My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
Anaconda #6


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit. Zoya langsung mengajak Ken untuk pulang. Sebab dia tidak mau kalau suaminya kenapa-kenapa.


De mengantar kedua orang tuanya sampai di mobil, di sela-sela langkah mereka Zoya mengajak putra keempatnya itu bicara.


"Kamu dekat dengan dokter cantik itu, De?" tanya Zoya, yang membuat De mengangkat kepala. Tak hanya itu, Ken pun sedikit menengok ke belakang untuk menatap istrinya.


"Maksud, Mommy, Dokter Alana?"


Zoya langsung mengangguk sambil mengulum senyum.


"Dia terlihat menyukaimu."


"Tapi aku tidak menyukainya, Mom."


"Kamu memang tidak menyukai semua wanita, De!" timpal Ken yang mendengar pembicaraan ibu dan anak itu.


De langsung memutar bola matanya. Ibu dan ayahnya ini suka sekali menggodanya, padahal bukan hanya dia yang tidak memiliki pacar, kedua saudara kembarnya pun sama saja. Mereka masih sama-sama jomblo.


"Siapa bilang?"


"Daddy, sampai sekarang hanya kamu yang tidak mengenal wanita. Jangan sampai orang-orang mengecapmu tidak normal ya, De."


"Haish, Daddy ini bicara sembarangan. Tenang saja, sebentar lagi aku pasti akan memilikinya."


De mulai mengeluarkan suara ketus, sebab merasa kesal terhadap pemikiran ayahnya yang mengatakan ia tidak normal. Jelas-jelas ularnya masih bisa bangun, lalu apa yang perlu dikhawatirkan?


Zoya mengusap bahu De, agar pria itu kembali tenang. "Mommy dan Daddy akan menunggu kamu membawanya ke rumah. Asal kamu tahu, Bee sudah mulai dekat dengan seseorang. Dia berjanji untuk mengenalkannya pada Mommy."


Mendengar itu, kening De berkerut sebab Bee tidak pernah bercerita apa-apa.


"Benarkah? Siapa dia?"


"Tidak usah mengurusi orang lain, pikirkan saja nasibmu, Boy," timpal Ken lagi untuk mencibir putranya. Agar pria berjambang lebat itu sadar, bahwa usianya sudah cukup matang untuk menikah dan memiliki anak.


De hanya bisa mendengus, sementara Zoya mengulum senyum. Dia berharap semoga semua anak-anaknya memiliki pasangan yang baik, yang dapat menemani di kala suka dan duka.


"Mommy dan Daddy pulang dulu, kamu yang semangat, jangan galak-galak ke pasien, yang ada nanti mereka kabur," ucap Zoya meledek putranya.


Mendengar ucapan ibunya, De langsung tertegun. Dia malah jadi teringat gadis yang dia bawa semalam ke apartemen Aneeq. Gadis itu juga pernah mengatakan lelucon yang sama dengan ibunya.

__ADS_1


Tak ingin otaknya tercemar, dia langsung menggelengkan kepala. Apa-apaan, dia malah memikirkan sesuatu yang tidak penting.


"Iya, Mom. Mommy dan Daddy hati-hati."


Ken sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dengan dibantu oleh supir. Zoya mengangguk, lalu dia menyusul sang suami. Begitu Zoya sudah sukses duduk, Ken langsung menggelayut manja.


Akhirnya kendaraan roda empat itu melandas, meninggalkan kawasan rumah sakit menuju jalan raya.


"Baby," panggil Ken, merasakan lidahnya yang ingin mengecap sesuatu.


"Ada apa, Hubby?"


Ken mengangkat kepalanya dari bahu Zoya. "Aku mau rujak, Baby."


"Tapi perutmu kosong, Hubby."


"Aku benar-benar menginginkannya."


"Kamu mengidam?"


"Entahlah, Sayang. Aku ingin makan itu sekarang."


"Ya sudah, kita cari di sekitar sini yah."


Ken langsung mengangguk, dia kembali memeluk tubuh istrinya dan membenamkan wajah di dada. Dia benar-benar seperti bayi tua, sebab tidak akan ada yang mengalahkan manjanya Ken pada Zoya.


Wanita hamil itu pun meminta supir untuk sedikit mengurangi kecepatan. Agar ia bisa melihat pedagang rujak yang biasanya berjualan di pinggir jalan.


Matahari semakin beranjak naik ke singgasana. Namun, mobil itu masih berputar-putar. Hingga akhirnya mereka mengucap syukur, karena menemukan pedagang rujak keliling sedang mangkal di sisi jalan raya.


"Sayang, biarkan supir yang turun, kamu di sini saja denganku," ucap Ken, yang melihat Zoya sudah meraih handle pintu.


Zoya menghela nafas. "Baik, tapi aku mau tanya Jennie dulu, takut dia juga ingin beli."


"Tinggal beli saja beberapa bungkus."


"Siapa tahu dia mau request buahnya Daddy."


"Hem, baiklah."

__ADS_1


Akhirnya Zoya menghubungi Jennie, sementara sang supir sudah keluar untuk membeli rujak yang Ken inginkan.


"Halo, Jen. Mommy sedang di jalan, Daddy kebetulan ingin makan rujak, kamu mau tidak?"


Di ujung sana, Jennie langsung menelan ludah. Dia mengangguk antusias. "Mau, Mom. Tapi—"


"Tapi apa, Jen? Kamu mau request buahnya yah?"


Jennie menggeleng cepat, seolah Zoya tahu akan penolakannya. "Aku mau Aneeq yang beli, Mom."


Zoya terdiam. Dia tahu bagaimana hormon ibu hamil yang senantiasa ingin dimanja. Namun, masalahnya ini adalah kawasan yang cukup jauh dari perusahaan Aneeq.


"Tapi—"


"Tidak bisa ya, Mom? Kalau begitu tidak usah, biar aku makan yang lain saja."


"Eh, bukan begitu. Nanti biar Mommy yang bilang pada An yah."


Mendengar itu, Jennie langsung berubah berbinar. Dia sangat senang karena sang mertua mau membantunya. Akhirnya panggilan itu ditutup berganti dengan Zoya yang menghubungi putranya.


"Halo, An."


"Halo, Mom ada apa?"


"An, katanya istrimu mau rujak—"


"Iya tidak apa-apa, Mom. Kasih sajalah."


"Lho, tapi katanya dia ingin kamu yang membelinya."


Kening Aneeq berkerut. "Apa bedanya, Mom? Siapa yang beli kan sama saja."


"Bedalah, An. Ini bawaan bayi."


Zoya dapat mendengar Aneeq berdecak. Membuat ia merasa sedikit kesal, karena sang anak terlihat ogah-ogahan.


"Jangan mau enaknya saja, An. Dia itu butuh dimanja."


"Iya, Mom. Tapi masalahnya aku sedang di luar kota, bagaimana bisa aku pulang hanya untuk membeli rujak."

__ADS_1


Hah?


__ADS_2