
Hari yang dilewati oleh kedua calon pengantin itu terasa lebih lambat. Perputarannya membuat mereka tak sabar, dengan debar di dada yang begitu menggelora. Namun, walaupun demikian akhirnya hari spesial itu datang juga.
Hari di mana sepasang manusia akan mengesahkan hubungan mereka. El bangun dengan tersenyum ceria, dia begitu bahagia sebab sebentar lagi Caka akan menjadi suaminya.
Dia akan melepas masa lajang dan menikah dengan pria yang sejak dulu bersemayam di hatinya. Bibir itu terus melengkung dengan binar mata yang begitu indah. El membuka jendela kamarnya dan menatap suasana di luar sana.
Langit dan matahari terlihat sangat cerah, seolah ikut merestui acara mereka. El menoleh ke arah pintu saat benda tersebut diketuk dari luar. Wanita bak barbie hidup itu melangkah dengan sedikit tergesa lalu membuka pintu.
"Daddy?" panggil El dengan mata sedikit membola.
Ken tersenyum tipis. "Boleh Daddy masuk?" Tanyanya meminta izin.
"Dengan senang hati," jawab El tersenyum sambil membuka pintu lebar-lebar. Dia membiarkan sang ayah masuk ke dalam kamarnya. Mereka duduk berdampingan di sofa, Ken terlihat sudah segar bugar, sebab dia dan Zoya sudah mandi bersama sejak hari masih gelap.
__ADS_1
"El," panggil Ken, lalu menatap putri satu-satunya itu. Ada rasa haru, bercampur bahagia di mata pria paruh baya itu saat memerhatikan El yang terus tersenyum cerah.
"Ada apa, Dad? Kenapa Daddy menatapku seperti itu?" tanya El membalas tatapan Ken yang terasa berbeda. Bahkan kini pria berkepala enam itu sudah berkaca-kaca. Tangan Ken terangkat untuk membelai rambut putrinya. Sebuah sentuhan lembut menandakan betapa sayangnya Ken kepada El.
"Tidak terasa, putri Daddy sudah dewasa, bahkan sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri," ucap Ken dengan bibir yang bergetar. Dia begitu bersyukur putrinya tidak menanggung dosa yang telah dia perbuat di masa lalu, Tuhan maha baik sebab El masih terjaga meski wanita itu kerap bersikap bar-bar dan jauh dari sifat kemayu seperti kebanyakan wanita di luar sana.
Dia tidak gagal 'kan sebagai seorang ayah?
"Iya, dan sebentar lagi Daddy akan menggendong anak El," jawab wanita cantik itu berusaha untuk menahan air matanya yang hampir tumpah, sebab El sudah berkaca-kaca.
"Daddy sudah tidak sabar menantikannya. Tapi sebelum itu, El dengarkan dulu pesan Daddy," ujar Ken sambil menyelipkan anak rambut El ke belakang telinga.
El bergeming dengan bola mata yang sudah memerah, mendadak suasana di sekitar mereka berubah sangat serius.
__ADS_1
"Daddy minta, patuhi semua perintah suamimu selagi itu benar. Jangan pernah membangkang ucapannya sekalipun kalian sedang marah. Kamu harus tetap melakukan apa yang menjadi kewajibanmu, karena terkadang semua itu akan menjadi alasan yang membuat suamimu luluh. Amarah di dadanya akan melebur, saat kamu menyiramnya dengan kesabaran. Sama seperti Mommy saat menghadapi Daddy, dia wanita hebat El. Banyaklah mencontoh darinya ...."
"Dan satu hal yang akan Daddy perbolehkan, jika memang suamimu kelak berbuat macam-macam sampai batas wajar, bilang pada Daddy. Jangan menghadapinya sendirian, karena ada Daddy di belakangmu. Karena sampai kapanpun, El adalah putri yang paling Daddy cinta. Wanita kedua setelah Mommy," papar Ken dengan suaranya yang terdengar begitu lembut, Ken terus menatap manik mata El, putri yang telah Zoya lahirkan, dan menjadi satu-satunya cicit perempuan di keluarga Tan.
Sebaliknya, selagi Ken bicara El terus menatap pria paruh baya itu. Dia menggenggam tangan Ken yang terus mengelus puncak kepalanya dengan sayang. Dan setiap perkataan Ken, mampu membuat air mata El tak terbendung, untuk kesekian kalinya dia baru menangis lagi, karena merasa terharu dengan pesan ayahnya.
"I love you, My Princess," ungkap Ken lagi membuat El tak tahan dan segera memeluk tubuh sang ayah dengan sangat erat. El sesenggukan dengan bibir yang terus bergetar.
"I love you more. Aku akan mencintaimu sepanjang usiaku, because you are my first love," balas El sesuai dengan isi hatinya. Ken adalah segalanya, cinta pertama yang mengenalkan ia pada dunia.
Sejak kecil dia tidak pernah lepas dari namanya kata "ayah" di mana dia membutuhkan sesuatu, pasti satu kata itu yang terucap dari bibirnya. Dan sampai sekarang, sampai dia besar Ken tetap memanjakannya. Selalu menganggap dirinya seperti anak kecil yang belum mampu untuk melakukan apa-apa.
Bagi Ken, untuk semua anaknya, terlebih wanita yang ada dalam pelukannya. Tidak ada kata dewasa.
__ADS_1
"Selamat berbahagia ya, El. Selamat karena kamu dapat menikah dengan pria yang kamu cintai," ucap Ken, membuat tangis El semakin pecah, sementara kenangan bersama Ken terus berputar di otaknya.
Ken adalah ayah yang hebat, tidak ada rasa cinta yang sia-sia dari pria paruh baya itu. Bahkan jika dia bisa memilih siapa yang akan menjadi ayahnya, El akan tetap memilih Ken.