My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Cacing Alaska #6


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu.


Semua masalah De telah selesai, dengan bantuan Aneeq. Bahkan kini pria itu sudah menikah dengan gadis pujaannya. Itu artinya, Ken dan Zoya kembali mendapat satu menantu wanita.


Pagi itu.


El sedang mengeluarkan beberapa lingerie dari dalam lemari pakaian, baju tipis kesukaan Caka yang belum sempat dia pakai. Rencananya sebagian akan dia berikan pada istri sang kakak, sebab mereka baru saja menikah.


Caka keluar dari dalam kamar mandi seraya menggosok kepala dengan handuk kecil. Sementara tubuhnya yang sudah sedikit kering dibiarkan begitu saja. Membuat si gondal-gandul bergerak seiring laju kakinya.


"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Caka, melihat El tengah sibuk sendiri, sementara pakaiannya sudah disiapkan di ranjang.


"Aku sedang membereskan pakaian."


"Kok dibungkus?"


"Iya, rencananya sebelum bekerja aku ingin mengantar beberapa pakaian ini untuk kakak ipar, Sayang, pasti Kak De akan suka jika dia memakainya, seperti kamu," balas El seraya memasukan baju-baju dinas itu ke dalam satu paper bag besar. Dia tersenyum kecil, sementara Caka langsung memeluk tubuhnya dari belakang.


"Tapi aku tidak!"


El langsung menghentikan gerakan tangannya.

__ADS_1


"Maksudnya tidak?"


"Iya, aku tidak menyukai kamu memakai baju-baju itu. Karena aku lebih suka kamu tidak pakai baju," bisik Caka, lalu menggigit gemas daun telinga El hingga membuat wanita itu menggeliat sambil terkekeh.


"Kakak," rengeknya manja. Membuat Caka semakin semangat untuk menggodanya. Pria itu sedikit meremass dada lalu mengecup punggung El.


"Layani aku dulu, baru lanjutkan yang itu," ucap Caka dengan suara yang membuat El tak bisa menahan senyumnya. Wanita bak barbie hidup itu berbalik, menatap wajah tampan Caka.


"Baiklah, ke mari aku pakaikan bajumu dulu." El melirik ke bawah, tiba-tiba satu jarinya memainkan benda keramat milik Caka hingga membuatnya bergoyang ke sana ke mari. "Cacingmu sudah kedinginan."


El terkekeh, lalu mengambil satu persatu pakaian suaminya. Dari mulai dalamann sampai dasi, dia semua yang memakaikannya. El mengusap dada bidang Caka, tanda bahwa semua tugasnya telah selesai.


Sampai di butik. El langsung turun dan berlari ke arah toilet, entah kenapa dia merasa sangat mual. Padahal dia baru saja sarapan.


"Nona, anda kenapa?" tanya Lily, yang merupakan asistennya. Saat itu dia sedang membenahi pakaian, tetapi malah melihat El yang muntah-muntah di depan wastafel.


"Aku juga tidak tahu, Li. Padahal aku sudah sarapan," jawab El seraya membasuh mulutnya. Lily menyerahkan beberapa lembar tisu, dan El langsung meraihnya.


"Terima kasih."


"Mungkin anda masuk angin, Nona."

__ADS_1


"Iya kali yah, kamu ada minyak angin?"


"Ada, Nona." Lily segera mengobrak-abrik isi tasnya. Lalu menyerahkan minyak angin pada El. "Ini, oles-oles saja di perut, supaya mualnya reda."


El mengangguk patuh, dia membuka minyak angin tersebut, bermaksud ingin menghirupnya. Namun, tanpa diduga El malah kembali merasa mual.


"Huwek!"


"Astaga, Nona!" Lily ikut panik, dia segera memijat tengkuk El, sementara wanita itu terus berusaha mengeluarkan isi perutnya.


"Li, kok baunya mendadak tidak enak yah? Aku tidak suka!" ujar El apa adanya.


Lily mengeryit, dari tanda-tanda yang ditunjukkan oleh sang nona sepertinya El tidak masuk angin, tapi, "Nona, sepertinya anda perlu mencoba tespek."


El sontak mendelik.


"Maksudmu?"


"Ya, kalau saya tebak sih ada kemungkinan Nona hamil."


Deg! Hamil? Jantung El langsung memompa dengan cepat mendengar satu kata ajaib itu. Satu tangan El merabaa perut, benarkah dia hamil?

__ADS_1


__ADS_2