My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 127


__ADS_3

Mendengar pengakuan El yang baru saja memanjat pohon mangga di samping kamarnya, Caka merasa terperangah, dia langsung memeriksa tubuh wanita itu, takut ada luka yang bersemayam di sana.


"Jangan buat aku takut, di mana letak lukanya?" tanya Caka masih memeriksa tubuh El dengan seksama. El berputar-putar tetapi Caka tetap tidak menemukan apa-apa.


"Aku tidak apa-apa, Kak. Apa yang kamu khawatirkan?" ujar El memberitahu calon suaminya, bahwa dia baik-baik saja. Apa yang perlu dikhawatirkan? Baginya memanjat pohon seperti itu sangatlah mudah. Kalian tidak ingat saat El kecil? Dia sering melakukan atraksi naik motor dengan kaki yang terangkat satu. Bahkan Caka pun sering melihatnya.


Caka menatap El yang terlihat begitu santai, pria itu menghela nafas dengan bahu yang sedikit turun, merasa lega. Dia baru ingat, bahwa calon istrinya ini keturunan ular python yang bisa bergelantungan di antara pepohonan.


Tiba-tiba Caka menarik tubuh El untuk kembali masuk ke dalam dekapannya. Pria itu mengelus puncak kepala El, bahkan tak sedikit memberikan kecupan-kecupan kecil. "Jangan lakukan itu lagi yah. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa." Ucap Caka, ya hanya kalimat itu yang terucap dari bibirnya.


Karena rasanya menjadi seseorang yang banyak bicara itu bukanlah dirinya. Dia ingin El mengerti, meski tidak banyak pesan yang dia sampaikan. El tersenyum di balik dada bidang Caka, merasa begitu dicintai adalah anugerah yang begitu indah.


Namun, keindahan itu tak berlangsung lama, sebab keduanya terlonjak kaget saat beberapa orang mendobrak kamar Caka.


Brak!


"EL, CAKA!" Kompak semua orang tua, termasuk Ken dan Zoya yang sudah ketar-ketir karena kehilang jejak El yang tidak ada di kamarnya. Kedua orang yang sedang digrebek itu langsung gelagapan dan melepas pelukan masing-masing.


Zoya mendekat dan segera menarik telinga sang putri dengan cukup kuat. "Bisa-bisanya kamu di sini, El? Sementara Mommy dan Daddy mengkhawatirkanmu." Cetus Zoya dengan dada yang meletup-letup, tak habis pikir kenapa putrinya tiba-tiba berada di rumah Caka.

__ADS_1


"Aduh, Mommy, sakit," keluh El sambil memegangi telinganya yang terus ditarik oleh Zoya. Namun, Zoya tidak peduli dengan pekikan putrinya. Sedang masa pingitan, malah kabur dan enak-enakan berpelukan.


"Kalian ini sedang dipingit, coba sabar sedikit!"


"Tapi lama, Mom."


Zoya mendelik sebab El berani menjawab ucapannya. "Masa pingitan kalian tidak sampai setahun, El!"


"Tapi El kangen sama Kak Caca."


"Astaga, Eliana!" pekik Zoya merasa gemas dengan putrinya. Sejurus dengan itu, pekikan El juga menggema, karena telinganya kembali ditarik oleh Zoya.


"Apa yang kalian lakukan hah?" tanya Siska penuh tekanan, sementara tangannya tak berhenti memberi cubitan.


"Aw, sakit, Mi, aku dan El tidak melakukan apapun," jawab Caka apa adanya, mereka hanya bertemu, dan itu pun karena El yang datang ke kamarnya.


"Lalu kenapa bisa El ada di kamarmu, Caka? Apa sepulang bekerja kamu diam-diam membawanya?"


Caka menggeleng cepat. Namun, Siska malah melotot tak percaya. Kedua pasang calon pengantin itu tengah mendapat hukuman dari ibu masing-masing, telinga El sampai memerah dan hampir putus akibat jeweran Zoya.

__ADS_1


"Kalau begitu nikahkan kita sekarang saja," ucap El menanggapi ucapan Zoya yang terus memberikan siraman rohani yang hanya lewat begitu saja. Zoya mendelik dan semakin menarik telinga El.


"Seminggu lagi, Eliana Sancha!" tegas Zoya sementara El memekik.


"Aduh, Mommy, sakit. Iya-iya ampun Ratu," ujar El memohon dengan wajah memelas. Sementara Ken hanya bisa menonton aksi istrinya tanpa membela El, sebab baru saja membuka mulut, Zoya sudah melotot tajam seperti ingin menelan Ken hidup-hidup.


"Dad ...," rengek El. Namun, Ken malah melirik Zoya. Jangan macam-macam, itulah yang dapat Ken baca dari tatapan mata istrinya. Ken menghela nafas panjang, tak mampu berbuat apa-apa.


"Sayang, ayo kita selesaikan semuanya di rumah. Biar Caka menjadi urusan Ron dan Siska," ucap Ken, berusaha bersikap netral. Dada Zoya naik turun dengan nafas terengah, mendengar saran suaminya akhirnya Zoya mau melepaskan telinga El.


"Ikut, Mommy pulang! Jangan pikir kamu akan selamat!"


Hah!


El tersenyum lega, sebab sang ibu mau berbaik hati melepaskannya. Sebelum pulang, El menatap Caka yang sedang menundukkan kepala. Pria itu melirik El yang hampir sampai di puncak pintu. Bukannya takut sebab akan menerima hukuman. El malah tersenyum sumringah sambil mengedipkan sebelah matanya.


"ELIANA SANCHA!" pekik Zoya begitu menggema.


__ADS_1


__ADS_2