My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 95


__ADS_3

Darah segar keluar dari jari-jari Aneeq, tetapi pria itu sungguh tidak peduli, kepergian Jennie yang secara mendadak membuat luka di tubuhnya tidak lagi terasa.


Sedangkan pecahan kaca itu berhamburan di lantai, sama seperti hatinya yang hancur berkeping-keping.


Bibir pria tampan itu senantiasa bergetar, ia menampar pipinya sendiri, meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah sebuah mimpi. "Jennie tidak mungkin meninggalkanku, ini semua pasti hanya mimpi! Ini pasti mimpi!" Teriak Aneeq sambil menjambak rambutnya frustasi.


Bahkan dinding kokoh itu pun ia tendang dan ia pukul, seolah benda tak bernyawa itu ikut terlibat dalam kepergian wanita yang dicintainya.


Melihat itu, Elly berjalan mundur, merasa takut kalau ia akan terkena sasaran amukan sang tuan. Lutut wanita itu gemetar, pria di depannya ini benar-benar menyeramkan.


Aneeq tergugu, sedangkan otaknya terus berpikir apa yang sebenarnya Zoya katakan pada Jennie hingga membuat wanita itu pergi. Aneeq menatap sekeliling, lalu kembali merogoh saku celananya.


Pria itu mengambil ponsel dan hendak menghubungi sekolah Ziel. Memastikan bahwa Jennie memang menjemput bocah tampan itu.


"Halo, di mana putraku?" cetus Aneeq to the point, ia terkesan ketus dan tidak sabaran.


"Halo, Tuan. Siapa yang anda maksud?"


"Ziel, Dalziel Nathanael apakah dia ada di sana?"


"Oh, Ziel sudah pulang, Tuan. Dia dijemput oleh istri anda. Bahkan sebelum bel, Ziel sudah keluar dulu, karena katanya ada urusan penting."

__ADS_1


"Astaga, Jen!" Tubuh Aneeq terasa lemas, hingga membuat ponsel yang semula dia genggam jatuh begitu saja.


Aneeq memejamkan matanya, ia menunduk dalam sementara otaknya terus berpikir keras, bagaimana cara menemukan Jennie. Pria tampan itu mencoba untuk tenang, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Tenang, An. Kamu pasti menemukan Jennie. Dia tidak akan bisa lari darimu. Sampai ke ujung dunia pun. Ingat itu!" gumamnya penuh percaya diri, semua itu Aneeq lakukan semata-mata karena ia tak mau merasa stres, dan membuat emosinya semakin tidak stabil.


Dada Aneeq naik turun, ia kembali mengambil ponselnya yang hampir saja ia hancurkan. Saat ini yang perlu ia lakukan adalah mencari Jennie, dan menemui Zoya. Ya, dia harus meminta penjelasan pada ibunya.


"Halo, Ca, cepat kerahkan semua orang untuk mencari Jennie. Bila perlu cek penerbangan hari ini. Jangan sampai kalian kehilangan jejak, kupecat mereka semua kalau sampai tidak menemukan wanitaku!" titah Aneeq dengan penuh penegasan, ia tidak bisa mentolerir lagi, ia tidak mau kesalahpahaman ini berbuntut panjang. Dan pada akhirnya Jennie memilih untuk pergi meninggalkan ia selama-lamanya.


Aneeq mengangkat kepalanya dan menatap rak sepatu yang tak sengaja ia lihat. Pria itu tersenyum getir, mengingat kenangan indahnya bersama wanita berdada besar itu. "Aku akan menjemputmu pulang, Jen."


"Hubungi aku kalau ada kabar dari Jennie," ucap Aneeq tiba-tiba hingga membuat Elly berjengit karena merasa terkejut.


Elly menoleh lalu mengangguk kecil. "Baik, Tuan."


Setelah itu Aneeq baru pergi meninggalkan apartemen. Suara gesekan antara sepatu pantofel dan lantai terdengar sangat nyaring. Pria itu sedikit berlari untuk sampai di mobilnya, hingga tanpa membuang waktu Aneeq sudah melandaskan kendaraan roda empat itu ke jalan raya.


Sebelum pulang ke rumah untuk menemui Zoya, Aneeq berencana pergi ke rumah orang tua Jennie. Siapa tahu wanita itu pergi ke sana. Kali ini Aneeq mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, emosinya sedikit menurun, tidak meluap-luap seperti beberapa waktu lalu.


Dan di sinilah ia sekarang, Aneeq berdiri persis di samping mobilnya sambil memperhatikan rumah yang pernah ia kunjungi, tetapi karena pada saat itu Jennie melarangnya masuk, otomatis kedua orang tua Jennie pun belum mengenal dirinya.

__ADS_1


Aneeq melangkah tanpa ragu, ia mengetuk pintu beberapa kali hingga seorang wanita paruh baya membuka benda persegi panjang itu.


"Cari siapa, Tuan?" tanyanya sopan.


Aneeq menatap wanita yang cukup mirip dengan Jennie. Ia yakin wanita ini adalah calon mertuanya. Aneeq tersenyum lalu menyalimi tangan Marino.


"Maaf, Nyonya, sebelumnya perkenalkan saya Aneeq—teman Jennie, saya ke mari karena ada undangan yang harus saya berikan padanya, apa dia di rumah?" tanya Aneeq, berpura-pura menjadi teman Jennie.


Marino menelisik penampilan Aneeq dari atas sampai bawah, semuanya tidak terlihat biasa. Wanita paruh baya itu juga sempat melihat mobil Aneeq, mobil mewah yang tidak asing dalam indera penglihatannya.


Marino tersenyum tipis. "Maaf, Nak. Tapi Jennie sudah tidak tinggal di sini. Dia bekerja dan mengontrak rumah didekat perusahaan tempatnya bekerja."


Aneeq mengurut pangkal hidungnya, lalu kembali menatap Marino, ia mencoba mengetes kejujuran wanita paruh baya itu dari sorot matanya. Dan ternyata calon ibu mertuanya itu tidak menyembunyikan apa-apa.


"Baiklah kalau begitu, Nyonya. Nanti saya coba hubungi dia."


Marino mengangguk seraya mengulum senyum, Aneeq pun pamit undur diri, ia melangkah dengan gontai dan sesekali menoleh ke belakang, melihat Marino yang tersenyum, ia jadi merindukan Jennie. Senyum keduanya benar-benar mirip.


"Di mana kamu, Sayang?"


__ADS_1


__ADS_2