My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Cacing Alaska #4


__ADS_3

Makan malam di keluarga Tan terlihat dibubuhi tawa, saat Jennie dan Aneeq mengabarkan bahwa mereka akan mendapatkan bayi kembar juga.


Namun, dibalik tawa semua orang, ada rasa sesak yang mengganjal di dada El. Karena sampai sekarang, dia tak kunjung hamil seperti yang lain.


Caka bisa membaca raut wajah istrinya yang tengah kecewa. Mungkin di depan semua orang wanita itu bisa tersenyum bahagia, tetapi dia tahu bahwa jauh di dalam lubuk hati El, wanita itu tengah merasa iri terhadap ibu dan kakak iparnya.


"Sayang, ayo kita kembali ke kamar," ajak Caka, ingin mengalihkan pikiran istrinya. Bahkan dia sengaja memanggil El dengan begitu mesra, untuk menghibur wanita itu.


El langsung mengangkat kepalanya, begitu pun dengan semua orang. Karena sudah selesai makan malam, El pun mengangguk. "Apa Kakak sudah ingin istirahat?"


"Iya, aku merasa cukup lelah," jawab Caka, dia menggenggam tangan istrinya dan El pun beranjak untuk mengikuti langkah pria itu.


"Mom, Kak. Aku masuk duluan yah. Kak Jennie, sekali lagi selamat, semoga kalian berdua selalu sehat," ucap El dengan wajah yang ceria.


"Iya, El. Terima kasih ya doanya, semoga kamu pun cepat hamil."


"Aamiin," jawabnya singkat, lalu mulai melangkah meninggalkan meja makan. Ketika mereka hampir sampai kamar, Caka tiba-tiba menggendong El hingga membuat wanita itu terkejut dan langsung mengalungkan tangannya.


"Kakak!" jerit El, "kenapa membuatku kaget?" protesnya dengan bibir mencebik, tetapi dalam hatinya dia berteriak suka.

__ADS_1


Caka terkekeh.


"Aku suka melihat wajahmu yang ketakutan. Mirip seperti saat kita pertama kali melakukannya," ucap Caka, mulai menatap El dengan pandangan mata yang entahlah.


"Apa yang Kakak bicarakan? Kenapa jadi mesyum?"


El memutar kenop pintu, tanpa harus diberi kode oleh suaminya.


"Entahlah, sepertinya kamu memberi pengaruh besar untukku." Caka menendang pintu, hingga benda persegi panjang itu tertutup dengan sempurna.


Detik selanjutnya dia menyergap bibir El yang sebentar lagi akan bicara. Sapuan hangat nan lembut El rasakan. Begitu candu nan memabukkan. Wanita itu semakin mengeratkan pelukannya pada leher Caka, hingga Caka sedikit mengangkat tubuh El.


"Kamu menginginkannya?" tanya El dengan bibirnya yang basah. Dia menatap Caka, tatapan pria itu berubah merayu, tetapi sungguh dia hanya ingin mengalihkan pikiran El, agar tidak berpikir yang tidak-tidak.


"Kapan aku tidak menginginkannya, Sayang?" Caka balik bertanya, kedua tangan pria itu sudah menaikkan kaos rumahan milik istrinya, hingga dia bisa melihat dua gumpalan indah yang tertutup kain berenda.


"Tapi kita baru saja selesai makan lho."


"Tidak masalah, anggap saja makanan penutup."

__ADS_1


El tersenyum.


"Ternyata kamu pria mesyum yang pandai merayu!" cetusnya sambil menarik hidung Caka.


"Aku hanya meminta hakku, apa itu salah?"


El mengangkat tangan, saat Caka membantunya untuk melepaskan pakaian. Wanita itu pasrah dan memerhatikan Caka yang terus melucuti satu persatu kain yang melekat di tubuhnya.


"Indah," ungkap pria itu, seraya membelai dada istrinya dengan punggung tangan. Sementara manik mata mereka terus beradu, El menutup matanya dengan pelan, saat ia mulai merasakan sebuah terpaan nafas yang memenuhi leher jenjangnya.


Dengan penuh gairah, Caka menyusuri kulit putih itu dengan lidahnya. Sesekali dia menghisap hingga menimbulkan bekas kemerahan yang nyata.


El mengerang, seraya menjambak rambut suaminya. Suara itu seperti melodi cinta, hingga Caka terlihat sangat menyukainya. Desis penuh nikmat menggelora, saat pria itu berhasil mengulumm pucuk itu dengan lembut.


"Ught, Kak! Kamu mempermainkanku." El semakin dibuat meremang, tetapi ia sama sekali tak melawan. Hingga tubuh perkasa itu membawanya berbaring di atas sofa. Caka mulai menunjukkan dirinya yang sebenarnya, pria itu segera mengambil posisi setelah membuang helaian kain ke sembarang arah.


"Jangan pikirkan apapun tentang orang lain. Di sini, hanya ada aku dan kamu, El. Selamanya aku akan mencintaimu. Meskipun kelak rumah tangga kita diterjang oleh ribuan gelombang, kita harus tetap berpegangan tangan, dan jangan pernah berani untuk turun dari kapal."


Kalimat terakhir Caka membuat El tergugah, ternyata pria itu tahu apa yang dirasakannya. Wanita itu mengulum senyum sambil menangkup wajah suaminya, sebelum akhirnya memekik karena Caka mulai menyatukan tubuh mereka.

__ADS_1


__ADS_2