
"Awas kalau sampai ada apa-apa dengan adikku! Ku bunuh kamu, Ca," ketus Aneeq memberi ancaman, rahangnya mengeras dengan sorot mata menyalang. m
Meski dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh Caka dan El karena kaca mobil yang tidak tembus pandang.
Namun, Aneeq sangat yakin, dari raut wajah Caka, juga peluh yang menderas dari kening pria itu, pasti mereka habis melakukan sesuatu, apalagi sang asisten begitu lama saat membuka pintu.
Bagaimana tidak lama? Caka harus memakai kemeja dan jasnya, tak lupa dia juga harus membenahi pakaian El yang setengahnya sudah terbuka. Dia melakukannya dengan terburu-buru, hingga kancing bajunya terlihat asal-asalan, dan hal itu semakin menambah kecurigaan.
Caka hanya bisa bergeming, berkelit pun rasanya percuma. Karena dia tahu, Aneeq tidak akan percaya begitu saja pada dirinya. Kini, dia hanya fokus menyetir menuju kediaman keluarga Tan.
Sementara di belakang sana, El sudah terlelap dalam pelukan Aneeq. Wanita itu sedari tadi juga merancau, tetapi tidak terlalu jelas, hingga akhirnya tubuh El ambruk.
Sebelum kejadian itu, awalnya Aneeq ingin mengobrol dengan Andreas. Namun,dia khawatir pada sang adik, karena pasti El akan mendapat amukan dari Zoya. Aneeq takut El malah membawa-bawa dirinya, juga tentang Jennie dan Ziel.
Hingga dia memutuskan untuk menyusul, tetapi saat dia ingin memastikan bahwa mobil yang dikendarai oleh Caka itu sudah melandas. Dia malah dibuat terkejut, karena ternyata mobil tersebut masih setia berada di tempatnya.
Aneeq melebarkan kelopak matanya, merasa curiga akhirnya dia mengetuk pintu mobil tersebut. Dari situasi yang dia lihat, mobil itu tak bergerak. Dia tahu Caka tidak mungkin sampai melakukan hal senonoh dengan adiknya, tetapi demi keselamatan El, Aneeq sampai mengancam pria itu.
Dia juga tahu, kalau sebenarnya Caka sudah menaruh hati pada sang adik, tetapi masih belum mau mengakuinya. Naluri seorang pria, rasa ego bercampur fakta, memang tidak bisa dihindari, Aneeq tahu semuanya.
Hingga saat pertengahan jalan, Aneeq menghentikan mobil tersebut. "Ca, stop!" Ujarnya tiba-tiba. Caka menoleh ke belakang, tak langsung melakukan perintah sang tuan.
__ADS_1
"Ca, kubilang stop!"
Mendengar perintah yang kedua kali, Caka akhirnya menepikan mobil tersebut. Aneeq turun, membuat Caka mengerutkan dahi, apa yang sebenarnya akan Aneeq lakukan? Aneeq mengetuk kaca mobil, Caka membukanya hingga mereka saling berhadapan.
"Bawa pulang El. Bilang pada Mommy kalau kalian habis pergi. Biar aku naik taksi," ucap Aneeq lagi-lagi memberi perintah. Mencari alasan untuk menghindari kecurigaan Zoya.
"Tapi, Tuan_"
"Jangan membantah, apa kamu mau Mommy dan Daddyku tahu apa yang kalian lakukan? Kalau iya, siap-siap saja kamu dihajar oleh mereka," tukas Aneeq dengan mata menyalang.
Caka bungkam, dia hanya bisa meneguk ludah dan akhirnya mengangguk. Aneeq langsung pergi mencari taksi, sementara Caka kembali melandaskan kendaraan roda empat itu.
Hingga selang beberapa waktu kemudian akhirnya dia dan El sampai di mansion milik keluarga Tan. Caka terlihat ragu, dia melihat ke kursi penumpang, di mana El berada. Dia hanya bisa tersenyum getir, lalu keluar.
Melihat Caka yang menggendong El, lantas Zoya menurunkan kakinya, lalu buru-buru menghampiri kedua orang itu, sementara Ken hanya mengekor.
"Ca, El kenapa?" tanya wanita itu terlihat cemas, Ken memegangi pundak Zoya, agar wanita itu bicara dengan tenang.
"Maaf, Nyonya. Tadi sebenarnya El pergi bersama saya. Kita habis makan malam, saya mengajaknya pulang karena dia sudah terlihat mengantuk, ternyata benar, di mobil dia tidur," jawab Caka bohong, tetapi dia tidak terlihat gugup sama sekali, membuat Zoya dan Ken mencoba untuk percaya.
"Lalu An ke mana?" tanya Zoya lagi, kenapa si sulung tidak pulang ke rumah, kalau memang tidak ada pekerjaan?
__ADS_1
"Tuan Aneeq ada meeting dengan klien di luar. Dia membiarkan saya pergi bersama El, karena saya sudah janjian dengannya. Makanya Tuan Aneeq tidak menghalangi saya, sebentar lagi dia juga pulang." Caka sudah terlihat keberatan menahan beban yang dia bawa. Dan itu semua disadari oleh Ken.
"Siapa kliennya?"
"Baby, Caka sudah terlihat keberatan, tubuh El itu tidak seringan yang kamu bayangkan," potong Ken, menghalau Zoya yang terus bertanya. Wanita cantik itu tampak nyengir, lupa kalau Caka sedang menggendong Barbie hidup yang memiliki bobot karung beras.
"Eh ya sudah. Saya minta tolong ya, Caka. Bawa El ke kamar, anak ini memang merepotkan. Sama Daddy-nya juga suka begitu," ucap Zoya sambil terkekeh.
Caka ikut tersenyum dengan menahan beban, dia lantas melenggang ke kamar El, setelah mendapat persetujuan dari Zoya dan Ken. Sementara dua orang itu kembali ke ruang tv, dengan Zoya yang minta digendong oleh sang suami, digendong ala bayi koala.
Caka langsung membaringkan tubuh El di atas ranjang. Menarik selimut untuk menutupi lekuk yang sempat dia nikmati. Caka mengulum senyum tipis, sebelum beranjak dia memberanikan diri untuk mengecup kening sang wanita.
"Maafkan aku, El. Aku hampir saja melakukan kesalahan. Tunggu aku yah, aku akan memantaskan diri agar bisa bersanding denganmu. Apapun akan aku lakukan, asal kamu sabar," ucap Caka sambil menggenggam salah satu tangan El.
Sekali lagi, Caka meninggalkan kecupan di sana. Lalu melangkah untuk keluar, karena dia tidak bisa berlama-lama. Saat pintu kamar itu tertutup, El terlihat menggeliat. "Kak Caca ...."
*
*
*
__ADS_1
Visual semuanya di Ig ngothor yeee @nitamelia05 🍉🐍