My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 138


__ADS_3

Setelah selesai bicara, Jennie langsung bangkit dan berlari ke arah tangga. Dia hendak menyusul ke kamar Zoya untuk bertemu dengan Ziel. Dalam beberapa kali ketukan pintu sudah terbuka, Jennie langsung menghambur memeluk tubuh mungil putranya.


Dia memeluk Ziel dengan sangat erat. Sementara rasa sakit tentang kehilangan mulai menyapa hatinya. Jennie kembali menangis, dia terus sesenggukan sambil mengusap puncak kepala Ziel.


"Percayalah, Boy. Mommy akan selalu menyayangimu. Apapun yang terjadi Ziel adalah anak Mommy," ucapnya terus berusaha meyakinkan diri, bahwa dia mampu untuk ikhlas.


Ziel yang tak mengerti dengan sikap ibunya hanya bisa membalas pelukan Jennie tak kalah eratnya. "Ziel juga sayang sama Mommy. Sampai kapanpun, Mommy adalah Mommy yang hebat untuk Ziel." Ujar pria kecil itu dengan tulus.


Tak hanya tangis Jennie yang pecah, tetapi Zoya juga ikut merasa haru dengan pemandangan yang ada di depan matanya. Dia beberapa kali mengusap pipinya yang basah. Dia tahu bagaimana terpukulnya Jennie, sungguh memang rasanya sangat sulit untuk menerima semua ini.


Jennie mengangguk-anggukan kepalanya. Dia menatap sekeliling, tiba-tiba bayangan tentang dirinya dan Ziel berkelebat. Namun, dia bisa apa? Di saat takdir telah mempermainkan rasa sabarnya. Dia bahkan rela melepaskan Michael yang tak bisa menerima anak asuh mereka. Tidak cukupkah itu semua menjadi bukti bahwa dia sangat menyayangi putranya?


"I love you, Boy. I love you so much, you are my everything," ungkap Jennie sambil mengelus punggung Ziel dengan lembut.


Pelan, Zoya mendekat ke arah Jennie, membuat Ziel menatapnya. Zoya bisa melihat banyak sekali pertanyaan yang bercokol di kepala bocah tampan itu. Zoya berusaha tersenyum, lalu dia menganggukkan kepala.

__ADS_1


Seperti sebuah kode, Ziel menarik tubuhnya untuk memberi jarak. Dia menatap Jennie yang terus menangis dan mengahapus air mata ibunya itu. Namun, semua itu tak serta merta membuat Jennie tenang, dia malah semakin menangis mendapati perlakuan manis putranya dan kembali sesenggukan.


"Mommy jangan menangis terus, kan ada Ziel di sini. Kalau Daddy nakal, Mommy tinggal bilang saja pada Ziel. Nanti Ziel yang akan memberi pelajaran pada Daddy." Jennie terdiam, tiba-tiba dia merasakan sebuah kecupan manis di keningnya.


Sepasang mata Jennie sedikit tertutup, lalu kembali terbuka saat Ziel menangkup kedua sisi wajahnya. "I love you more, Mommy."


Sejurus dengan itu, Jennie kembali menarik tubuh Ziel untuk masuk ke dalam dekapannya. Memeluk pria kecil itu dengan erat dan seluruh cinta yang dia punya. Sementara di ambang pintu, Aneeq hanya bisa menonton pemandangan menyedihkan itu. Dia tidak mau mendekat, sebab dia tengah memberi Jennie dan Ziel waktu.


***


Rumah sakit Puri Medika.


Sampel darah telah diambil dan akan diuji di laboratorium. Dan sekitar dua hari lagi mereka akan mengetahui hasilnya.


Jennie tak bisa memungkiri, saat ia tak sengaja menatap wajah Malvin. Dia bisa melihat wajah pria kecilnya. Sadar atau tidak, mereka memang bak pinang dibelah dua.

__ADS_1


Jennie menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Mulai saat ini, dia akan terus menanamkan keikhlasan di hatinya. Sebagaimana pesan Aneeq, saat mereka bicara.


Hari telah berlalu, semua keluarga Tan berkumpul di ruang keluarga, bersama Malvin dan Selena. Hasil tes DNA sudah ada di tangan Aneeq, tepat pada hari ini mereka semua akan tahu siapa sebenarnya orang tua kandung dari Ziel.


Aneeq menggenggam tangan Jennie yang duduk di sampingnya. Wanita berdada besar itu tersenyum, meski terlihat kurang sehat. Bahkan dia meringis dengan sedikit kernyitan yang memenuhi dahinya.


"Sayang, ada apa?" tanya Aneeq mendadak cemas, tetapi Jennie malah menggeleng. Memberi tanda bahwa dia baik-baik saja. Aneeq hendak mengelak, tetapi Jennie terus meyakinkan suaminya.


"Aku tidak apa-apa, percayalah."


Akhirnya Aneeq menghela nafas pasrah. Dia kembali fokus pada amplop putih yang ada di tangannya. Semua orang terlihat menunggu dengan harap-harap cemas, sementara Aneeq sedang membukanya secara perlahan.


Hingga secarik kertas berlipat itu dapat ia buka dan ia baca dengan seksama. Aneeq menarik nafas dan menutup matanya sejenak, dia kembali menggenggam tangan istrinya dengan erat. Lalu menatap semua orang, terutama pria kecil yang terus menunjukkan wajah polosnya.


Tiba-tiba mata Aneeq berkaca-kaca. Sementara lidahnya benar-benar kelu untuk bicara. "Hasilnya, positif." Ucap Aneeq terbata. Sementara dia merasakan cengkraman kuat di tangannya, lalu tiba-tiba cengkraman itu berubah melemah.

__ADS_1


Deg!


"Jen!" teriak Aneeq yang terkejut sebab tiba-tiba sang istri jatuh pingsan.


__ADS_2