My Roommate'Class

My Roommate'Class
Terima Kasih Mas !


__ADS_3

Aroma terbakar tercium sampai luar, Danial pun buru-buru masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamualaikum Danial, habis dari mana aja kok baru pulang?" tanya Maira di depan pintu rumah Danial.


"Awas, minggir Maira !" ucap Danial berlarian ke dapur.


"Alhamdulillah akhirnya jadi juga ayam bakar madunya," ucap Anna mencium makanan yang ia buat.


"Anna nggak apa-apa, ada yang luka kah?" tanya Danial begitu cemas melihat Anna.


"Anna baik-baik aja kok, Mas kenapa panik seperti ini?"


"Huh, Mas kira dapur rumah kita terbakar makanya buru-buru lihat keadaan Anna," ucap Danial sambil mengatur kembali napasnya.


"Ayamnya yang terbakar Mas, Anna sedang memasak ayam bakar madu spesial untuk Mas malam ini,"


"Hmmm tampaknya nikmat sekali ya," ucap Danial menghirup aroma masakan Anna.


"Iya dong, buatan siapa dulu?"


"Masih dibuat dengan cinta?"


"Yuk kita makan sama-sama," ajak Anna untuk makan bersama-sama.


Maira terus menatap Danial dengan curiga.


"Sejak kapan kamu ada di sini Maira?" tanya Danial.


"Sejak kamu pergi meninggalkan Anna seorang diri di rumah,"


"Tadi aku pergi karena ada urusan dengan klien,"


"Tuh orang nggak punya pikiran apa ya, udah tahu ini di luar jam kerja masih saja ganggu ketenangan rumah tangga orang !" ucap Maira penuh kesal.


"Maksud kamu apa, siapa yang mencoba mengganggu rumah tanggaku?" tanya Danial.


"Sudahlah, aku sudah tahu kok apa yang terjadi diantara kalian ini,"


"Yang pasti ini tuh bukan salah Anna ya, aku yang memaksanya untuk menceritakan semuanya,"


"Tega ya kamu, yang lebih mementingkan perasaan perempuan itu dari pada istrimu sendiri !"


"Tahu gini mending aku nggak izinkan Anna menikah sama kamu,"


"Oke Anna aku sudah kenyang, terima kasih atas jamuan nya ya,"


"Jangan pikirkan hal yang akan membuat kamu jadi stress ya, aku pulang dulu," ucap Maira memeluk Anna.


"Iya Ra, terima kasih ya sudah mau temani aku di rumah,"


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam,"


"Kenapa Anna nggak bilang kalau ada Maira di rumah?"


"Tadi mau kirim pesan ke Mas, tiba-tiba handphone Anna lowbat,"


"Apa cuma Maira yang tahu hubungan Mas dan Hanin?"


"Tulus juga tahu Mas,"


"Ya Tuhan, kenapa sih kamu nggak bisa menyimpan rahasia ini?"


"Mereka sudah mengetahuinya sejak awal Mas,"


"Kalau sampai Mama dan Papa tahu soal ini, Mas nggak akan pernah memaafkan Anna !" tegas Danial lalu pergi ke kamar.


"Aduh, ah kenapa kepalaku sakit lagi?" ucap Anna merengek kesakitan.


Belum sembuh sakit kepala Anna, ia harus pergi ke toko buku.


"Anna, apa benar kemarin Danial meninggalkan kamu sendirian dalam keadaan sakit?" tanya Tulus.


