My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 88


__ADS_3

"Kalau kamu diam, aku artikan iya. Kamu ingin aku melupakan semuanya? Baik, akan aku kabulkan semua permintaanmu, aku akan berhenti mengejarmu, berhenti mengganggumu, aku akan berhenti mencintaimu mulai detik ini. Sekarang biarkan aku pergi, kamu tidak perlu meminta maaf! Aku sadar, aku yang salah terlalu mengharapkanmu, pria yang bahkan tidak menginginkanku sama sekali," sambung El, di saat Caka masih membisu.


Dia ingin menguji perasaan Caka, berpura-pura acuh, padahal ia sangat berharap setelah ini Caka akan mengungkapkan perasaannya.


Wanita cantik itu membalik tubuhnya, meski merasa ragu, tetapi El memberanikan diri untuk meninggalkan tempat itu.


Tenang saja, El. Kak Caca pasti mengerjarmu. Batin wanita itu penuh percaya diri, dia melangkah pendek-pendek, masih menunggu sang pria keluar dari persembunyiannya.


Hingga sampai di ambang pintu, El belum merasakan pergerakan di belakang tubuhnya. El mulai gelisah, tingkat kepercayaan dirinya tiba-tiba menurun, karena merasa Caka memang benar-benar tidak menyukainya.


Benarkah dia harus berhenti memperjuangkan cintanya?


Pelan, El memegang gagang pintu, dia menarik nafasnya dalam-dalam. Yah, sepertinya dia harus merelakan Caka. El memutar gagang tersebut, sudah pasrah akan takdirnya.


Tiba-tiba kedua matanya menganak sungai, El merasakan sesak yang tiada tara. Dia tidak bisa menjilat ludahnya sendiri, ia yakin ada seseorang yang akan lebih baik dari Caka.


Pintu hampir saja terbuka, tetapi entah gerakan secepat apa yang dilakukan oleh pria yang ada di belakang sana. Hingga tanpa terasa, kini El sudah ditarik mundur dan dipeluk erat oleh Caka.


Tak peduli pada dirinya yang belum memakai celana, Caka terus mengeratkan pelukannya, menghentikan El yang hendak melangkah.


Semua ucapan wanita itu menusuk ke ulu hatinya. Caka tidak mau El berpaling, dia akan tetap suka bagaimana pun El memperlakukannya, tetapi untuk pengakuan itu, Caka tidak bisa melakukannya sekarang, dia terlalu takut akan sebuah penolakan.


"Maafkan aku, El," lirih Caka dengan nafas yang tertahan. Untuk pertama kalinya, dia memanggil wanita yang dicintainya tanpa embel-embel Nona.


Mendengar itu, El mematung, dia semakin terisak-isak, karena apa yang ia harapkan benar-benar terjadi, Caka mengejar dirinya.

__ADS_1


Padahal dia sudah sangat cemas, takut rencana kecil itu tidak akan berhasil, tetapi ternyata Tuhan merestui mereka.


"Aku tidak mau kamu berubah, aku ingin kamu tetap menggangguku, mengejarku dan mencintaiku!" sambung Caka, tak peduli pada benda gondal-gandul yang sudah kembali turun.


Bibir El bergetar hebat.


"Kamu bohong? Kamu bicara seperti itu karena hanya ingin menyenangkan aku, 'kan?" cetus El, ingin Caka lebih banyak bicara, dan mengeluarkan seluruh isi hatinya.


El harus pandai memancing pria satu ini, agar Caka tidak lagi menjadi pria pengecut yang selalu menyembunyikan perasaannya.


Caka menggeleng cepat, sebab apa yang dia rencanakan untuk melamar El secara diam-diam terancam gagal. Wanita satu ini butuh kepastian, meski hanya sebatas sebuah pengakuan.


"Aku tidak berbohong, El. Jangan pernah berani selangkah pun meninggalkan aku," ucap Caka sungguh-sungguh.


"Tidak, tidak boleh! Kamu harus tetap mencintaiku. Dan aku jamin, kamu tidak akan merasakan itu semua."


"Apa jaminannya? Sedangkan kamu menyatakan cinta saja tidak. Apa yang harus aku pegang?" tanya El sesenggukan, dia sedang memainkan drama, agar Caka terus membujuknya.


Padahal dalam hati dia ingin tertawa, menertawai posisi mereka saat ini. Bayangkan saja, Caka belum memakai celana, sementara pembahasan mereka sangat serius, bahkan ia sampai berderai air mata.


Merasakan bahwa Caka hanya terdiam, El meronta-ronta. "Lepaskan aku, kalau kamu memang tidak bisa mengatakannya!" Ketus El dengan suara yang meninggi, seakan-akan dia sudah sangat muak dengan situasi ini.


"El!"


"Lepas, Kak!" teriak wanita itu.

__ADS_1


Namun, Caka tetap mempertahankan posisi mereka. Dia sama sekali tak mengizinkan El lepas dari dekapannya.


"Aku tidak akan melepaskanmu, El."


Tangis El semakin pecah.


"Kamu seperti ini hanya akan menyiksaku. Jadi tolong, lepaskan aku!" geram El, dia meronta-ronta dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya pelukan Caka terlepas, tetapi bukan berarti wanita itu bisa pergi begitu saja.


Sebab Caka malah menggiring tubuh proporsional itu ke arah ranjang. Hingga tubuh mereka terbanting. "Aku harap kamu bisa mengerti perasaanku, tanpa aku harus mengatakannya!"


Cup!


Baru saja Caka melumaat bibir El, pintu kamar itu malah diketuk oleh Siska.


"Ca, El, kalian sedang apa? Kami sampai bosan menunggu kalian berdua."


Ah!


*


*


*


"Eh itu suara apa?"

__ADS_1


__ADS_2