
Sepasang gaun pengantin baik pria dan wanita telah El desain sendiri sejak jauh-jauh hari, dia benar-benar menyiapkan semuanya. Sebagaimana mimpinya untuk menikah dengan Caka. Dia juga diam-diam merancang gaun pernikahannya dengan pria itu.
Acara pernikahan antara El dan Caka akan diadakan di kediaman mempelai wanita. Yakni di mansion milik keluarga Tan. Mansion megah itu sudah disulap bak istana di negeri dongeng, seperti permintaan El.
Sejauh ini suasana terlihat kondusif, semua orang sibuk dengan tugas masing-masing, para pelayan hulu-hilir menyiapkan hidangan untuk para tamu undangan, sementara para penjaga berdiri di depan gerbang untuk menjaga keamanan.
Di kamar mempelai wanita.
El beberapa kali mengusap air mata yang terus menyambangi pipi mulusnya. Dia teringat akan pesan sang ayah, hingga sampai saat ini tangis itu belum bisa mereda.
Berkali-kali tim MUA meminta El untuk tidak menangis, tetap tetap saja semuanya percuma. El mencoba menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Dia mengambil beberapa carik tisu, lalu mengelap cairan bening itu dengan pelan.
"Kamu tidak boleh sedih, El. Karena hari ini adalah hari bahagiamu dengan Kak Caca."
El menghentikan isak tangisnya, dan mencoba untuk kembali tersenyum ceria. Hingga akhirnya tim MUA bisa segera menyelesaikan tugas mereka.
El terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Sementara kepala wanita itu dihias dengan mahkota tiara yang terlihat sangat mewah.
Suasana di luar sana terdengar semakin ramai. El menatap jam dinding yang berada di kamarnya, sebentar lagi acara sakral itu akan segera dimulai. Tiba-tiba Jennie datang, wanita itu tersenyum sumringah ke arah El, pertanda bahwa dia pun ikut bahagia.
__ADS_1
"El, ayo keluar. Kamu sudah ditunggu oleh semua orang," ucap Jennie sambil menepuk bahu sebelah kanan adik iparnya, dia terus tersenyum sambil memperhatikan pantulan wajah mereka di cermin. "Cantik sekali pengantinku." Puji Jennie, membuat El tersenyum tipis.
Sejujurnya El merasa khawatir, dia takut acara tersebut tidak berjalan dengan lancar. Namun, Jennie beberapa kali meyakinkan El, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kak."
"Ayo, El. Apalagi yang kamu tunggu? Pria yang kamu cintai sudah ada di luar sana."
Akhirnya El bangkit dengan penuh keyakinan. Dia keluar dari kamar dengan diapit oleh sang kakak ipar. Suasana kembali heboh, sementara beberapa dayang menabur kelopak bunga mawar di setiap langkah sang mempelai wanita.
Hingga El sampai di hadapan Caka. Wanita itu tersenyum bahagia, sungguh rasanya tak sabar ingin segera memeluk tubuh kekar sang pria dengan segenap cinta yang dia punya.
Tanpa membuang-buang waktu, akhirnya prosesi akad nikah pun dilakukan. Semuanya terasa begitu khidmat bercampur haru, apalagi saat Caka mengucapkan janji pernikahannya untuk El.
"Istriku," panggil Caka.
Dan El pun semakin tersenyum dengan rona merah di pipinya.
Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan, berupa pesan ayah untuk menantu laki-lakinya. Ken berdiri dengan tegak, sementara di sampingnya ada Zoya yang selalu menemaninya. Dia menatap lurus ke depan di mana Caka dan El berdiri berdampingan.
Seseorang memberikan mic pada Ken, dan pria paruh baya itu menerimanya dengan tangan gemetar. Dia melirik Zoya, wanita yang sangat dicintainya itu mengangguk. Memberi izin pada Ken untuk segera bicara.
