
Malam itu, kebahagiaan El dan Caka terasa semakin sempurna, karena El dinyatakan hamil, itu artinya mereka berdua akan segera menjadi orang tua.
"Aku bahagia sekali, El," ujar Caka dengan senyum yang tak tertanggal sedikitpun, bahkan kini bola matanya memanas karena merasa haru, usahanya selama ini tidak sia-sia.
"Iya, Kak, aku juga sangat bahagia mengetahui kabar ini. Kamu tahu, tadi pagi aku muntah-muntah, aku kira masuk angin, dan ternyata setelah aku memeriksakannya, aku hamil," jelas El, kedua tangannya kini melingkar di sepanjang pinggang Caka.
Sebab pria itu langsung memeluk tubuh El dan menguapkan semua rasa syukurnya.
"Sehat-sehat ya, Sayang. Supaya baby kita juga sehat."
El menganggukkan kepala, Caka langsung menghadiahkan kecupan dalam di puncak kepala wanita itu. Sumpah demi apapun, dia teramat bahagia dengan kabar ini, sebab apa yang mereka nanti akhirnya datang jua.
El—wanita bak barbie hidup itu, hamil buah cintanya.
"Sayang, kapan kita akan memberitahu para penghuni mansion?" tanya Caka, wajah pria itu terlihat sangat sumringah, dan El sangat menyukainya.
"Besok malam, Kak. Katanya Kak De dan istrinya akan datang, saat semua keluarga berkumpul kita beritahu kabar baik ini, bahwa di dalam perutku sudah ada bayi kecil milikmu," jawab El, karena sebelumnya, istri De mengatakan bahwa mereka akan datang besok malam.
"Baiklah, kalau begitu sekarang kita pulang. Aku tidak ingin kamu kedinginan karena terlalu lama di luar."
Caka menggenggam erat tangan El untuk keluar dari restoran. Bahkan selama menyetir, tak henti-hentinya Caka mengelus perut rata El, seolah tengah berinteraksi dengan calon anaknya.
"Usaha kita tidak sia-sia," ucap Caka setengah berbisik, membuat El terkekeh.
"Iya, tapi itu artinya kita tidak bisa mencicil lagi."
"Kata siapa?"
__ADS_1
"Bukankah semuanya sudah jadi?"
Caka tersenyum tipis, dengan sorot mata yang tak dapat El artikan.
"Habis ini kita fokus membesarkannya."
Hah?
***
Pagi datang. El bersiap-siap seperti biasa, karena dia masih ingin bekerja. Padahal Caka sudah melarangnya, tetapi sang istri selalu merengek, takut bosan di rumah.
"Lagi pula aku hanya duduk di sana, Kak. Pekerjaanku tidak berat."
"Tetap saja, El."
"Iya tahu, Sayang, aku hanya takut terjadi sesuatu padamu." Caka memegang kedua bahu El, tetapi wanita itu langsung menepisnya, dan berganti memeluk pinggang Caka.
"Tidak akan. Boleh yah?"
El memasang wajah seimut mungkin untuk memikat Caka. Helaan nafas terdengar, pertanda Caka mengalah. El pun mengulum senyum, dia segera mengecup bibir suaminya, sebagai tanda terima kasih karena sudah diizinkan untuk pergi bekerja.
Akhirnya kedua orang itu berpisah, El pergi ke butik, sedangkan Caka pergi ke perusahaan dengan Aneeq.
Sampai di tempat kerja, El langsung naik ke atas ruangannya. Wanita itu senantiasa tersenyum sumringah, membuat dia terlihat semakin cantik.
"Nona," panggil Lily. El menoleh dan membalas sapaan asistennya itu.
__ADS_1
"Hai, Li."
"Bagaimana dengan kejutannya? Apakah sukses?"
El mengangguk.
"Sangat sukses, Suamiku langsung terharu, dia terlihat bahagia sekali, Li, dengan kabar kehamilanku."
Mendengar itu, Lily pun ikut merasa senang, dia mengelus lengan El dengan lembut sambil berkata. "Sekali lagi selamat ya, Nona."
"Iya, Li. Terima kasih, bilang juga pada seluruh karyawan, hari ini makan siang biar aku traktir."
"Wah benarkah?"
"Tentu saja. Sebagai wujud rasa syukurku dan Kak Caca."
"Baiklah, Nona. Saya kabarkan mereka dulu yah."
El mengangguk sambil tersenyum tipis, dia meneruskan langkah untuk masuk ke dalam ruangannya. Namun, gerakannya yang begitu tiba-tiba membuat El menabrak seorang cleaning servis yang tengah membawa minuman di tangannya.
Gelas itu pecah dengan air yang tumpah ke mana-mana, sementara El yang tak dapat mengimbangi bobot tubuhnya terpeleset dan jatuh dengan rasa sakit yang menghantam perutnya.
"Aw!"
***
Cari gara-gara dah🙄
__ADS_1