
Gagal total!
Satu kalimat itu menggambarkan suasana malam di kamar Aneeq dan Jennie. Dikarenakan Ziel yang terus menangis histeris melihat sang ibu berdarah-darah versi dirinya, Ziel memarahi Aneeq dan terus memeluk tubuh Jennie.
Alhasil, pria tampan itu hanya bisa mengalah dan berlalu ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya. Untung saja dia masih berpakaian lengkap, sementara pakaian Jennie hampir terlucuti semua.
"Cih, ada saja gangguannya," gerutu Aneeq sambil mendesah kecil. Dia memerhatikan wajahnya dari pantulan kaca, tak ada pilihan lain, dia harus bermain sendiri tanpa ditemani sang istri.
Sedangkan Jennie masih menenangkan Ziel dan berusaha memberi pengertian pada bocah tampan itu, bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, Ziel tidak percaya, karena leher Jennie terlihat mengerikan, apalagi bercak merah itu hampir memenuhi dada pula.
"Mommy, kenapa Daddy menggigitmu seperti itu? Kenapa dia tega sekali?" tanya Ziel dengan sesenggukan. Sedari tadi dia terus memeriksa tubuh Jennie, Ziel semakin merana sebab semakin diperhatikan, bekas gigitan sang ayah malah bertambah banyak.
"Sayang, ini bukan Daddy yang gigit, lagi pula ini bukan darah," ujar Jennie, dia mulai mencari akal untuk mengelabuhi putranya.
"Lalu siapa, Mom? Tadi Ziel lihat mulut Daddy di leher Mommy," tanya Ziel sambil membeberkan fakta. Kini pria kecil itu berada di pangkuan Jennie, dan memeluk wanita berdada besar itu.
"Ya, semut. Daddy kan sering bilang, kalau ada semut di leher Mommy. Tadi Daddy ambil semutnya pakai mulut, bukan mau menggigit Mommy," jelas Jennie yang membuat Ziel menghentikan tangisnya, dia menengadah memerhatikan wajah Jennie yang terlihat sangat serius.
"Are you sure?"
"Hem." Jennie mengangguk semakin mantap, karena Ziel terlihat percaya dengan ucapannya.
"Apa semutnya sangat banyak? Sampai leher Mommy merah-merah semua?"
__ADS_1
"Banyak sekali, Daddy sangat hebat, karena mengambil semutnya dengan cepat, kalau tidak, mungkin leher Mommy akan berlubang."
Ziel bergidik ngeri, mengetahui fakta bahwa semut ternyata sangat berbahaya. "Kenapa mereka menyeramkan sekali? Seperti monster yang ada di Upil-Ipil."
"Makanya kalau Ziel makan apapun, jangan sampai berjatuhan, nanti banyak semut," ujar Jennie berujung menasehati sang putra. Hingga akhirnya Ziel manggut-manggut, dia mengusap sisa air mata yang mengalir di pipinya lalu tersenyum.
"Oke, Mom. Ziel akan berhati-hati."
"Anak pintar," puji Jennie lalu mengecup puncak kepala Ziel. Lantas setelah itu, dia kembali mengajak Ziel untuk tidur. Jennie bernafas lega karena pria kecil itu tidak membantah ucapannya. Hingga tak berapa lama kemudian, Ziel benar-benar terlelap dengan memeluk tubuh Jennie.
Sementara Aneeq keluar dari kamar mandi, setelah menyelesaikan ritualnya.
Kedua orang dewasa itu saling pandang. Aneeq mendengus kasar, sedangkan Jennie terkekeh merasa lucu, mengingat reaksi mereka yang gelagapan saat tertangkap basah oleh Ziel.
***
Satu bulan telah berlalu.
Sesuai kesepakatan, setelah pernikahan Jennie dan Aneeq digelar. Kini tinggal pernikahan antara El dan Caka.
Tepatnya seminggu lagi acara tersebut akan dilangsungkan, kini El dan Caka tengah melalui masa pingitan, sudah dua hari mereka dilarang bertemu, dan hal tersebut membuat El merasa gelisah. Sebab dia tidak bisa menemui pria pujaannya.
Namun, wanita bak barbie hidup itu tidak kehabisan akal. Ada saja rencana yang bercokol di otaknya, agar dapat bertemu dengan Caka.
__ADS_1
Di rumah keluarga Liem.
Caka baru saja menyelesaikan makan malam, karena tidak ada yang diobrolkan Caka langsung pamit ke atas kamar untuk beristirahat. Setelah membersihkan dirinya dengan menyikat gigi dan mencuci muka, Caka merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Pria itu menatap langit-langit kamar dengan bayangan wajah El yang memenuhi pikirannya. Dia tersenyum, karena sebentar lagi mereka akan menikah.
Namun, tiba-tiba lamunan Caka buyar, saat ia mendengar sebuah ketukan dari balik pintu balkonnya.
"Siapa?" Caka memasang telinga, dengan kening yang mengernyit.
Semakin dibiarkan suaranya malah bertambah besar. Akhirnya Caka bangkit, sementara perasaannya mulai tak tenang. Takut bahwa itu adalah maling, Caka mengambil benda yang sekiranya dapat memukul seseorang.
Pria itu mengendap-ngendap dengan tongkat bisbol di tangannya. Dadanya semakin bergemuruh, saat kaki jenjangnya semakin dekat dengan sumber suara.
Caka benar-benar sangat waspada, dia melangkah lebar, sementara tangannya siap memukul seseorang yang ada dibalik pintu balkon itu. Caka melihat sebuah bayangan dari kain gorden yang tersibak ke sana ke mari. "Apa pencurinya seorang wanita?" Gumam pria itu menilai lekuk tubuh seseorang yang tengah mengganggunya.
Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya. Caka menarik gorden dan siap melayangkan tongkat tersebut. Namun, dia justru tersentak kaget, saat melihat wajah El yang menempel di kaca, dengan bibir yang terlihat sangat aneh.
BUGH!
Saking terkejutnya Caka terjungkal dengan mata yang membulat sempurna. "El?"
***
__ADS_1