
Dengan langkah ragu, De masuk ke dalam mansion, lalu menyambangi ruangan kerja sang kakak. Dia semakin terlihat ketar-ketir dengan meneguk ludahnya kasar.
Gumam-gumam tak jelas terdengar lirih. Namun, percuma saja jika dia berusaha untuk menghindari itu semua, sebab Aneeq akan terus mengejarnya.
Siapa suruh membuat Aneeq dan Jennie salah paham, bagaimana kalau sampai ada apa-apa dengan wanita itu? Apakah De akan bertanggung jawab?
"MASUK!" teriak Aneeq dari dalam, sebab dia sudah bisa melihat kehadiran De dari layar CCTV. Dia sengaja melemparkan kotak tisu ke arah pintu, agar De sadar bahwa dia sudah tidak memiliki rasa sabar.
Pria berjambang lebat itu menelan ludahnya. Habis sudah riwayatnya, sebab Aneeq terlihat sangat marah. Dia terus membatin, hingga akhirnya tangan besar itu berhasil memegang kenop pintu.
De menarik nafas dan membuangnya secara kasar, lalu memutar kenop tersebut hingga perlahan-lahan benda persegi panjang itu dapat terbuka.
Deg! Jantung De seperti ingin melompat, dia sangat terkejut begitu melihat Aneeq sudah berdiri dan menatapnya dengan tajam. Gigi pria itu bergemeletuk dengan rahang yang mengeras, semakin membuat De tak kuasa untuk melangkahkan kakinya.
Dia tahu, dia telah mengambil langkah yang salah.
Brak!
Aneeq menendang pintu dengan kuat hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Beruntung De langsung menghindar, kalau tidak mungkin tangannya sudah tidak dapat digunakan.
Pria berjambang lebat itu semakin gemetar, baru saja De ingin buka suara, tetapi dia sudah ditarik oleh Aneeq, bogem mentah melayang begitu saja mengenai wajah pria itu. "Izinkan aku menghajarmu beberapa kali, supaya otakmu itu bisa dipakai!"
Aneeq benar-benar sudah merasa geram. Dia semakin mencengkram kerah kemeja De dan melayangkan tinjunya di perut pria itu. Setidaknya dengan itu, dia bisa sedikit lebih tenang. Sebab bayangan Jennie yang menangis selalu terlintas dalam benaknya.
Dia tidak habis pikir, bagaimana jika tadi siang Jennie bertindak gegabah dan membahayakan diri serta anak mereka. Jika itu terjadi, mungkin saat ini Aneeq sudah benar-benar gila.
Walau bagaimanapun dia adalah seorang mantan cassanova, Jennie pasti berpikir dia kembali bermain-main dengan para wanita. Apalagi hormon ibu hamil yang dikenalnya tidak stabil, membuat mereka lebih mengandalkan emosi daripada akal sehatnya.
"Argh!" De memekik sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, apalagi ia baru saja makan malam.
Terpaan nafas Aneeq terdengar memburu, gigi pria itu masih saja beradu, dia melayangkan tangannya kembali tetapi yang dia tinju malah dinding yang tak bersalah.
__ADS_1
Tidak bisa! Walau bagaimanapun dia tidak bisa menyakiti saudara kembarnya. Sebab ada darah yang sama di tubuh mereka. Membuat Aneeq akhirnya melampiaskan itu semua pada objek yang lain.
"Ah, Sial! Andai kamu bukan saudaraku, habis sudah kamu di tanganku, De." Aneeq melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar. Dia tidak peduli pada tangan kanannya yang berdarah, yang penting amarah di dadanya sedikit mereda.
Dan sekarang dia ingin mendengar penjelasan De. Apa maksud pria itu menyembunyikan seorang gadis di apartemennya. Dia tidak ingin mendengar lagi sebuah omong kosong. Sebab dia hampir saja kehilangan Jennie.
Akhirnya De pun menjelaskan siapa gadis itu. Dan semua itu berhasil membuat Aneeq mendelik. Sementara De semakin bertambah pias.
Aneeq memukul dada De karena merasa geram, bukan lagi karena kesal terhadap tingkah laku De, tetapi dia justru khawatir adiknya akan terseret masalah besar. Tidak hanya dia, ibu dan ayahnya juga pasti akan ikut kecewa.
"Aku minta maaf untuk itu, An. Aku benar-benar bingung."
De mendesaah lagi, dia menyugar rambutnya dari belakang ke depan merasa cukup frustasi. Dia tidak memiliki kekuatan seperti Aneeq. Yang dia tahu hanyalah alat-alat kedokteran, juga obat-obatan, selebihnya dia tidak tahu.
"Duduk!" titah Aneeq dan De langsung patuh. Dia duduk di sofa sementara sang kakak berdiri dengan kedua tangan yang melipat di depan dada.
Aneeq mulai membicarakan rencana, tak ingin membuat De tenggelam semakin jauh, terpaksa dia membantu saudaranya itu. Hingga semua masalah itu benar-benar tuntas.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, An."
"Makanya kalau ada apa-apa itu bilang," cibir Aneeq, baru saja dia akan duduk di kursi kebesarannya. Pintu ruangan itu malah diketuk.
Tok tok tok ...
"Sayang, kenapa belum kembali ke kamar? Apa kamu masih memiliki pekerjaan?"
Itu suara Jennie, sebenarnya dia sudah tidur bersama dengan Ziel, tetapi menyadari Aneeq tidak ada, dia jadi terbangun.
Aneeq tersenyum sumringah, lalu menyuruh sang istri untuk masuk.
"Dear, masuklah!"
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, benda persegi panjang itu terbuka. Namun, senyum di bibir Jennie langsung sirna begitu melihat De ikut menatapnya. Sumpah demi apapun, dari pertama Jennie melihat pria itu, dia tak berniat sedikitpun untuk mengajak De bicara.
Pria mengerikan!
"Ke mari jangan takut. Dan kamu—keluar sana!" ucap Aneeq, menyadari bahwa sang istri takut pada salah satu saudara kembarnya.
De bangkit seraya mendengus, saat melewati Jennie dia berusaha untuk biasa saja. "Maafkan aku membuat kalian salah paham, dan perlu kamu ingat dia bukan selera Aneeq." Sindirnya sambil melirik semangka besar milik sang kakak.
Sementara Jennie langsung mendelik.
Apa maksudnya?
Grap!
Aneeq langsung menarik lengan Jennie, saat wanita itu sudah ada di dekatnya. Jennie langsung tersadar, dan menatap wajah Aneeq yang sudah tersenyum mencurigakan.
"Mau main?"
Baru saja Jennie hendak duduk di pangkuan Aneeq, dari arah pintu sudah terdengar suara serak Ziel yang memanggil-manggil nama sang ibu.
"Mommy ... kenapa tinggalin Ziel?" tanyanya seraya melangkah ke arah dua orang dewasa itu.
"Mommy tadi—" Melirik Aneeq yang sudah mulai memasang wajah masam. Seperti sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ziel meraih tangan Jennie. "Ziel mengantuk, ayo kita kembali ke kamar!"
Mendengar itu, Aneeq langsung lemas seketika. Dia meneguk ludahnya kasar sambil menatap kepergian istri dan anaknya.
"Cih, gagal dapat jatah!"
***
__ADS_1
Jadi begitulah kawan-kawan 😌😌😌