My Roommate'Class

My Roommate'Class
Selalu Dia Yang Utama


__ADS_3

(Di rumah Danial)


"Anna habis dari mana tadi?" tanya Danial saat duduk bersama Anna di sofa.


"Anna mendiskusikan tentang projek bersama Tulus,"


"Sampai harus ke studio musik?" tanya Danial menatap wajah Anna dengan penuh amarah.


"Iya kan dulu Anna pernah bilang sama Mas kalau ada projek buat lagu juga,"


"Tapi Mas kok bisa tahu kalau Anna pergi ke studio musik?"


"Anna nggak perlu tahu dari mana mas tahu semua, yang mas ingin anna jangan lagi bertemu dengan tulus !" tegas Danial.


"Nggak bisa dong Mas, projek ini baru saja berjalan dan hampir finishing,"


"Sayang kan kalau nggak jadi?"


"Jadi Anna sekarang membangkang Mas?"


"Tunggu, Mas bicara seperti ini seakan-akan hanya Anna saja yang salah di sini,"


"Kalau Mas ingin Anna nggak lagi bertemu dengan Tulus, Mas juga harus tinggalkan Hanin !" ucap Anna lalu pergi meninggalkan Danial di sana.


Danial mencoba menjelaskan pada Anna, untuk menjauh dari Tulus. Bukan karena cemburu, namun ia tahu bagaimana sikap sahabatnya itu.


"Anna, mas cuma nggak ingin orang-orang di luar sana mengatakan hal yang bukan-bukan tentang istri Mas,"


"Lalu bagaimana kalau sampai Ibu dan Bapak tahu tentang Mas dan Hanin?"


Danial terdiam sesaat.


"Percaya deh sama Anna, Anna akan selalu bisa jaga diri sebagai istri dari Mas," tegas Anna.


Anna pun membaringkan tubuhnya untuk tidur. Danial masih termenung.


Ada saja hal yang membuat hari-hari Danial menjadi buruk.


"Masalah apa lagi ini yang membuat mu jadi murung hari ini?" tanya Arvin.


"Aku kesal dengan Tulus, dari dulu sampai sekarang dia selalu merusak hidupku !"


"Merusak bagaimana maksudmu?"


"Dulu dia mencoba mau merebut Hanin dariku, sekarang dia juga ingin merebut anna !"


"Kenapa kamu berpikir seperti itu, Tulus dan Anna sekadar berteman saja bukan?"


"Apa yang harus dikhawatirkan Dan?"


"Mana ada seorang laki-laki dan perempuan menjadi teman Vin?"


"Ayolah, jangan cemburu berlebihan seperti ini,"


"Cemburu, apa benar aku ini cemburu dengan Tulus. Batinnya. Aku bukan cemburu cuma kesal saja melihat sikapnya yang sok manis itu depan Anna," ucap Danial menyembunyikan salah tingkahnya.


Bukan cuma Danial yang kesal, tapi Anna juga. Ia pergi ke toko buku untuk membicarakan hal ini dengan Tulus.


"Apa, serius Danial bicara seperti itu?" tanya Tulus terkejut mendengar cerita dari Anna.


"Entahlah, kenapa dia jadi berlebihan,"


"Kalau gitu kita harus tetap lanjutkan projek ini, apapun rintangannya harus bisa dihadapi !"


"Soal Danial biar aku yang bicara dengannya nanti, supaya dia nggak lagi tuh marah-marah sama kamu,"


"Terima kasih ya Tulus,"


Sebuah mobil parkir di depan rumahnya. Danial berdiri seorang diri, menanti Anna hingga petang di teras rumah.

__ADS_1


"Hai Danial, jangan emosi dulu ya," ucap Tulus.


"Selain aku mengantarkan Anna pulang, aku juga ingin sampaikan kalau kita ini hanya partner kerja saja nggak lebih,"


"Jadi aku mohon sama kamu untuk jangan lagi memarahi Anna, karena dia nggak salah apa-apa," tegas Tulus.


"Oke, sekarang silakan pergi dari sini,"


"Mas, biarkan Tulus masuk rumah dulu," ucap Anna.


"Nggak perlu Anna terima kasih ya, soalnya aku juga ada urusan yang harus disegerakan,"


"Jaga diri kamu baik-baik ya,"


"Hei jangan bicara lagi, aku bisa jaga dirinya ya !" ucap Danial sambil menunjuk pada Tulus.


"Aku pergi ya Anna, assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam,"


Danial pergi meninggalkan Anna di luar rumah sendirian.


"Mas, kamu ini kenapa sih?"


"Kamu kan sudah setuju dengan perjanjian kita kemarin, kenapa hari ini berubah lagi?"


