


Membuat Anna cemas memikirkannya.


"Malam ini suamimu menjadi milikku, kamu jaga diri baik-baik ya !" tulis pesan Hanin.


"Cukup Hanin, aku nggak akan membiarkan kamu memperdaya suamiku lagi !"


"Oke Anna, aku antar kamu untuk mengetahui kebenarannya ya !" ucap Tulus di telepon.


"Ayo masuk !"


Setibanya di sana, kedua mata Anna melihat Danial dan Hanin sedang memadu kasih di taman rumah.


Suara gelak tawa mereka menyayat hatinya.

__ADS_1


Tulus benar-benar ingin menghajarnya saat itu juga.


__ADS_2