
Malam hari.
Setelah pulang dari acara rekan bisnisnya, Aneeq tidak pulang ke mansion, dia malah meminta Caka untuk mengantarkannya ke apartemen Jennie, matanya sudah sayu dengan tubuh yang lunglai, sepertinya dia telah mabuk.
Padahal Caka sudah memperingati Aneeq untuk pulang ke rumah. Namun, pria tampan itu tetap memaksa ingin pulang ke apartemennya, tempat di mana Jennie berada.
Tak sampai lama, mobil hitam itu sudah sampai di tempat yang Aneeq maksud. Meski tubuhnya lunglai dan berjalan sempoyongan, Aneeq tetap menolak bantuan Caka. "Pulanglah, aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh Jennie sekarang."
Pria itu mulai merancau, masih terdengar jelas dan Caka menganggap tuannya memang masih sadar. Akhirnya dia patuh, Caka kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Aneeq yang sudah naik ke atas.
Aneeq berjalan penuh perjuangan, karena harus menabrak dinding kiri dan kanan. Setelah sampai di depan pintu apartemen Jennie, pria itu langsung menekan bel, karena kesadarannya nyaris hilang.
Di dalam sana, Jennie baru saja selesai mengambil minum, saat mendengar bunyi bel, dia langsung mengernyit heran, siapa orang yang datang di tengah malam seperti ini?
"Apa itu Aneeq?" gumamnya seraya menaruh gelas di tempat cucian piring.
Karena merasa penasaran dan juga bel yang terus berbunyi, akhirnya Jennie memutuskan untuk membuka pintu, wanita itu langsung melebarkan kelopak matanya, saat mendapati Aneeq berdiri di depan sana.
Menatapnya dengan sorot mata sayu, dan tiba-tiba Aneeq langsung menyelonong masuk, menghambur memeluk tubuhnya. "Jen, aku merindukanmu, Sayang." Ujar pria itu sambil mengusal, membuat Jennie semakin tak mengerti tentang situasi yang tengah dia hadapi.
"An, tubuhmu bau alkohol, kamu mabuk?" tanya Jennie, dia mencoba memberi jarak antara tubuhnya dengan tubuh Aneeq. Namun, pria tampan itu malah menyerang dirinya, Jennie tersentak saat Aneeq langsung menyesap bibirnya dengan kasar.
Bahkan dia didorong hingga mereka berbaring di atas sofa, dengan Aneeq yang mengungkung tubuhnya. Pria ini sudah seperti kesetanan, hingga menyesap sana sini tanpa peduli jeritan Jennie.
"An, jangan seperti ini, please!" Jennie menjambak rambut pria itu, karena kepala Aneeq bersarang di leher, dan mulai turun ke dada. Melihat Jennie hanya mengenakan gaun malam yang menonjolkan lekuk tubuh wanita itu, membuat Aneeq semakin bernapsu.
__ADS_1
Jennie menahan suaranya, dia tidak mau sampai mendesaah atau Aneeq akan semakin bersemangat untuk mencumbu dirinya.
"Jen, keluarkan suaramu, aku ingin mendengarnya, Sayang," pinta Aneeq saat memberi jeda di antara kegiatannya. Tangan pria itu sudah membuka kancing kemejanya satu persatu, menarik kain tersebut dari tubuhnya, hingga dada bidang Aneeq dapat dilihat dengan jelas oleh Jennie.
Wanita itu meneguk ludahnya, entah kesialan apa yang akan menimpanya. Kenapa tiba-tiba Aneeq datang dengan keadaan seperti ini? Rasanya sulit dipercaya, mulut Jennie menganga, mendengar Aneeq yang merobek gaun tipis miliknya.
"An!" pekik wanita cantik itu, berusaha menyembunyikan kedua buah dadanya yang tumpah ruah. Aneeq menelan ludahnya, tanpa ba bi bu, pria tampan itu langsung mengunci kedua tangan Jennie di atas kepala, sementara mulutnya menyesap dua bongkahan yang ada di depan matanya.
Bagai bayi kelaparan, Aneeq mengulum dan menyesapnya dengan kasar. Sementara Jennie mulai merasakan geleyar yang tak biasa, sekuat apapun dia menahan akhirnya dia mendesaah juga.
"Ah, An!"
Mulutnya semakin menganga lebar, dengan kelopak mata yang berganti redup dan berbinar saat Aneeq turun ke bawah, tanpa aba-aba pria itu membuka kakinya, dan langsung memberikan sentuhan lidah.
Sesuatu yang tidak pernah lagi Jennie rasakan. Tubuhnya seperti disengat oleh listrik tegangan tinggi, hasratnya memuncak sampai ke ubun-ubun, hingga membuat pusat tubuhnya basah.
Lama-lama Jennie pun terbuai, mengikuti permainan Aneeq yang terasa begitu nikmat dan memikat. Apalagi saat wanita itu disuguhi benda besar nan panjang yang sudah beberapa kali mengitari otaknya.
"I want you, Jen. I want you tonight," ucap Aneeq, dia memindahkan kedua tangan Jennie di dada wanita itu sendiri, Aneeq ingin Jennie memainkannya, sementara di bawah sana, dia sedang berusaha menembus batas nirwana yang sebentar lagi akan mereka singgahi.
Jennie tak bisa lagi menolak, entah kenapa dia terlalu lemah untuk melawan pria satu ini. Jennie hanya bisa memekik kesakitan saat benda itu terus mengoyak miliknya. Hingga akhirnya. "An ...."
"Ahhhhh ...."
Deg!
__ADS_1
Jennie langsung terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah, dia melihat sekeliling, suasana terang karena lampu kamar itu tidak dimatikan.
Dadanya naik turun, mimpi apa dia tadi? Kenapa rasanya seperti nyata?
"Gila, gila, kenapa aku bisa bermimpi mesumm seperti itu? Aneeq? Tidak mungkin, ini benar-benar gila!" rancau Jennie lalu menutup mulut, tidak percaya kalau dia sampai bermimpi adegan erotiss dengan pria menyebalkan seperti Aneeq.
Dia menatap Ziel yang mengerjapkan kelopak matanya, sepertinya pria kecil itu terganggu dengan teriakan sang ibu.
"Mommy kenapa? Kok berisik sekali?" tanyanya.
Jennie bergeming, dia malah tampak gugup untuk menjawab pertanyaan putranya.
"Dari tadi ah, ah terus. Mommy mimpi buruk yah?"
Wanita cantik itu langsung melebarkan kelopak matanya dan membuang wajah. Jadi, Ziel juga mendengarnya. Sumpah demi apapun, Jennie sangat malu, dan merasa bodoh.
Namun, dia tidak bisa memastikan, kalau ini adalah mimpi buruk atau mimpi indah.
Hiks, Ziel, kenapa kamu harus mendengarnya?
*
*
*
__ADS_1
Mommy Jen terlalu menghayati sih 🤣🤣🤣