"Mas nggak suka Anna jalan dengan Tulus !"


"Apa salahnya sih Mas, ini kan hanya soal projek saja,"


"Baiklah, Mas nggak akan mempermasalahkan soal ini lagi,"


"Satu hal, Anna jangan pernah ganggu hubungan Mas dengan Hanin, ingat itu !" tegas Danial lalu pergi ke kamarnya.


Telinga Anna berdengung lagi, kepalanya terasa berat. Meringkuk kesakitan.


Setelah bersitegang dengan Danial, Anna menghampiri suaminya.


"Iya nggak apa-apa, kalau gitu kita pergi ke rumah sakit ya,"


"Nggak perlu Mas, ini hanya pusing biasa saja nanti juga hilang kok,"


"Anna ke kamar dulu ya Mas,"


Anna sedang berbaring di atas dipan, Danial mendekatinya, dan menempelkan punggung tangannya ke leher istirnya itu dan suhu tubuhnya sangat panas.


"Ya Allah, badan Anna panas sekali," ucap Danial begitu cemas.


"Anna, kita ke rumah sakit ya,"


"Nggak Mas, cukup ada Mas di samping Anna sudah membuat Anna jadi lebih baik," ucap Anna sambil menggenggam tangan Danial.


"Iya, Mas akan jaga dan tetap di sini bersama Anna," ucap Danial sambil mengelus rambut Anna dengan lembut.


Danial mengangkat telepon nya yang berdering di dekatnya.


Telepon itu dari Hanin. Ia ragu untuk mengangkatnya, karena pasti akan membuat Anna terganggu.


"Angkat saja Mas, pasti telepon dari Hanin ya?" ucap Anna yang terbangun dari tidurnya.


"Iya halo, ada apa?" tanya Danial di telepon pada Hanin.


"Sayang, aku hari ini mau check up ke rumah sakit kamu bisa kan temani aku?"


Danial menatap wajah Anna.


"Jangan buat alasan lagi untuk menolaknya, aku sudah ada di depan rumah kamu nih,"


"Tapi Anna sedang sakit hari ini jadi aku harus menjaganya,"

__ADS_1


"Kalau gitu ajak juga dia ke rumah sakit, adil kan?"


"Masalahnya Anna nggak mau pergi ke rumah sakit,"


"Aneh banget sih istrimu itu, kalau sakit ya harus dibawa ke rumah sakit dong bikin susah orang saja,"


"Jadi gimana ini, kamu pilih dia atau aku?"


"Kenapa Mas?" tanya Anna membuat Danial semakin bingung.


"Anna nggak apa-apa kan mas tinggal sebentar?"


"Nggak apa-apa kok, Mas pergi saja,"


"Mas janji nggak lama perginya, Anna jaga diri baik-baik ya di rumah,"


"Atau perlu Mas telepon Mama untuk jaga Anna di sini?"


"Nggak perlu Mas, Anna bisa jaga diri baik-baik,"


"Mas pergi ya, assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam,"


Anna melihat Danial dan Hanin dari bilik jendela kamar. Membuat dirinya tetap kuat dalam kondisi sakit.


Ting...tong....(bunyi bel rumah Danial)


Anna membuka pintu rumahnya, ternyata Maira yang datang.


"Anna kamu kenapa, kok wajah kamu pucat banget sih?"


"Nggak apa-apa kok Ra, cuma kelelahan saja ini,"


"Kamu sendirian ke sini?"


"Iya kenapa, kamu pikir aku ke sini dengan Tulus ya?"


"Ayo masuk,"


"Kok sepi nih rumah, Danial di mana?"


"Baru saja dia pergi,"


"Bukankah hari ini libur ya?"


"Dia pergi bersama Hanin,"


"Astaghfirullah, benar-benar nggak ada akhlak ya tuh orang !"


"Nggak punya hati tahu nggak !"


"Oh iya ada keperluan apa kamu ke rumah?"


"Nggak ada sih, aku cuma kangen sama kamu,"


"By the way aku lapar nih, ada makanan apa di sini?"


"Kebetulan aku lagi nggak masak hari ini,"


"Oke no problem, aku akan masak makanan yang spesial buat kamu,"


"Paling juga mie sama telor mata sapi kan?"


"Nggak dong, sesuatu yang beda pastinya,"


"Kamu duduk manis saja di sini, oke?" ucap Maira lalu pergi ke dapur untuk memasak.


"Kira-kira Mas Danial masih lama nggak ya perginya. Batinnya. Aku bantu ya Ra," teriak Anna dari ruang tamu.

__ADS_1


"Aku bisa melakukannya sendiri An, kamu diam saja di situ,"


__ADS_2