"Kamu tahu ini dari Maira ya, sudah berapa kali aku bilang jangan terlalu khawatirkan aku,"


"Aku nggak ingin Mas Danial jadi salah paham lagi,"


"Danial dan Danial lagi, sekali saja coba kamu lebih perhatian ke diri sendiri,"


"Aku nggak percaya soal kamu bisa ikhlas begitu saja melihat Danial bersama hanin, kamu mencoba baik-baik saja tapi kenyataannya nggak, "


"Selama ini kamu hanya berpura-pura menjadi tegar di depan Danial padahal kamu rapuh,"


"Sudahlah, aku nggak mau membiarkan soal ini,"


"Lebih baik kita fokus dengan projek ini ya,"


"Nggak, karena hari ini aku akan bawa kamu ke rumah sakit,"

__ADS_1


"Jangan lebay deh, aku hari ini sehat Tulus,"


"Tapi wajahmu layu seperti ini, seperti bunga yang lama yang nggak disirami,"


"Hmm gimana kalau hari ini kita pergi jalan-jalan, aku yang akan traktir kamu,"


"Ya sebagai vitamin untuk kamu, supaya bisa segar kembali,"


"Boleh, sudah lama aku nggak pergi jalan-jalan,"


"Okay, mari kita pergi sekarang,"


Setelah sampai di Mall, keduanya berhenti sejenak.


"Anna, aku mau ke toko pojokan sana dulu ya,"


"Aku ditinggal sendirian nih?"


"Manja banget sih, bentar kok nggak lama aku perginya,"


"Iya, aku tunggu di sini,"


Anna berdiri sambil melihat orang wira-wiri, namun ia malah menemukan Danial bersama dengan Hanin di sebuah toko baju.


Membuat tengkuknya kembali berat.


"Anna kamu kenapa?" tanya Tulus.


"Aku mau kita pulang sekarang,"


"Tapi kita baru saja sampai di sini, ada apa sih?"


"Kalau kamu nggak mau, aku bisa pulang sendiri kok," ucap Anna lalu pergi meninggalkan Tulus yang masih berdiri di sana.


"Pantas saja Anna mengajak pulang cepat rupanya mereka ada di sini juga," ucap Tulus yang juga mengetahui keberadaan Danial dan Hanin di sana.


"Anna tunggu, kamu baik-baik aja kan?"


"Apa kepalamu sakit lagi?"


"Kebetulan aku tadi mampir untuk beli obat juga, mungkin ini bisa meredakan sakit kepalamu," ucap Tulus memberikan sebutir obat untuk Anna minum.


"Terima kasih ya Tulus, kamu selalu ada diwaktu yang tepat,"


"Iya Anna, yuk kita pulang,"


Di rumah Danial tampak begitu mengkhawatirkan keadaan Anna.


"Nggak apa-apa Mas, Anna merasa pusing saja,"


"Anna mau makan apa?"


"Nggak mau makan apapun Mas, lebih baik Anna istirahat aja,"


"Tapi Anna belum makan dari tadi,"


Anna memilih untuk membaringkan tubuhnya.


"Anna istirahat kalau gitu, Mas lanjut kerja lagi ya," ucap Danial.


"Iya Mas, selamat malam,"


"Selamat malam juga,"


Paginya, Danial menghampiri istrinya yang duduk di sofa.


"Selamat pagi, gimana Anna sudah baikan?" tanya Danial sambil mengelus rambut Anna dengan lembut.


"Alhamdulillah Mas, jauh lebih baik,"


"Sejak kapan Mas jadi perhatian sama Anna?"


"Sejak rasa sayang ini ada di hati mas," ucap Danial menunjuk pada hatinya.


Anna tersenyum sangat manis, terhanyut dengan ucapan Danial.


"Hei Anna, pasti sedang mengkhayal yang bukan-bukan ya?" ucap Danial membuyarkan lamunan Anna.


"Anna sudah biasa mendengar mulut manis dari laki-laki, termasuk reza, angga, siapa lagi tuh namanya oh iya kevin !"


"Yang Anna sebutkan itu artis muda kan?"


"Bukan, mereka adalah orang yang dulu mencoba mendekati anna saat masih di kampung,"


"Banyak juga ya yang suka sama Anna,"


"Tentu banyak, tapi Anna tetap memilih Mas sebagai pendamping hidup,"


"Walau Anna tahu Mas mencintai orang lain?"

