
"Hah!" Helaan nafas panjang keluar dari mulut keduanya, kepala Jennie jatuh di dada bidang Aneeq karena kehabisan tenaga meladeni gairah suaminya yang begitu besar dan membara.
Sementara Aneeq masih tegak berdiri dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Sudah seperti habis lari maraton, tak hanya nafasnya yang terdengar sangat kasar, tetapi tenggorokannya juga terasa kering, karena terus mendesaah bersama dengan istrinya.
Aneeq masih menumpu Jennie yang terus melingkarkan kaki di pinggangnya. Sebab tubuh mereka masih menyatu, dan tengah menunggu bisa anaconda melandas dengan sempurna di rahim wanita berdada besar itu.
Kulit putih Jennie kini berubah belang-belang, karena banyak sekali totol-totol macan buatan Aneeq. Bahkan terasa tak ada celah lagi, membuat Jennie harus memesan baju berkerah tinggi setelah ini.
Kalau tidak, sudah dipastikan Ziel si pria kecil yang suka sekali bertanya. Akan memberikan serangan pula pada dirinya.
Aneeq mengangkat wajah Jennie yang sudah lunglai dari dada bidangnya. Netra sayu nyaris tak bertenaga milik wanita itu membuat Aneeq mengukir senyum, dia mengusap wajah cantik istrinya yang berpeluh, dan menyingkirkan anak rambut Jennie ke belakang telinga.
Aneeq memberikan kecupan singkat di bibir Jennie. Dia merasa sangat puas, karena akhirnya Jennie bertekuk lutut di bawah kuasanya.
"Kamu menyerah, Jen? Bagaimana kerja kerasku? Apa rasanya hampir membuatmu mati?" tanya Aneeq sambil memperhatikan wajah Jennie yang begitu damai. Pria itu menggoda istrinya dengan memainkan jari di bibir Jennie.
"Hem, ini melelahkan, An. Kamu benar-benar membuatku tidak berdaya. Setelah ini kamu harus gendong aku ke manapun!"
Aneeq terkekeh kecil. Dia membuka sedikit bibir Jennie hingga menyisakan celah, kemudian Aneeq kembali meninggalkan kecupan di sana. "As you wish, My Sexy Wife."
Aneeq menggendong Jennie dan melangkah ke arah ranjang. Dengan hati-hati pria itu meletakkan Jennie dan melepas penyatuan. Jennie kembali meringis merasa ngilu sekaligus nikmat. Tak hanya itu, Aneeq juga membersihkan inti tubuh Jennie menggunakan tisu sebelum membungkus tubuh semampai itu dengan selimut.
__ADS_1
"Aku akan pesan makanan, Sayang. Kamu mau apa?" tanya Aneeq sambil mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Dia mengelus puncak kepala Jennie, sementara tangannya yang satu memegang telepon.
"Terserah, yang penting bisa dimakan dan membuat tenagaku kembali," ucap Jennie sudah tak mampu lagi untuk berpikir, yang diinginkan dia sekarang hanyalah makan dan beristirahat.
Aneeq manggut-manggut, akhirnya dia memesan beberapa makanan, lalu setelah itu Aneeq memakai celana santai yang sudah disediakan. Aneeq mulai naik ke atas ranjang, dia ikut berbaring di samping Jennie dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang, karena Jennie memang tengah memiringkan tubuhnya.
"Jen."
"Hem."
"Apa aku bisa melakukannya sekali lagi?"
Aneeq terkekeh kecil dan mengusakkan wajahnya yang berbulu di punggung polos Jennie. Suka sekali kalau Jennie sudah terpancing dengan godaan mautnya. "Kenapa, Sayang? Satu lagi biar afdol."
"Ish, aku lelah, An! Memangnya kamu tidak lelah apa?" ketus wanita itu, sudah lapar dan haus, Aneeq malah mengajaknya tarik urat.
Aneeq menggeleng cepat, membuat Jennie menghela nafas panjang. "Main sana sama sabun. Aku jamin sampai lima kali pun dia sanggup!"
Mendengar itu, Aneeq tergelak kencang, lalu menciumi leher Jennie yang sudah tak polos lagi, karena ada banyak bercak kemerahan hasil kerja kerasnya. "Just kidding, Dear. Kenapa kamu serius sekali? Setelah ini aku akan melayanimu, kamu mau apapun pasti akan aku turuti."
"Are you sure?"
__ADS_1
"Hem, of course. What do you want?"
Jennie membalik tubuhnya hingga mereka berhadapan, dalam jarak sedekat ini Aneeq bisa merasakan semangka Jennie yang tak berpenghalang menyentuh dada bidangnya. Jennie menangkup satu sisi wajah Aneeq dan tersenyum tipis. "Jangan pernah tinggalkan aku dan Ziel. Aku mau kita selalu bersama." Ujar wanita itu, membuat Aneeq ikut tersenyum pula.
Pria itu mengangguk penuh keyakinan, agar Jennie percaya pada janjinya. "I promise. I will never leave you, Dear. Because you are my everything. (Aku janji. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang. Karena kalian adalah segalanya untukku.)"
***
Sementara di tempat lain, ada seseorang yang sepertinya sedang terkena karma. Sebab tidak dapat membayar denda akibat tindakan korupsinya, Michael terpaksa dipenjara.
Nasib sial semakin menimpa dirinya tatkala dia dimusuhi oleh teman-teman satu selnya hingga setiap hari Michael selalu mendapat pukulan, saat pria itu tak mau menurut, atau bahkan karena kesengajaan.
"Argh!" pekik Michael sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit karena menerima pukulan yang bertubi-tubi.
"Makanya jangan sok! Cepat lakukan tugasmu, pijat kaki kami secara bergantian!" bentak si kepala sel, seseorang yang sangat ditakuti karena dia memang sudah terlalu lama di dalam penjara.
Baginya penjara sudah menjadi sebuah rumah, dan tempat dia berkuasa. Mata Michael berkaca-kaca, tak bisa membantah akhirnya dia hanya bisa patuh pada perintah pria menyeramkan itu.
Lutut Michael terasa lunglai, dia tersungkur dengan penyesalan yang mendera.
Aku adalah pria paling bodoh di dunia.
__ADS_1