
Mulai malam itu Jennie dan Ziel menempati apartemen milik Aneeq, Jennie berusaha untuk patuh pada semua ucapan pria tampan itu, karena nyatanya di semua keadaan, hanya pria itulah yang melindungi dirinya dan juga sang putra.
Tak hanya nyaman, di sana dijamin pula keamanannya, ada beberapa bodyguard yang berjaga sesuai dengan perintah Aneeq. Sementara pria tampan itu pulang ke rumah.
Pukul delapan malam, Aneeq sampai di mansion keluarga Tan. Begitu dia masuk, ternyata anggota keluarganya baru saja menyelesaikan makan malam.
Aneeq sudah merasa was-was, takut kalau dirinya akan dimarahi sang ibu, seperti malam itu. Namun, semua rasa cemas itu sedikit demi sedikit hilang, saat melihat Zoya justru bersikap tenang saat dia datang.
"Mom, Dad," panggilnya, lalu melenggang ke arah Zoya untuk menyalimi tangan wanita itu, tak lupa juga sang ayah yang berada di sampingnya.
Zoya tersenyum, tetapi entah kenapa Aneeq merasa ada yang lain dari senyum itu.
"Sudah makan, An?" tanya Zoya, setelah menandaskan satu gelas air putih yang ada di samping tangannya.
"Sudah, Mom," jawab Aneeq dengan tersenyum kikuk. Ditanya seperti itu saja, ludahnya langsung terasa tercekat di tengah tenggorokan.
Semua pasang melirik Aneeq. Namun, tidak ada yang bertanya, mereka fokus pada diri masing-masing. Sementara Aneeq berdiri seperti orang bodoh. Hendak melangkah ke kamar rasanya salah, berdiri di sana juga salah.
"Kenapa pulang terlambat? Banyak kerjaan?" tanya Zoya lagi, wajahnya sih terlihat santai, tetapi tatapan ibu beranak lima itu terasa menusuk. Aneeq mengangguk ragu, tak dipungkiri tangannya sudah berkeringat dingin.
"Iya, Mom. Ada banyak dokumen yang harus An kerjakan," jawabnya bohong.
__ADS_1
Zoya tampak manggut-manggut. Sementara Ken bangkit dari kursinya, dia meraih satu pipi Zoya, lalu melabuhkan kecupan singkat di bibir wanita itu. "Baby, aku ke ruang kerja dulu. Kalau sudah mau tidur panggil aku."
Ken melangkah meninggalkan meja makan setelah mendapat izin dari Zoya, berupa anggukan lengkap dengan senyuman. Sedangkan Aneeq terus terpaku di sana, tidak tahu harus melakukan apa.
"Ya sudah? Apa yang kamu tunggu, An? Mandi sana, habis itu istirahat, Mommy lihat kamu kelelahan. Kamu terlalu bekerja keras yah?" tanya Zoya, lalu dia membantu para asisten rumah tangga untuk membereskan meja makan.
Entah kenapa dia merasa ada yang aneh dari kata-kata ibunya. Akan tetapi apa maksud itu semua? Aneeq tak menjawab, dia hanya bisa meneguk ludahnya, memperhatikan saudara kembarnya yang membubarkan diri, untuk pergi ke kamar masing-masing.
Dan akhirnya Aneeq mengangguk, dia ikut naik ke atas bersama Bee. Sementara Zoya memperhatikan itu dengan geleng-geleng kepala.
***
Di tempat lain, di malam yang sama. Ada tiga orang memakai pakaian serba hitam, lengkap dengan penutup kepala, untuk menyembunyikan identitas mereka.
Namun, sedari tadi mereka mengintai, tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Mereka beberapa kali mengintip, tetapi ruangan itu selalu gelap, dan terasa sangat sunyi, benar-benar tidak ada yang bisa mereka lihat.
"Bagaimana ini? Apa kita coba masuk? Kata Bos, mereka tinggal di sini? Tapi kenapa terlihat sepi?" tanya salah satu dari mereka pada dua rekannya. Kedua orang yang diajak bicara langsung mengangguk membenarkan.
"Apa mungkin salah alamat?"
"Tidak mungkin! Ini coba kalian lihat, alamatnya sama. Kita coba menyusup saja lewat jendela," usulnya lagi, dan langsung disetujui. Mereka akhirnya menggunakan akal untuk menyusup lewat jendela yang dicongkel menggunakan alat yang mereka bawa.
__ADS_1
Dua di antaranya masuk, sementara yang satu menunggu di luar, melihat situasi takut ada warga yang melihat aksi kejahatan mereka.
Lampu di ruang tengah dinyalakan, mereka mulai menyusuri rumah yang sudah kosong dari perabotan itu. Mereka sudah mulai curiga, tetapi untuk memastikannya, masing-masing membuka satu kamar. Hingga yang mereka dapatkan adalah sebuah kekecewaan.
"Sial, sepertinya mereka sudah pindah!"
Yang satu keluar dari kamar, dia melapor bahwa tidak ada siapa-siapa. Sudah dipastikan orang yang mereka cari sudah tidak lagi tinggal di sini.
Akhirnya salah satu dari mereka menghubungi sang Bos. Tak butuh waktu lama, panggilan itu langsung diterima. "Halo, Bos. Kami mau melapor bahwa mereka sudah tidak ada di sini."
"Apa maksudmu?" sentak pria yang ada di ujung sana.
"Mereka sudah pindah, Bos."
Mendengar itu, pria itu langsung memicingkan mata. Lalu meremass ponselnya. "Sialan! Aneeq Conda. Ya, pasti pria itu yang membawa Jennie! Argh, benar-benar sial!"
*
*
*
__ADS_1
Yeh Mike Mouse betingkah🤣🤣🤣