
Mobil mewah milik Aneeq kembali membelah jalanan ibu kota malam itu. Mereka terus mencari-cari minimarket terdekat yang memiliki jam terbang selama 24 jam.
Namun, entah kesialan apa yang menimpa Aneeq. Hingga sampai sekarang mereka belum menemukan satupun minimarket yang buka. Dia terus menelisik sisi jalan, tetapi kedua netranya hanya bisa menatap lampu yang dihidupkan di depan ruko.
"Sayangβ"
"Baru setengah jam lewat dua menit 28 detik, An. Kita belum mencarinya terlalu lama, mungkin di daerah sana masih ada," tukas Jennie, sebab dia tahu sang suami pasti akan mengeluh.
"Masalahnya udah malam, Sayang. Aku takut kamu kenapa-kenapa karena keluar terlalu lama."
Pria tampan itu hampir saja mendesaah, tetapi tertahan di ujung mulut begitu melihat Jennie yang sudah melayangkan tatapan tajam.
"Aku 'kan di dalam mobil, An. Tidak sedang di luar," jawab Jennie, lalu tiba-tiba tangannya terangkat untuk mematikan AC. "Kalau kamu takut aku kedinginan, ya matikan AC nya, jangan aku yang dipermasalahkan."
Hah! Akhirnya keluar sebuah helaan nafas. Meladeni ibu hamil, terlebih itu wanita pasti tidak akan ada menangnya. Sekalipun menang, pasti terancam tidak dapat jatah. Jadi, lebih baik sekarang dia mengalah.
"Iya-iya, Sayang."
Aneeq kembali mengemudikan mobilnya dengan tenang. Dia melirik Jennie yang melipat tangan di depan dada dengan bibir yang sedikit menggerutu, tetapi tidak mengeluarkan suara.
Namun, tak berapa lama kemudian, Jennie meminta Aneeq untuk berhenti secara mendadak, saat mereka sampai di sebuah tempat tongkrongan anak-anak muda.
"An, stop!"
Aneeq yang terkejut mengerem secara dadakan, tetapi tangannya reflek untuk menahan tubuh Jennie, hingga tidak terlalu terhuyung ke depan.
"Sayang, jangan menyuruhku mengerem dadakan seperti itu dong, kita bisa celaka," ujar Aneeq dengan nada sedikit protes. Jennie menghela nafas lalu menatap wajah suaminya, tetapi dia tetap tidak mau disalahkan.
"Itu karena kamu bawa mobilnya terlalu cepat, harusnya santai saja supaya pas direm secara mendadak tidak terlalu bahaya!"
Aneeq memutar bola matanya, dia sudah sangat lelah untuk berdebat dengan istrinya. Dia hanya mengangguk, lalu bertanya. "Ada apa? Apa kamu menginginkan sesuatu?"
Mendengar itu, Jennie sedikit mengulum senyum. Entah kenapa wanita itu jadi terlihat menyebalkan sekali, tetapi sumpah demi apapun Aneeq tetap tak bisa marah.
"Aku mau jagung bakar," jawab Jennie seraya menunjuk pedagang jagung bakar yang membuka stand di pinggir jalan.
__ADS_1
Wanita itu tiba-tiba ingin makan makanan tersebut, bahkan air liurnya hampir saja keluar.
"Hanya itu?"
"Tidak!"
"Apalagi? Kamu mau apa biar sekalian."
Jennie menggeser jarinya ke tempat angkringan khas salah satu kota di negara mereka. "Aku juga mau itu. Aku ingin sate telur puyuh, sate kulit, dan nasi kucing."
"Oke, apa sudah cukup?"
Jennie langsung mengangguk, dia berubah menjadi semangka manis yang terlihat sangat menggemaskan, hingga dengan secepat itu Aneeq mengecup bibir istrinya.
"Baiklah, tunggu di sini. Biar aku yang keluar untuk membelinya."
Beruntung kali ini Jennie menurut, Aneeq mengusap perut wanita itu sekilas lalu keluar dari dalam mobil. Ikut mengantri seperti yang lain.
Kedatangan Aneeq sempat mengguncang perhatian, beberapa orang yang ada di sana langsung mengalihkan pandangan pada pria bertubuh kekar yang memakai celana kolor dengan gambar keropi.
"Pak, aku minta sate telur puyuh, sate kulit dan nasi kucingnya dua. Tapi kucingnya dipisah."
Pedagang itu langsung melongo mendengar pesanan Aneeq.
"Bagaimana, Tuan?"
"Haish, aku harus mengulangnya?"
"Maaf, Tuan. Saya memang kurang mendengarnya tadi."
Aneeq memutar bola matanya jengah. "Sate telur puyuh, sate kulit dan nasi kucingnya dua. Tapi kucingnya dipisah."
Semakin diulang, si pedagang malah semakin pusing. Dia garuk-garuk kepala. "Maaf, Tuan, tapi di sini hanya ada nasinya saja. Kucingnya tidak ada."
"Lho kenapa bisa namanya nasi kucing tapi tidak ada kucingnya? Jangan mengada-ada, istriku sedang hamil dan menginginkan nasi kucing."
__ADS_1
"Tapi, Tuan, namanya memang nasi kucing. Meskipun tidak ada kucingnya."
"Mana ada yang seperti itu, kalau tidak ada bilang saja tidak ada. Nasi seperti itu mah di rumah juga ada."
Si pedagang seketika naik darah.
"Jadi beli apa tidak?! Kalau tidak ya sudah."
"Ya belilah, kalau tidak yang ada istriku marah-marah."
Akhirnya Aneeq mendapatkan apa yang Jennie pesan. Dan bersamaan dengan itu, jagung bakar pun sudah matang, dia tersenyum sambil menyerahkan uang masing-masing seratus ribu.
"Ambil saja, terima kasih."
Untunglah upahnya dilebihkan, kalau tidak mungkin si pedagang angkringan sudah mendumel sepanjang langkah Aneeq.
"Sayang, Daddy sudah bawa nih apa yang kamu inginkan," ucap Aneeq saat sudah masuk ke dalam mobil, Jennie yang kala itu sedang bermain ponsel langsung mengalihkan pandangannya pada dua kantong plastik yang dibawa Aneeq.
"Wah kelihatannya enak."
"Tapi aku minta maaf, Jen, nasi kucingnya tidak ada. Ah, lebih tepatnya hanya ada nasinya saja, kucingnya tidak ada."
Jennie mengernyit.
Dan detik selanjutnya, wanita hamil itu tertawa lepas. "An, jangan bilang kamu protes ke pedagangnya karena tidak ada kucing di sana."
"Kenapa kamu bisa tahu?"
Jennie semakin tergelak kencang, dan memegangi perutnya. "Namanya memang nasi kucing, An. Tapi bukan berarti ada kucingnya. Kenapa suamiku polos begini." Uyel-uyel pipi Aneeq sambil terkekeh gemas.
Mendengar itu, Aneeq merasa menjadi orang bodoh di dunia. Kenapa bisa dia malah marah-marah karena nasi kucing tidak ada kucingnya.
***
Kudu gue ajak main nih si calon bapak πππ
__ADS_1