My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 109


__ADS_3

Malam harinya.


Aneeq sudah bersiap-siap untuk datang ke rumah orang tua Jennie, berniat melamar wanita itu untuk menjadi istrinya. Wajah Aneeq selalu terlihat sumringah karena sebentar lagi dia akan menemukan semangkanya. Ralat! Kebahagiaannya.


Aneeq memakai kemeja berwarna biru tua, lengkap dengan jas warna senada. Pria itu tersenyum simpul begitu melihat Jennie dalam pantulan kaca. Wanita itu baru saja selesai mandi, tetapi dia dibuat terkejut saat melihat Aneeq berada di dalam sana. Bukankah pria itu ada di kamar bawah?


Aneeq melangkah pelan, membuat Jennie merasa waspada. Apalagi kini dia hanya menggunakan handuk yang bisa terlepas begitu mudah. Di antara tatapan mata itu, tiba-tiba Aneeq menarik tangan Jennie hingga wanita berdada besar itu terhuyung dan menabrak dadanya.


Jennie tersentak, apalagi saat tangan Aneeq sudah melingkar memenuhi pinggangnya. "An, kamu sedang apa? Jangan macam-macam yah, kita mau pergi lho." Ucap Jennie seraya mencoba melepaskan diri dari rengkuhan tubuh Aneeq.


Namun, bukannya mengindahkan ucapan Jennie. Aneeq malah mengecupi bahu polos wanita itu. Sementara tangannya merayap semakin naik. Jennie tak tinggal diam, dia menabok tangan nakal Aneeq hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.


"Aku bilang jangan macam-macam!" ketus Jennie.


"Hanya sedikit, Sayang. Aku akan melakukannya setelah kita menikah, tenang saja," bisik Aneeq tepat di telinga Jennie, membuat bulu kuduk wanita itu langsung berdiri.


"No! I don't care, aku tidak mau menuruti ucapanmu. Kita harus segera keluar!" Jennie tak mau terperdaya. Dia kembali meronta-ronta dalam dekapan Aneeq, tetapi akal bulus pria itu ternyata sudah kembali hingga dengan mudah Aneeq melepas penutup terakhir milik Jennie.

__ADS_1


Aneeq melemparkan handuk Jennie ke sembarang arah, membuat wanita itu menganga. Jennie berusaha menutupi tubuhnya yang sudah polos dengan kedua tangan. Namun, dia terlambat karena dengan cepat Aneeq membalik tubuh Jennie dan mengunci pergerakan wanita itu di depan lemari pakaian.


"An!" pekik Jennie dengan suara tertahan.


Aneeq malah terkekeh kecil, sementara pandangan matanya tak lepas dari dua bongkahan besar di bawah sana. Benar-benar sangat besar dan indah. "Tidak ada duanya." Bisik Aneeq sambil menyeringai tipis.


Wajah Jennie merah padam, Aneeq memang pria gila. Tidak hanya soal mencintainya, tetapi pria ini juga gila perihal ukuran dada. Jennie memalingkan wajah ke samping, tetapi Aneeq malah meraih dagu wanita itu, hingga mereka saling tatap.


Dada Jennie naik turun dengan nafas yang tak begitu teratur. Sementara Aneeq terus menatap dengan sorot penuh damba. Membuat Jennie salah tingkah. Aneeq sangat bahagia, akhirnya dia dapat melihat wajah Jennie lagi, wanita yang sangat dia cintai hari ini, esok dan selamanya.


"Aku sangat merindukanmu, Jen. Kemarin kamu benar-benar membuatku gila. Apa kamu tahu? Aku tidak bisa tidur setiap malam karena memikirkanmu dan Ziel. Aku juga mencarimu setiap hari, meski tidak ada tanda-tanda anak buahku akan menemukanmu. Bahkan aku hampir mati di tangan Daddy, hanya karena aku marah kamu pergi. Aku benar-benar gila, Jen. Aku gila tanpamu," papar Aneeq dengan suara yang memberat, dia terus menelisik wajah Jennie yang begitu cantik meski tanpa polesan make up.


Namun, karena kejadian itu. Dua ego yang sama menggunung akhirnya runtuh. Kini mereka sama-sama menyadari, bahwa mereka adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Ada rindu yang menggebu, ada cinta yang terus mengalir meski mereka tidak dapat bertemu. Dan ada ruang hati, yang berharap menjadi satu.


Tubuh Jennie terasa lemah saat melihat tatapan Aneeq berubah sendu. Tanpa sadar tangan Jennie terangkat dan meraih kedua sisi wajah Aneeq. Dia yang awalnya tidak ingin terperdaya, malah jatuh pada trik sang pria yang ingin melumpuhkannya.


Jennie sedikit berjinjit untuk mengecup bibir Aneeq. "Aku juga merindukanmu, An."

__ADS_1


Satu kalimat itu berhasil membuat Aneeq tidak bisa menahan gelora yang memenuhi dadanya. Dia segera meraih belakang kepala Jennie dan kembali menyatukan bibir mereka, menyesap dengan rakus hingga menimbulkan decapan yang terdengar sangat nyata.


Jennie sedikit terlonjak, dia hendak mendorong dada Aneeq tetapi sepertinya itu tidak akan berhasil. Karena Aneeq mengunci kedua tangan Jennie di belakang punggung wanita itu, sementara ia terus menyesap dengan deru menggebu-gebu.


"Eugh!" Lenguhan kecil itu keluar begitu saja saat tangan Aneeq mulai membelai dadanya. Tubuh Jennie mulai meremang-remang, sementara Aneeq semakin bersemangat untuk mendapatkan apa yang selama ini memenuhi otak anacondanya.


Jennie sedikit menggelinjaang saat bibir Aneeq turun merayapi leher menuju salah satu titik paling sensitif yang ada di dalam tubuhnya. "Ah, An!"


Aneeq melepaskan tangan Jennie, sementara mulutnya sudah berhasil mendapatkan pucuk buah semangka yang terasa sangat segar.


Jennie meremass-remass kepala Aneeq saat pria itu mulai menyesap dengan cukup kuat. "An, jangan seperti ini. Aku tidak bisa!" Mulut Jennie menganga, sementara dia mulai gelisah, takut tidak kuat dengan serangan yang Aneeq berikan.


Bisa-bisa dia yang meminta duluan pada pria itu. Ah, kan tidak lucu!


"Tenang, Jen. Aku akan sedikit menyenangkanmu. Sebut namaku oke?"


Jennie mencengkram bahu Aneeq saat pria itu berhasil mengangkat dan membanting tubuhnya di ranjang. Jennie semakin gelisah saat melihat kabut di mata Aneeq berkelebat, apalagi saat pria itu membuka kaki Jennie dan melakukan sesuatu di sana. Ahhh... Tidak!

__ADS_1


Tidak ada kelanjutannya...


__ADS_2