
Di saat Ken berada dalam pelukan istrinya, tepat pada saat itu, Ron dan Siska datang. Keduanya ikut panik setelah mendapat kabar dari Caka, bahwa El masuk rumah sakit.
Namun, langkah Ron dan Siska terhenti begitu melihat keluarga besannya berada di luar. Ken tampak sedih dalam dekapan istrinya, sementara Aneeq dan satu orang wanita lainnya bergeming.
"Zoy," panggil Siska, hingga membuat wanita hamil itu menoleh ke arah sumber suara.
"Kak Siska, Kak Ron," balas Zoya seraya menatap dua orang yang berdiri dan terus menatap ke arahnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Ron sangat yakin, dengan melihat Ken yang seperti itu, pasti ada sesuatu yang terjadi pada menantunya. Meskipun dia tidak bisa menebak itu apa.
Siska mendekat, menatap dengan nanar, sementara Ken langsung menarik tubuhnya dari dekapan Zoya. Namun, kepalanya senantiasa menunduk, dia sedang berusaha menyembunyikan tangisnya.
"Apa yang terjadi, Zoy? Apa menantuku baik-baik saja?"
Zoya menelan ludahnya yang terasa tercekat, lalu mencoba untuk tersenyum. "El tidak apa-apa, Kak, hanya saja dia hampir keguguran."
Mendengar itu, sontak saja Ron dan Siska langsung membulatkan mata dan saling pandang. Mereka mulai mengerti sekarang, kenapa Ken sampai terlihat menyedihkan seperti itu.
El hampir saja kehilangan anaknya, bahkan sebelum kabar kehamilan itu didengar oleh seluruh anggota keluarga.
"Zoy, tapi apa benar El baik-baik saja? Apa Caka sudah datang?" tanya Siska bertubi, sumpah demi apapun rasa khawatir itu semakin memenuhi dadanya.
Zoya mengangguk kecil.
__ADS_1
"Benar, Kak. Sekarang Caka sedang menemani El, kami semua memberikan mereka waktu untuk bicara berdua."
Siska pun akhirnya menghela nafas lega, berbeda dengan Ron yang merasa sangat bersalah, karena dinilainya Caka tidak dapat menjaga El dengan baik. Ron pun mendekati mantan bosnya itu, berdiri tepat di hadapan Ken dengan raut wajah penuh rasa bersalah.
"Tuan," panggil Ron, tetapi Ken bergeming, dia tetap menundukkan kepala dengan isak yang sesekali terdengar.
"Tuan maafkan Caka," lanjutnya, karena ia tahu Ken tidak akan mungkin menjawab ucapannya.
"Kak Ron, ini bukan salah Caka, tidak ada yang patut disalahkan dalam kejadian ini, semuanya kita anggap saja sebagai pelajaran agar El lebih hati-hati, juga Caka yang lebih tegas pada istrinya," timpal Zoya sambil mengusap-usap punggung kekar Ken.
"Tapi aku merasa—"
"Sudahlah, Ron, jangan membuatku semakin sedih. Sekarang kita adalah keluarga, aku tidak bisa seenaknya menyalahkanmu seperti dulu," sambarkan Ken dengan suara sedikit sumbang. Dia tahu, Ron pasti akan menyalahkan dirinya pula, akibat keteledoran Caka.
Ron langsung mengatupkan bibirnya mendengar Ken bicara.
"Cukup, Ron! Aku bilang cukup, kamu tidak tahu semua itu hanya akan semakin menyakiti hatiku. Jika kamu terus bicara, aku malah merasa kamu menganggapku sebagai orang lain, yang perlu kamu takuti dan kamu hormati."
"Maafkan saya, Tuan, saya minta maaf."
Ken mengangkat kepala, kemudian menggerakkan tangan untuk menepuk pelan lengan Ron.
"Dia juga akan menjadi cucumu."
__ADS_1
Ron tampak menganggukkan kepala. Walaupun El dan Caka sudah menikah, entah kenapa dia selalu menganggap bahwa Ken adalah tuannya.
Melihat itu, Zoya dan Siska pun mengulum senyum. Kemudian ibu hamil itu beranjak. "Ayo kita masuk ke dalam, kita jenguk El sama-sama." Ujarnya sambil menarik tangan Ken.
Akhirnya semua orang pun masuk kembali dalam satu ruangan itu. Mereka semua menghentikan tangis El yang terdengar tersedu-sedu.
Wanita itu tampak terperangah, karena melihat mertuanya datang. Juga Ken yang sudah terlihat tenang.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Siska.
"Bayiku selamat, Mi. Aku sangat bersyukur dia tidak apa-apa."
"Baguslah, Sayang. Lain kali El lebih hati-hati yah," ujar Siska seraya mengusap-usap kepala menantunya. Wanita bak barbie hidup itu pun mengangguk kecil, tetapi sorot matanya tak lepas untuk memandangi sang ayah.
Hingga akhirnya El pun merengek. "Daddy."
Ken berusaha untuk menahan matanya yang sudah berkaca-kaca dengan tersenyum. Lalu segera memeluk tubuh El. "Maafkan Daddy, Sayang. Daddy benar-benar emosi tadi."
"Daddy tidak marah 'kan sama Kak Caca?"
"Tidak!" tegas Ken, kemudian menatap pria yang senantiasa berada di dekat El, Ken melepaskan pelukannya pada tubuh El, kemudian tanpa diduga dia menghambur ke arah Caka.
"Maafkan Daddy ya, Ca, Daddy sudah keterlaluan. Ke depannya, jagalah El dengan baik, kamu tahu apa yang terbaik untuk keluarga kecilmu, maka lakukanlah. Daddy tahu El adalah wanita keras kepala, di tanganmu, Daddy yakin dia bisa luluh," bisik Ken, membuat hati Caka menjadi semakin hangat.
__ADS_1
Dia pun mengangguk.
"Aku akan berusaha untuk itu, Dad."