My Roommate'Class

My Roommate'Class
Meng-install Wajahmu, Benar-benar Membunuhku !


__ADS_3

"Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan berikan, apabila Allah dan Rasul -Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka.


Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul -Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata, " (Q.S. Al-Ahzab ayat 36)


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


"Assalamualaikum, Anna !" teriak seorang wanita dengan membawa banyak buah tangan.


"Waalaikumussalam, Maira !" memeluk erat Maira, merasa ada yang ganjil dalam diri sahabatnya.


"Tunggu, perut kamu ini kenapa?"


"Makin besar ya, karena tinggal 3 bulan lagi aku melahirkannya ke dunia !"


"Kamu hamil, siapa yang sudah melakukan ini sama kamu?"


"Pacar kamu itu ya, terus dia mau bertanggung jawab kan?" gerutu Anna.


"Lebih tepatnya mantan pacar sih alias suami aku sekarang An !" jelas Maira membuat Anna mengernyitkan dahinya.


"Ternyata Maira yang datang, ayo masuk !" ajak Bu Lilis.


"Iya Tante, maaf baru bisa jenguk Anna sekarang,"


"Iya nggak apa-apa Maira, Ibu senang kamu ada di sini !"


Mereka masuk rumah, Maira menjegal langkah Bu Lilis tanpa sepengetahuan dari Anna.


"Tante, Maira mau tanya nih. Anna kenapa ya tiba-tiba jadi aneh gitu?"


"Kecelakaan tempo hari membuatnya kehilangan memori dalam hidupnya, memori yang tersisa saat masa remaja,"


"Berarti Anna juga melupakan Danial dong Tan?"


Bu Lilis mengangguk.


Anna menghampiri Danial yang tengah berdiri seorang diri di belakang rumahnya.


"Permisi, dari pada melamun hal-hal nggak mutu lebih baik bantu aku bersih-bersih !" ucap Anna membuat Danial membalikkan badannya.


"Ayolah kalau sama kamu !"


"Berhenti ya kamu menggoda aku, kalau akan laporkan ini ke pihak berwajib dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan !" gertak Anna.


"Boleh saja, asal aku terpenjara di dalam hatimu," canda Danial seketika pipi Anna memerah.


"Ternyata kamu di sini, aku cariin juga. Eh ada Danial juga?" ucap Maira.


"Oh iya An, gimana kalau kita pergi jalan-jalan ke perkebunan teh?"


"Aku setuju !" sahut Danial.


"Kamu tetap di sini, jangan ikuti aku !"


"Baiklah Tuan Putri, jaga dia dengan baik ya Maira !" ucap Danial tersenyum pahit.


Niatnya untuk mendapatkan ketenangan diri dari laki-laki yang membuatnya kesal dari pagi.


Malah jadi terbayang-bayang aroma wangi tubuhnya.


"Kenapa sih dia tiba-tiba muncul lagi di kehidupan aku, padahal aku sudah bersusah payah untuk melupakannya !" teriak Anna pada semesta.

__ADS_1


"Mungkin itu yang dinamakan jodoh, ya nggak sih?" sahut Maira.


"Aku nggak mau jadi bodoh untuk yang kedua kalinya Ra. Sudah cukup aku merasakan sakitnya berharap !"


"Tunggu, ibu kamu bilang tadi katanya kamu hilang ingatan tapi sekarang aku lihat sepertinya baik-baik saja ya?"


"Aku memang memendam perasaan ini sendirian, tanpa mau menceritakan ke orang-orang. Cuma Tuhan, dan buku diary ku yang tahu isi hatiku !"


"Sudah dong main rahasianya, aku juga ingin tahu isi hati sahabatku !" pinta Maira.


"Danial Syahreza, adalah laki-laki yang membuatku jatuh hati saat itu. Tapi aku sadar, angan ku hanya semu,"


"Aku benar-benar bodoh, bisa berpikir Danial mau menerimaku," imbuh Anna terus menggelengkan kepalanya.


"Maaf ya An, aku nggak tahu kalau kamu benar-benar mencintainya. Tapi kamu waktu itu berhasil nggak mengungkapkan perasaanmu?"


"Boro-boro aku bisa mengatakannya Ra, dia di dekatku saja rasanya nggak sanggup !"


"Serius, semua orang juga gitu sih An kalau sedang jatuh cinta,"


Bersih-bersih rumah memang bukan hobi Danial.


Demi cinta, semua jadi dicintainya.


Ketika masuk ke kamar Anna, dia teringat saat menjadi pengantin baru yang membenci malam pertamanya.


