
"AN!" teriak Jennie dengan ringisan karena merasa sudah tak tahan lagi, Aneeq terus menghajarnya tanpa ampun hingga menyisakan perih tetapi nikmat yang menjalar.
Jennie bergerak gelisah, sudah terhitung kini keempat kalinya mereka bercinta dan hendak meraih pelepasan. Wanita berdada besar itu sudah menyerah, bagi Jennie semua ini cukup untuk pagi pertama mereka.
Aneeq yang sedang berada di tengah-tengah buncahan gairah, tidak peduli pada pekikan Jennie. Dia terus memeluk kaki istrinya dan menghentak semakin keras, karena ledakan dahsyat yang kesekian kalinya akan segera tiba.
Kepala Jennie menggelegak dengan bola mata yang seolah tak mampu berkedip. Serangan Aneeq yang luar biasa tidak dapat dia hindarkan, karena semakin dia lawan, Aneeq malah bertindak semakin beringas.
Pria itu seolah tengah ditantang hingga dalam dirinya tumbuh rasa ingin melumpuhkan lawan, dan membuatnya bertekuk lutut. Itulah yang dirasakan Aneeq sekarang. Jennie sudah seperti ikan asin yang dibolak-balik agar cepat kering, lenguhannya tak dapat berhenti karena gerakan Aneeq yang terus menguasai dirinya.
"Eught!" lenguh wanita itu saat dirinya telah kembali mendapatkan pelepasan. Tubuhnya seperti ditarik dan patahkan, hingga terasa sangat lemas.
"An, cukup," lirih Jennie di antara nafasnya yang tersengal-sengal. Sementara dada Aneeq pun ikut naik turun, dia belum kehabisan tenaga, hingga ingin terus mengarungi bahtera nirwana bersama dengan istrinya.
Aneeq membuka kaki Jennie yang semula lurus dan dia peluk dengan erat. Tubuh Jennie yang terasa lemas Aneeq angkat, hingga membuat Jennie reflek mengalungkan kakinya di sepanjang pinggang Aneeq.
"An, kamu mau apa?" tanyanya dengan suara nyaris tak bertenaga. Bibir Jennie bergetar dengan netra yang sudah sayu, karena mereka sama sekali belum sarapan.
__ADS_1
Lagi-lagi Aneeq tak menjawab, tanpa melepas penyatuan dia menggendong tubuh Jennie seperti bayi koala dan merapatkan tubuh mereka ke dinding. "Kita coba gaya lain!" Ucap Aneeq dengan wajah menggoda.
Sepertinya Jennie tidak bisa menghentikan Aneeq begitu saja sebelum kepuasan pria itu dapatkan. Jennie hanya diam dan melingkarkan tangannya di leher Aneeq. Pria itu menunduk dengan sedikit kesusahan demi menggapai buah semangkanya.
Jennie melenguh meski diiringi ringisan kecil, karena sepertinya pucuk dadanya sudah terasa lecet akibat ulah Aneeq.
Pria itu menyesap dengan penuh nikmat, lalu kembali mengangkat kepala. Aneeq menyatukan kening dengan Jennie, hingga dapat wanita itu rasakan terpaan nafas yang begitu hangat menampar pipinya.
"I am very like you, Dear. You are so sexxy and so beautiful. This is wonderful," puji Aneeq dengan suaranya yang begitu khas di telinga Jennie. Sumpah demi apapun, Jennie tak sanggup lagi bicara karena tenggorokannya kering, tetapi sang suami belum juga puas menggagahinya.
Aneeq kembali bergerak, dan yang Jennie lakukan hanyalah mendesaah. Entah dari mana asal suara itu, mulutnya seolah reflek dengan gerakan tubuh Aneeq yang menghujamnya.
Pembalasan dendam yang begitu setimpal. Aneeq sungguh mengumpulkan tenaga hingga kesempatan ini datang. Aneeq memompa dengan kuat, membuat peluhnya semakin mengucur dengan deras membasahi keduanya.
Beruntung, kali ini tidak ada yang mengganggu kegiatan mereka, karena tadi pagi ketiga pria dewasa yang sudah mengerjai Aneeq diperintahkan oleh Ken dan Zoya untuk menjaga Ziel. Agar pria kecil itu tidak merengek meminta bertemu kedua orang tuanya.
Ken mengancam, kalau sampai mengganggu ketenangan si sulung. Maka nasib ular si kembar sebagai taruhannya. Mereka tidak tahu saja, Ken sengaja melakukan itu semua agar dirinya pun ikut fokus melakukan sesuatu yang menyenangkan dengan Zoya.
__ADS_1
"Daddy, ingat umur!" ucap Zoya mengingatkan suaminya, saat pria itu mengajak untuk melakukan yang tidak-tidak. Bahkan setelah sarapan pagi, Ken sudah bertelanjang dada, seolah memberi kode pada Zoya.
Ken memeluk tubuh Zoya yang terasa lebih langsing, dan membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita berkepala empat itu. "Mumpung di hotel, Sayang. Dan tidak ada yang mengganggu kita juga."
"Iya, tapi semalam encok Daddy kambuh."
"Itu tidak masalah, nanti aku bisa meminum obat."
"Obat terus, tidak bagus."
"Memang tidak bagus." Ken tersenyum mencurigakan. Zoya melirik suaminya dan langsung berusaha waspada. "Karena yang bagus itu cuma ini." Sambung Ken sambil memijat dua buah kesukaannya.
Plak!
__ADS_1