My Sexy Secretary

My Sexy Secretary
MSS 93


__ADS_3

Bagai sayur tanpa garam. Mungkin istilah itu yang cocok untuk menggambarkan hubungan Aneeq dan Jennie sekarang, mereka tak lagi bicara setelah selesai membahas pekerjaan, seolah ada dinding tak kasat mata yang mulai terbangun.


Jennie semakin merasa bahwa Aneeq telah menjauh darinya. Meski raga mereka dekat, tetapi sebagian jiwanya seolah hilang. Wanita itu mulai memiliki seonggok rindu untuk pria yang sedang membetulkan dasinya itu.


Hari ini Aneeq akan pergi menemui klien penting. Namun, entah kenapa dalam kesempatan ini, Aneeq tidak mengajak Jennie bersamanya. Jennie terdiam, tiba-tiba dadanya bergemuruh, menyadari bahwa Aneeq mulai mengabaikannya.


Jennie menyelipkan rambut ke belakang telinga, sementara kedua mata wanita itu sudah berkaca-kaca. Dia mencari objek lain, agar Aneeq tidak perlu melihat dirinya yang seperti ini.


Namun, sungguh hati tak bisa bohong. Pandangan mata wanita itu tak bisa lepas dari tubuh kekar yang sudah melangkah menuju ambang pintu.


Jennie memberanikan diri untuk bangkit dari kursi, tubuhnya gemetar tetapi ia tidak peduli.


Sebelum benar-benar keluar, langkah Aneeq tercekal dan ia dihadapkan oleh sebuah pertanyaan.


"Kenapa? Kenapa kamu berubah?"


Deg!


Aneeq langsung menghentikan laju kakinya dan menelan salivanya susah payah. Jangan kira Aneeq tidak tersiksa dengan perasaannya, bahkan setiap malam tidurnya tidak pernah tenang.


Aneeq merasa semakin dia mengejar Jennie, rasanya wanita itu malah semakin terasa jauh.


Aneeq menoleh sedikit, ia bisa melihat Jennie yang mematung dengan bola mata yang sudah menganak sungai, membuat hati Aneeq semakin berdenyut-denyut.


Ingin sekali rasanya ia memutar badan dan langsung memeluk tubuh Jennie, tetapi nyatanya dia tidak bisa melakukan itu semua. Aneeq tidak bisa membatalkan pertemuan ini, karena nama baik perusahaan yang akan menjadi taruhannya.


"Aku pergi dulu, setelah ini kita akan bicara," ucap Aneeq.


Mendengar itu, tubuh Jennie terasa lemas. Dia membuang pandangannya dengan air mata yang tiba-tiba luruh. Aneeq benar-benar sudah tidak seperti dulu.

__ADS_1


*


*


*


Tiba-tiba perasaan Aneeq tidak tenang, pria itu terus memikirkan Jennie. Ditambah pertanyaan wanita itu yang terus berdengung di telinganya. Gerakan tubuh Aneeq mengisyaratkan kegelisahan yang luar biasa.


Aneeq berulang kali memijat pelipisnya, mencoba untuk konsentrasi. Beruntung kliennya memaklumi, karena ia beralasan sedang sakit kepala.


Astaga, aku benar-benar tidak bisa fokus, kenapa perasaanku tidak enak? Ada apa sebenarnya?


Aneeq bermonolog dengan batinnya sendiri, untuk seumur hidupnya, ia baru pernah merasakan perasaan ini, dia benar-benar tidak bisa duduk dengan tenang, raganya memang di sini, tetapi otaknya malah memikirkan seseorang yang berada di perusahaan.


"Kalau anda memang tidak bisa melanjutkan pembahasan ini, lebih baik kita ambil lain hari, Tuan An," ucap pria dengan tatapan teduh itu.


"Apa bisa seperti itu?" tanya Aneeq pada kliennya.


Mendengar itu, Aneeq mengulum senyum, ia merasa lega karena pria itu dapat bernegosiasi dengannya. "Baiklah kalau begitu."


Pertemuan mereka berakhir tanpa ada hasil, tetapi Aneeq malah bersyukur, dengan rasa tak sabar, ia meminta Caka untuk mengendarai mobil untuk kembali ke perusahaan.


Ia ingin segera bicara empat mata dengan Jennie, Aneeq harap kali ini wanita itu mengungkapkan perasaannya.


Tanpa menunggu lama mobil mewah itu sudah sampai di basemen perusahaan. Aneeq keluar dan berlari untuk menuju ruangannya. Bahkan ia menekan tombol lift dengan terburu-buru, seolah berkejaran dengan waktu.


Senyum Aneeq mengembang begitu pintu ruangannya sudah terlihat di depan mata. Tanpa ba bi bu ia langsung masuk begitu saja, tetapi detik selanjutnya senyum Aneeq sirna, karena tidak mendapati Jennie di sana.


"Ke mana dia?" gumam Aneeq, kakinya semakin melangkah masuk, ia menelisik setiap sudut, hingga sampai kamar mandi, Aneeq belum bisa menemukan Jennie.

__ADS_1


"Jen, kamu di mana?" teriak Aneeq.


Namun, sampai beberapa kali ia memanggil nama wanita yang dicintainya, Aneeq sama sekali tidak mendapat sahutan. Perasaan Aneeq semakin bertambah kalut, ia mencoba menghubungi Jennie, lalu kembali turun ke bawah.


"Tuan, ada apa?" tanya Caka saat berpapasan dengan Aneeq yang terlihat sangat gelisah.


"Ca, Jennie tidak ada di ruanganku. Cepat cari dia!" cetus Aneeq, ia kembali melangkah meninggalkan Caka dan terus menghubungi Jennie, meski panggilannya tak pernah terhubung.


Jen, jangan membuatku takut. Maafkan aku kalau aku keterlaluan.


Ketika pria itu sampai di lantai bawah, Aneeq langsung berlari ke meja resepsionis. Karena ia sama sekali tak memiliki petunjuk di mana keberadaan Jennie. Bahkan saking buntunya ia tidak berpikir untuk mengecek CCTV.


"Kalian tahu di mana Jennie? Apa kalian melihatnya?" tanya Aneeq tidak sabaran.


"Nona Jennie pergi sekitar setengah jam yang lalu, Tuan, memangnya dia tidak menghubungi anda?"


Kedua mata Aneeq langsung membola. "Apa dia bilang pada kalian dia mau pergi ke mana?"


"Tidak, Tuan. Tapi Nona Jennie pergi setelah kedatangan Nyonya Besar Zoya."


Mendengar nama Zoya, jantung Aneeq seperti berhenti berdetak. Bahunya tiba-tiba merosot, dengan tulang yang terasa lemas semua. "Mommy? Jennie bertemu Mommy? Mommy tidak bicara macam-macam, 'kan?"


"Ck, sial!"


*


*


*

__ADS_1


Gue umpetin nih di ketek🙄


__ADS_2