Selesai merapikan semua, di meja belajar menemukan sebuah buku diary.


Sebelum mengetahui isi dari diary tersebut, Danial menutup rapat pintu kamar Anna.


Duduk di atas dipan, membukanya pelan-pelan.


"Dari dulu memang sudah pandai membual ya dia !" ucap Danial tersenyum simpul.


"Siapa orang yang sudah memenuhi isi kepalanya?" tanya Danial beranjak dari tempat tidur, ketika mendengar suara Anna dan Maira di luar.


"Kalian sudah pulang, bawa apa?"


"Bawa cintamu untukku bukan?" imbuh Danial mencondongkan tubuhnya ke Anna.


"Jauh-jauh dari aku, ingat ya kita bukan muhrim !" jelas Anna.


"Baiklah, tapi aku mau tahu satu hal. Apa di dalam pikiranmu itu masih ada orang yang begitu spesial dari dulu?" tanya Danial menatap wajah Anna dengan teduh.


"Penting buat kamu, sudah ah aku malas ribut !"


"Oke aku akan cari tahu sendiri, orang yang sudah memperlambat sistem otak mu !"


"Hei, maksud kamu apa sih?"


"An, aku mandi dulu ya !" sahut Maira.


"Iya, nggak pakai lama !"


Sebuah pesan masuk dari handphone Danial.


Hitungan detik langsung berdering.


"Iya Vin, ada apa kamu menelepon ku?"


"Aku mohon sama kamu, untuk kembali menjadi CEO seperti dulu !"

__ADS_1


"Kenapa nggak kamu saja yang menjadi CEO?"


"Sudahlah Vin, jangan hubungi aku lagi !" tegas Danial menutup teleponnya.


Sepanjang waktu ucapan Danial telah meracuninya.


Mau makan terasa kenyang, mau tidur pikiran masih ingin melayang.


"Maunya dia apa sih, tiba-tiba jadi sok tahu?"


"Bahkan Maira saja nggak tahu soal itu !"


"An mandi dulu sana, overthinkingnya nanti saja !" suruh Maira.


"Iya bawel !"


Baru saja dia meletakkan handphonenya, kembali berdering. Panggilan telepon kali ini dari Mamanya.


"Iya Ma, Danial masih ada di Bandung,"


"Besok kamu pulang ya, ada banyak hal yang Mama mau bicarakan sama kamu !"


"Kenapa nggak lewat telepon saja Ma, Danial nggak bisa meninggalkan Anna di sini sendiri,"


"Sendirian bagaimana, Ibu dan Bapak ya ada kan?"


Pokoknya Mama nggak mau tahu, kamu besok harus pulang, titik ! tegas Bu Sarah menutup teleponnya.


Suara pembicaraan Danial dan Mamanya terdengar sampai luar. Hal itu membuat Pak Hamdan memintanya keluar dari kamar.


"Iya Pak, apa ada hak yang mau Bapak katakan sama Danial?"


"Maaf tadi Bapak nggak sengaja mendengar percakapan kamu dengan Mama kamu, lebih baik kamu kembali ke Jakarta sebelum semuanya jadi semakin rumit !"


"Soal Anna kamu nggak perlu khawatir, Bapak dan Ibu akan berusaha menjaga dan merawatnya," imbuh Pak Hamdan meletakkan tangannya di bahu Danial.


"Iya Pak, tapi saya janji untuk kembali lagi ke sini !"


"Bapak nggak melarang kamu selagi itu baik !"


Seakan tidak menginginkan malam berlalu cepat.


Dia pergi tanpa membawa cintanya.


"Saya pamit pulang Pak, Bu,"


"Iya, hati-hatilah di jalan !"


Hatinya jadi kalut, melihat Danial kembali jauh dari tatapan matanya.


"Cie yang galau karena ditinggal pergi," ucap Danial menghampiri Anna.


"Galau, yang ada aku bahagia karena nggak ada lagi biang rusuh di rumah ini !"


"Yakin nggak bakal rindu, nggak terbayang-bayang senyum manis ku?" goda Danial lagi.


"Sudah pergi sana, berisik tahu nggak !"


"Nggak apa-apa deh, biar aku saja yang merindukan kamu," lirih Danial kembali mencondongkan tubuhnya ke Anna.


"Tumben nggak marah, jangan-jangan orang yang ada di pikiranmu itu aku ya?" imbuh Danial, seketika mulut Anna menganga lebar.

__ADS_1


__ADS_2