Sekali lagi, Ken menatap putrinya yang begitu cantik mengenakan gaun pengantin. Ketegasan dalam wajah pria paruh baya itu tidak berubah. Dia menyapa semua orang hingga akhirnya, pesan itu tertuju untuk Caka.
__ADS_1
"Wahai ... Menantuku, pada hari ini aku telah menikahkan dirimu dengan putri tercintaku. Dan mulai hari ini pula, tanggung jawab untuk menafkahi, melindungi dan mengayomi putriku, ada pada dirimu," ucap Ken dengan bibir yang terus bergetar menahan tangis. Bahkan di ujung sana El sudah tidak mampu membendung air matanya, melihat Ken yang seperti itu.
Zoya mengusap salah satu bahu Ken. Pria itu kembali mengangkat kepala dengan bola mata yang sudah memerah. Di sana, semua orang, termasuk keempat putranya bisa melihat betapa sayangnya Ken terhadap adik bungsu mereka.
"Tapi satu yang harus kamu tahu, bahwa aku akan selalu mencintai dan menyayangi putriku, untuk seumur hidupku. Walaupun ia telah menjadi istrimu, tetapi selamanya ia tetap anak perempuan tercintaku. Malaikat kecil yang akan selalu aku jaga dengan segenap jiwa dan raga ...."
"Karena itu semua, pada hari ini, aku ingin menyampaikan beberapa pesan kepadamu. Termasuk pesan dari ibu putriku." Ken menjeda sejenak, para tamu undangan sudah begitu hanyut, hingga mereka semua ikut menangis.
Zoya kembali mengusap bahu Ken dengan air mata yang berjatuhan. Memberikan kekuatan pada pria paruh baya itu untuk melepaskan El menjadi istri Caka.
Ken sedikit mengelap pinggiran matanya dengan perlahan. "Dengan izin Tuhan, kami telah menerima dirimu sebagai menantu kami. Sebagai belahan jiwa dan kekasih hati putri kami. Dan sebagai anggota dari keluarga besar kami. Ketahuilah, wahai menantuku, selama putriku hidup bersama kami, bahkan sejak ia masih dalam kandungan, kami telah mencintainya. Kami telah menjaga dan melindunginya dengan segenap nyawa ...."
"Dan setelah ia lahir hingga dewasa, kami selalu mendampinginya, kami mendidiknya, kami mencukupinya, kami rawat dia dengan penuh tanggung jawab dan menyayanginya dengan segenap jiwa. Maka sungguh kami tidak rela siapapun menyakitinya, kami tidak rela siapapun membuatnya sengsara, termasuk kamu, wahai menantuku ...."
"Kami tidak rela jika engkau menyia-nyiakannya. Kami tidak rela jika engkau membuatnya menderita. Kami tidak rela jika engkau membuatnya terluka. Dan ingat satu hal, jangan pernah berlaku keras dan kasar kepadanya, karena kami tak pernah melakukannya ...."
"Kami mengerti, putri kami memiliki banyak sekali kekurangan dan kelemahan, sebagaimana dirimu. Namun, dengan kalian bersama tutupilah kekurangan dan kelemahannya ...."
Di tempatnya El terus sesenggukan, sementara tangannya sudah digenggam oleh Caka. Pria itu menatap sang ayah mertua yang menangis tersedu-sedu di pelukan istrinya. Dalam hati Caka, ia berjanji akan melakukan semua yang dipesankan oleh Ken kepadanya. Dia akan membahagiakan El, dengan cara yang baik, hingga membuat wanita itu bertahan di sisinya.
Ken mengangkat kepalanya lagi, padahal dia sudah merasa tak sanggup. Dia membiarkan semua orang melihat dirinya menangis bahagia, sebab telah menikahkan putrinya dengan pria pujaannya.
"Kepadamu, Caka Deehan Liem. Aku menitipkan putri tercintaku. Sayangi dia, cintai dia. Namun, bila memang kamu tak sanggup, cukup serahkan dia kembali padaku. Sungguh aku akan menerimanya."
__ADS_1
Huaaaaaaaaa!!!