My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Cacing Alaska #10


__ADS_3

Begitu Ken dan Zoya masuk, mereka langsung disambut oleh tangis pilu El, dia tergugu karena merasa sangat bersalah pada calon anaknya. Andai tadi janin itu tidak dapat diselamatkan, entah bagaimana hidupnya sekarang.


Pasti dia akan diikat oleh rasa sesal yang berkepanjangan. Dihantui rasa bersalah yang terus-menerus memenuhi ruang dadanya, karena tidak dapat menjaga anugerah terindah yang Tuhan berikan kepadanya.


"Sayang," panggil Ken, lantas melepaskan tangan Zoya dan menghambur memeluk putri kesayangannya.


Mendengar itu, El langsung mengangkat kepala, dia terduduk di brankar langsung mengeratkan pelukannya pada pinggang sang ayah. Tangis El kembali pecah, sebab dia benar-benar merasa bersalah.


"Daddy, El hampir saja membuatnya hilang. Padahal El baru menyadari kehadirannya," ucap El sesenggukan, bahunya naik turun seiring tangis yang mendera, juga sesak yang memenuhi dadanya.


"Kita harus bersyukur, Sayang. Anakmu baik-baik saja. Kamu harus tenang, tidak boleh menangis lagi," balas Ken, seraya mengecupi puncak kepala El.


"Aku merasa sangat bersalah, Dad."


Zoya pun mendekat, dia ikut mengusap punggung putrinya dengan sayang, agar wanita itu bisa tenang.


"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, Sayang. Yang terpenting janinmu selamat sekarang. Mommy mau tanya, memangnya kamu tidak tahu kalau ada dia di perutmu?" tanya Zoya dengan suara yang begitu lembut, sementara El masih sesenggukan di dada bidang Ken.


"Iya, beritahu kami, apa sebelumnya kamu tidak tahu kalau kamu hamil?"


Mendengar itu El melayangkan tatapan pada Lily. Kemudian dia kembali menangis, air matanya semakin luruh, karena menangisi kebodohannya, tidak menurut kepada Caka untuk tidak pergi bekerja.


"Kemarin aku baru memeriksanya, Mom, Dad. Aku juga sudah memberitahu soal ini kepada Kak Caca, dan rencananya nanti malam kami akan memberitahu pada kalian semua," jelas El dengan terbata, bibirnya senantiasa bergetar menahan air mata yang entah kenapa tidak bisa berhenti mengalir dan membasahi pipinya.


Ken sedikit meregangkan pelukannya, menatap El dengan kedua alis yang menaut. "Jadi kalian sudah tahu tentang ini, Caka juga membiarkanmu pergi bekerja?!" Suara Ken sedikit meninggi dengan sedikit rasa kesal.


"Kak Caca—"


"Jawab Daddy, apa dia membiarkanmu pergi bekerja di saat kamu hamil seperti ini?!" Kali ini Ken sudah menyentak, dan El tahu ayahnya itu akan marah.

__ADS_1


Zoya mengusap lengan Ken, agar pria paruh baya itu menurunkan intonasi suaranya. Sebab El masih terlihat shock.


"Sabar, Sayang."


"Kak Caca tidak—"


Brak!


Pintu ruangan El terbuka dengan keras, menampilkan dua sosok pria berbadan tegap. Yang tak lain dan tak bukan adalah Caka dan Aneeq. Caka langsung berlari ke arah ranjang yang ditempati istrinya, tetapi dengan gerakan cepat Ken mendorong dada Caka.


Bugh!


"Daddy!" teriak El dan Zoya berbarengan.


Saking kerasnya dorongan tangan besar Ken, punggung Caka langsung menghantam dinding. Kedua kelopak matanya terbuka lebar, tak mengerti mengapa dirinya disambut seperti ini oleh ayah mertuanya.


"Bagaimana bisa kamu membiarkan istrimu bekerja di saat dia hamil? Ke manakah otakmu hah?!" sentak Ken dengan mencengkram kuat kerah kemeja Caka.


"Daddy, stop!" teriak Aneeq.


Ken memicingkan matanya ke arah putra sulungnya. "Jangan hentikan Daddy! Biarkan dia berpikir, kenapa bisa membiarkan istrinya bekerja di saat hamil, bahkan El hampir saja keguguran!"


Deg!


Jantung Caka seperti berhenti berdetak, dia melihat ke arah El yang terus menangis dalam pelukan Zoya, wanita itu ingin berlari menghentikan Ken, tetapi perutnya masih terasa cukup sakit.


"Daddy, jangan salahkan suamiku, aku yang salah," ujar El dengan sesenggukan.


Nafas Ken terengah, sementara wajahnya sudah memerah.

__ADS_1


"Kamu tahu bagaimana aku menjaga Mommy-mu? Kamu dan semua kakakmu? Tetapi kenapa dia bisa membiarkanmu ada dalam bahaya?"


"Kak Caca sudah melarangku, Dad, aku yang keras kepala."


"Jangan salahkan dirimu hanya untuk membelanya. Harusnya dia bisa membujukmu agar tetap di rumah, bukan pasrah begitu saja."


Cengkraman Ken semakin kuat.


"Dad, kita bisa bicara baik-baik, tidak seperti ini," timpal Aneeq, yang tahu bagaimana tempramen ayahnya.


"Tapi dia hampir membuat El kehilangan bayinya!" teriak Ken.


"Dad, cukup!" Akhirnya Zoya pun angkat bicara. "Cukup, kalau kamu mau marah-marah lebih baik kamu keluar!"


Mendengar itu, Ken malah menatap tidak percaya. Kenapa Zoya malah menyuruhnya keluar.


"Baby—"


"Aku bilang keluar! Kalau kamu hanya bisa marah-marah seperti itu. Apa kamu tidak tahu El sedang shock? Hah?"


"Baby aku hanya—"


"KELUAR!"


Ken langsung mendesaah pasrah, perlahan cengkraman di kerah kemeja Caka mengendur, sementara Caka tidak dapat berkata apa-apa. Sungguh dia pun merasa bersalah. Dia mengaku ini semua adalah salahnya.


Makanya selama Ken bicara, atau bahkan hendak memukulnya Caka hanya diam saja.


***

__ADS_1


Tetep ratu uler yang menang😌😌😌


Apa pelajaran yang dapat diambil?


__ADS_2