My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 136


__ADS_3

Jennie hampir saja limbung, untung saja Aneeq dengan sigap memegang tubuh istrinya. Bahu Jennie merosot dengan gelengan kepala. Sementara mulutnya terus berkata tidak. Ziel adalah anaknya, tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan mereka.


"Ziel anakku, An!" teriak Jennie histeris, dia hampir saja jatuh ke lantai, tetapi Aneeq terus memegang bahu Jennie, pria itu memeluk istrinya dan membenamkan wajah Jennie di dada.


Sementara Selena hanya bisa menangis, dia bangkit saat Malvin memapahnya. Wanita itu terus menunduk dalam, merasa begitu bersalah, sebab sebagai ibu dia tidak berdaya. Namun, sungguh ini bukan kuasanya.


Dia dan Malvin kehilangan Ziel lima tahun lalu, dengan alasan penculikan. Namun, alangkah terkejutnya, saat dia mendengar bahwa anak mereka masih hidup dan dititipkan di panti asuhan.


Rasa stres akan kehilangan Ziel, membuat rahim Selena menjadi lemah, hingga sampai sekarang dia belum bisa hamil lagi. Saat itu, hubungannya dan Malvin sangat bahagia, apalagi saat mereka mendapat anugerah berupa kelahiran putra pertama mereka.


Namun, kedengkian sang kakak tiri—orang yang juga mencintai suaminya. Membayar orang untuk menculik Ziel. Dan mereka malah mendapat kabar, bahwa ditemukan seorang bayi tanpa organ. Selena dan Malvin meyakini bahwa itu adalah Ziel.


Hingga beberapa tahun kemudian, sang kakak tiri tiba-tiba datang dan langsung bersujud di kakinya meminta pengampunan. Dia membuat pengakuan bahwa anak yang dilahirkan Selena masih hidup dan dia titipkan di salah satu panti asuhan di ibu kota.


Sontak saja hal itu membuat Selena tak langsung percaya. Namun, wanita itu membuktikan beberapa foto bayi dengan seorang ibu panti, tempat di mana Ziel dititipkan.


"Kita bisa bicarakan ini semua, Jen," ucap Aneeq sambil mengelus puncak kepala Jennie, menenangkan wanita itu. Jennie menengadah, dia yang terlalu shock menggeleng dengan lelehan air mata yang menderas. Tidak terima kalau Aneeq membela kedua orang yang mengaku-ngaku sebagai orang tua Ziel.

__ADS_1


Selamanya Ziel adalah anaknya!


"Apa yang mesti dibicarakan, An? Aku yang mengurusnya sejak kecil, aku yang membesarkannya, aku yang menyayanginya, mencintainya dengan segenap nyawaku. Dia anakku, An! Tidak ada seorang pun yang akan mengambil dia dariku!" teriak Jennie di hadapan wajah Aneeq, dia mengeluarkan semua rasa takutnya. Takut akan kehilangan bocah tampan itu.


"Tapi aku yang melahirkannya, Nyonya," ucap Selena buka suara. Bibir wanita itu bergetar, dia belum tahu bagaimana wajah putranya, tetapi sungguh kerinduan itu sudah menyapa.


Mendengar itu, Jennie memicing tajam, merasa tak suka dengan ucapan Selena yang begitu menohok. Jennie yang tak tahu bagaimana ceritanya Ziel bisa berada di panti asuhan, mengecap Selena bukanlah wanita yang baik, hingga membuang darah dagingnya sendiri, dan setelah pria kecil itu beranjak besar, dia malah mengakuinya dengan sesuka hati.


"Dan kamu harus tahu, Ziel adalah manusia! Dia bukan boneka yang bisa kamu buang dan kamu ambil seenaknya. Aku tidak akan membiarkan kalian mengambilnya. Sampai kapanpun Ziel adalah anakku!" timpal Jennie dengan sekuat tenaga. Dia mendorong dada Aneeq hingga pelukan pria itu terlepas, Aneeq mengejar Jennie yang masuk ke dalam, sepertinya wanita itu akan mengamankan Ziel.


Sementara di luar Selena semakin sesenggukan dalam pelukan suaminya. Tak dipungkiri memang dia merasa bersalah. Dia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi Jennie, kehilangan anak adalah sesuatu yang begitu menyakitkan. Namun, karena itu pula dia sadar, bahwa sang anak jatuh pada orang yang tepat.


Semua orang yang ada di meja makan sudah ingin menyusul sebenarnya karena mendengar pekikan Jennie yang tak berkesudahan. Mereka sontak menghentikan langkah, saat itu Ziel sedang digandeng oleh Zoya. Namun, karena rasa amarah di dadanya Jennie langsung merebut Ziel dan memeluk bocah tampan itu.


"Jen," panggil Aneeq. Namun, Jennie malah semakin sesenggukan dan memeluk Ziel dengan erat.


"Sayang, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Semuanya belum jelas," ucap Aneeq lagi, masih membujuk istrinya. Semua orang saling pandang, tak mengerti dengan situasi yang tengah terjadi.

__ADS_1


"Ziel anakku, An! Tidak ada yang boleh mengambilnya dariku!" jawab Jennie dengan dada yang bergemuruh.


"An, sebenarnya ada apa?" tanya Ken, dia menatap Aneeq yang terlihat kebingungan. Pria itu bergeming, belum bisa menjelaskan sebab kondisi Jennie yang masih terlihat histeris.


"Mommy, kenapa Mommy menangis?" tanya Ziel, membuat Jennie mengangkat kepalanya. Dia menatap wajah sang putra dan meninggalkan banyak kecupan di sana.


"Berjanjilah, Sayang. Ziel akan tetap bersama dengan Mommy apapun yang terjadi."


"Jen!" Aneeq sedikit meninggikan pita suaranya. Zoya langsung menatap Aneeq, dia memberi isyarat pada putranya agar bersikap lebih tenang, lalu wanita beranak lima itu mengelus bahu Jennie, mencoba untuk mengajak wanita itu bicara baik-baik.


"Jen, ayo kita bicara. Semuanya tidak akan selesai kalau kamu hanya marah-marah," ucap Zoya lembut, meski dia belum tahu apa duduk masalahnya. Namun, Zoya yakin kini Jennie tengah dilanda emosi yang begitu hebat.


Jennie bergeming, tak menjawab ucapan ibu mertuanya.


"Ayolah, Sayang. Kamu sudah dewasa, kamu tidak lihat Ziel begitu mengkhawatirkanmu?" Zoya masih berusaha membujuk Jennie dengan apa yang dia bisa. Berharap wanita itu bisa diajak kerja sama.


Jennie sesenggukan, tangis wanita itu semakin pecah. Sebagai ibu, bagaimana dia takut, saat ada seseorang yang ingin mengambil anaknya. Aneeq mendekat, pelan-pelan Aneeq memeluk tubuh Jennie. Lalu meninggalkan kecupan di puncak kepala wanita cantik itu.

__ADS_1


"Kita lakukan tes DNA, percayalah padaku. Semuanya akan baik-baik saja."


__ADS_2