__ADS_1


"Biar waktu yang menjawab semuanya Mas," ucap Anna lalu pergi ke kamar meninggalkan Danial.


Danial keluar dari ruang kerjanya, dan Arvin pun datang menghampirinya.


"Hai Dan, hari ini kamu ada meeting nggak?" tanya Arvin.


"Nggak ada, kenapa memang?"


"Aku ingin mengajak kamu untuk pergi ke proyek pembangunan yang ada di Bandung,"


"Harus hari ini ya, kenapa mendadak sekali?"


"Sebenarnya semalam aku ingin menelepon mu, tapi aku takut menganggu waktumu dengan Anna,"


"Aku coba bilang sama Anna ya, siapa tahu dia mau ikut juga,"


"Oh tentu boleh,"


"Kenapa telepon ku nggak dijawab ya, apa handphonenya lowbat lagi?" ucap Danial saat mencoba menghubungi Anna.


"Ada apa Dan?" tanya Arvin.


"Entah, aku coba telepon dia tapi nggak ada jawaban sama sekali,"


"Lalu kenapa kamu cemas seperti itu?"


"Akhir-akhir ini Anna jadi sering sakit, aku takut sakitnya kambuh lagi,"


"Lebih baik kamu cepat pulang, aku juga takut terjadi sesuatu dengannya,"


"Iya, maaf ya aku nggak bisa menemanimu ke Bandung,"


"It's okay lah Dan, biar aku ajak yang lainnya ya,"


Saat turun dari mobilnya, ia merasa bingung dengan keadaaan halaman rumahnya yang banyak buket bunga warna-warni.


"Siapa yang memesan bunga sebanyak ini?" tanya Danial saat melewati puluhan buket bunga di halaman rumahnya.


"Mas kok udah pulang?" tanya Anna terkejut melihat Danial pulang.


"Mas khawatir Anna kenapa-napa, karena akhir-akhir ini Anna sering merasa sakit,"


"Mas lihat kan sekarang Anna baik-baik saja,"


"Karena mas sudah pulang, Anna sudah siapkan surprise nya,"


"Surprise apa?"


"Mas nggak sadar kalau banyak buket bunga di rumah kita?"


"Itu yang mau Mas tanyakan, kenapa ada banyak bunga di sini?"


"Anna yang memesannya?"


"Iya, untuk memperingati 3 bulan sudah kita menikah Mas !"


"Tapi kenapa harus sebanyak ini?"


"Supaya rumah tangga kita banyak warna-warni seperti bunga-bunga ini,"


"Anna minta maaf ya kalau selama kita menikah selalu membuat Mas kesal, marah," ucap Anna sambil meraih kedua tangan Danial.


"Nggak, Mas yang banyak salah sama Anna, Anna nggak salah apa-apa. Batinnya. Kalau Anna baik-baik saja Mas pergi ke kantor lagi ya,"


"No, karena Mas ada di sini mari kita merayakannya !"


"Ajak Anna jalan-jalan ya !"


"Iya Mas akan turuti, tapi janji Anna nggak buat kesal lagi !" tegas Danial.


Mata seketika jadi sejuk melihat pemandangan alam indah di depan mereka.


"Kenapa anna mengajak Mas ke Danau?"


"Ke Pantai juga nggak akan mampukan, ke Danau pun juga jadi,"


"Anna ingin pergi ke Pantai?"


"Nggak Mas, Anna ngga mau menyusahkan Mas lagi,"


"Anna mau tanya sama Mas, apa Mas begitu mencintai Hanin?"


Danial terdiam sambil menatap wajah Anna yang menunggu jawaban darinya.


"Sangat, Mas sangat mencintainya,"


"Andai saja bukan Anna yang menikah dengan Mas, pasti Mas sudah bahagia hidup bersama Hanin ya,"


"Mau bagaimana lagi, sudah jadi takdir Mas seperti ini,"

__ADS_1


"Anna juga nggak menyangka loh, bisa menjadi istri Mas,"


__ADS_2